Antara Gula dan Rokok, Bahaya Mana?

Antara Gula dan Rokok, Bahaya Mana?
*) Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt
Direktur ComBAT (Community of Bioethic & Anti Tobacco), Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
www.majelistabligh.id -

Dalam perdebatan mengenai gaya hidup sehat, sering muncul pertanyaan perbandingan antara konsumsi gula dan merokok.
Keduanya sering disebut sebagai “musuh” kesehatan, namun jika kita membedah lebih dalam, terdapat perbedaan mendasar antara kebutuhan fisiologis dan perilaku berisiko tinggi.

Gula: Kebutuhan yang Menjadi Bumerang

Secara biologis, tubuh kita membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama.
Gula bukanlah racun dalam bentuknya yang murni, melainkan bahan bakar yang diperlukan untuk beraktivitas.
Masalah muncul ketika konsumsi gula melampaui batas toleransi tubuh—yaitu maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari.
Saat kita mengonsumsi gula secara berlebihan dan terus-menerus, ia berubah menjadi ancaman kronis yang memicu obesitas, diabetes tipe 2, perlemakan hati, hingga kerusakan gigi.
Jadi, gula bersifat toksik “hanya jika” dikonsumsi di luar takaran yang dibutuhkan.
Kabar baiknya, dampak buruk ini masih bisa dikendalikan melalui pengaturan pola makan dan pembatasan asupan harian.

Rokok: Ancaman Mutlak Tanpa Batas Aman

Berbeda dengan gula, rokok berada pada kategori yang sama sekali berbeda.
Hingga saat ini, belum ditemukan manfaat kesehatan dari merokok selain efek kecanduan.
Bagi warga Muhammadiyah, posisi mengenai rokok sangatlah tegas, yang dirumuskan melalui tiga pendekatan oleh Majelis Tarjih:

“Bayani (Tekstual):” Penekanan pada hukum agama, di mana keputusan Majelis Tarjih tahun 2010 telah menetapkan hukum “haram” bagi rokok.

“Burhani (Ilmu Pengetahuan):”
Fakta medis yang jelas terpampang pada setiap bungkus rokok mengenai kandungan ribuan racun kimia (nikotin, tar, karbon monoksida) yang merusak sel tubuh dalam hitungan menit.

“‘Urfi (Dampak Lingkungan):” Pengakuan atas dampak sosial dan kesehatan bagi orang di sekitar, termasuk perokok pasif yang ikut terancam nyawanya.

Secara absolut, rokok jauh lebih berbahaya karena tidak ada kadar aman untuk menghirup asapnya.
Bahayanya bersifat instan, kumulatif, dan merusak hampir seluruh organ tubuh manusia.

Panduan Bijak untuk Keluarga

Sebagai langkah nyata, bagi keluarga, khususnya warga Muhammadiyah, sikap yang harus diambil adalah:

1. Terkait Rokok:
Mari ajak keluarga untuk menjauhinya sepenuhnya. Mengingat tidak ada “manfaat medis” dan sudah ada ketetapan “hukum agama” yang jelas, berhenti merokok adalah langkah terbaik untuk melindungi tubuh dan masa depan keluarga.

2. Terkait Gula: Lakukan pendekatan yang berbeda.
Gula tidak diharamkan, namun harus dikelola dengan bijak.
Konsumsilah secukupnya dan jangan berlebihan. Kunci utamanya adalah disiplin dalam takaran agar energi yang didapat tetap bermanfaat, bukan justru merusak tubuh di masa depan.

Memilih untuk membatasi gula adalah bentuk manajemen pola hidup yang sehat, sedangkan memilih untuk berhenti merokok adalah keputusan mutlak demi ketaatan beragama dan keselamatan nyawa. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search