Lantunan takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang syahdu, memecah keheningan pagi di halaman SMP Muhammadiyah 6, Teluk Tiram, Banjarmasin. Ratusan jemaah dengan khusyuk memadati saf-saf yang tertata rapi untuk melaksanakan ibadah Salat Iduladha 10 Dzulhijjah 1447 H yang diselenggarkan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarmasih 12.
Suasana penuh keimanan dan keselamatan begitu terasa, menyatukan hati umat dalam balutan rasa syukur yang mendalam. Dalam khotbahnya yang bertajuk “Belajar dari Pengorbanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail”, Khatib Ustaz Hamdani, A.Md mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk melakukan refleksi mendalam mengenai arti sebuah kesetiaan dan ketakwaan di era modern.
Dengan suara yang bergetar penuh penjiwaan, Ustaz Hamdani mengupas kisah pilar keluarga agung: Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS. Ia juga mengingatkan, ujian terberat Nabi Ibrahim yang telah menanti buah hati berpuluh tahun lalu diperintahkan untuk menyembelihnya adalah potret puncak ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
“Bagi Ibrahim, anak itu bukan sekadar orang yang akan melanjutkan keturunan atau mewarisi harta. Yang terpenting, anak harus mampu mewarisi iman dan agama,” tegasnya di hadapan jemaah.
Ust Hamdani juga menyentil fenomena masa kini dengan kalimat yang lugas dan menohok. Orang tua zaman sekarang sering kali lebih cemas memikirkan warisan materi, seperti kebun sawit, kebun getah, perdagangan, atau deposito di bank.
“Kita boleh bangga memiliki anak yang kaya atau sarjana. Namun, apakah sesudah kematian kita nanti, anak-anak itu masih rukuk dan sujud kepada Allah? Ini yang harus direnumgkan dari lubuk hati yang terdalam,” lanjutnya.
Khotbah Iduladha kali ini juga menjadi refleksi sosial yang tajam. Ustaz Hamdani menyoroti bagaimana keteladanan Nabi Ibrahim sebagai pemimpin sejati yang menganggap kepemimpinan sebagai amanah dan pengorbanan, namun kini telah banyak dilupakan.
“Hari ini orang justru bersaing dan berebut jabatan. Akhirnya, jabatan sering kali bukan lagi pengorbanan, akan tetapi alat untuk mencari korban demi kepentingan pribadi,” ujarnya.
Tak lupa, khatib merangkul para generasi muda dengan menjadikan Nabi Ismail AS sebagai figur idola (role model). Di tengah maraknya jeratan narkoba dan pergaulan bebas, remaja ditantang untuk memiliki keteguhan iman seperti Ismail yang rela mengorbankan jiwa demi ketaatan, bukan malah mengorbankan masa depan karena kemaksiatan.
Pelaksanaan ibadah yang berjalan dengan sangat tertib dan khidmat ini tidak lepas dari kesiapan pihak penyelenggara. Ketua Panitia Penyelenggara sekaligus Ketua Masjid Adz Dzakirin, Marjono, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas antusiasme serta kekhusyukan warga yang hadir di halaman SMP Muhammadiyah 6 ini.
“Alhamdulillah, pelaksanaan shalat Idul Adha tahun ini berjalan dengan lancar dan penuh khidmat,” ujar Marjono saat ditemui di lokasi.
Melalui momentum Iduladha kali ini, halaman sekolah tidak sekadar menjadi tempat sujud massal, melainkan bertransformasi menjadi madrasah kehidupan; tempat umat kembali belajar tentang arti keikhlasan, kejujuran dalam perniagaan, keteguhan mendidik keluarga, dan kerelaan berkorban demi kejayaan agama, bangsa, dan negara. (arif poliban)
