Aku Ingin Duduk Sendiri di Malam yang Hening

salat malam,  Duduk Sendiri, Malam yang Hening, 
*) Oleh : Nurkhan
Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurjo Panceng Gresik
www.majelistabligh.id -

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening…
saat dunia perlahan terlelap, dan suara-suara kehidupan mulai mereda.

Di waktu itu, tidak ada hiruk pikuk, tidak ada tuntutan,
tidak ada riuhnya penilaian manusia. Yang tersisa hanyalah aku… dan Tuhanku.

Malam menjadi saksi,
betapa hati ini sebenarnya lelah bukan karena banyaknya pekerjaan,
tetapi karena jauhnya diri dari ketenangan yang sejati.

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk kembali.
Kembali kepada Dia yang selama ini terlalu sering aku tinggalkan dalam kesibukan.

Di antara dinginnya malam,
aku mencoba menghangatkan hati dengan mengingat-Nya. Aku sadar, betapa sering aku kuat di hadapan manusia, namun rapuh di hadapan ujian. Betapa sering aku tampak tegar, padahal dalam diam, aku hampir runtuh.

Malam ini… aku ingin mengakui semuanya.

Bahwa aku lemah, ya Allah.
Bahwa aku sering lalai.
Bahwa aku masih jauh dari hamba yang Engkau ridhoi.

Dalam keheningan ini, aku teringat firman Allah; “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Ayat itu seperti panggilan lembut yang selama ini sering aku abaikan. Seolah Allah berkata, “Datanglah di saat manusia terlelap,
Aku menunggumu…”

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening, lalu berdiri perlahan untuk sholat tahajjud, meski mata masih berat, meski tubuh ingin tetap terbaring.

Karena aku tahu, di saat itulah pintu langit terbuka.

Rasulullah SAW bersabda:

Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits itu menggugah hatiku…

Betapa selama ini aku sibuk mencari jawaban ke sana kemari, padahal Allah sendiri memanggilku di malam hari.

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening, lalu menangis tanpa malu, mengadukan semua luka yang tak pernah sempat terucap.

Tentang kegagalan yang kupendam, tentang harapan yang belum terwujud, tentang rasa takut yang sering aku sembunyikan.

Di hadapan Allah, tidak perlu berpura-pura kuat. Tidak perlu terlihat sempurna.

Karena justru dalam kelemahan itulah, rahmat-Nya turun tanpa batas.

Allah berfirman:

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.(QS. As-Sajdah: 16)

Ayat itu seakan menggambarkan orang-orang yang bangkit di malam hari, meninggalkan kenyamanan, demi mencari kedekatan dengan Rabb-nya.

Aku ingin menjadi bagian dari mereka…, meski belum sempurna. Malam ini, aku ingin belajar ikhlas. Belajar sabar.

Belajar percaya bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana terbaik-Nya.

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening, lalu menyadari…

bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki,
tetapi seberapa dekat kita dengan Allah.

Bahwa kebahagiaan bukan pada dunia yang luas, tetapi pada hati yang tenang.

Dan ketenangan itu… seringkali hadir di sepertiga malam,
saat air mata jatuh dalam sujud panjang.

Ya Allah…
jika malam ini aku Engkau bangunkan,
jangan biarkan aku kembali tertidur tanpa menghadap-Mu.

Jika malam ini aku masih Engkau beri kesempatan, izinkan aku memperbaiki hubungan yang telah lama renggang ini.

Aku ingin duduk sendiri di malam yang hening, bukan lagi dalam kesepian, tetapi dalam kedekatan dengan-Mu.

Karena aku tahu,
di antara gelapnya malam,
ada cahaya yang hanya Engkau berikan kepada mereka yang mau datang… dan tahajjud. ###

 

 

Tinggalkan Balasan

Search