Mahasiswa KKN UMSURA Tawarkan Solusi Atasi Limbah Pemotongan Ayam di Desa Sidowungu

Mahasiswa KKN UMSURA Tawarkan Solusi Atasi Limbah Pemotongan Ayam di Desa Sidowungu
www.majelistabligh.id -

#Hadirkan Biosmart Grease Trap with Smart Alert Monitoring System 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar sosialisasi Teknologi Tepat Guna (TTG) Biosmart Grease Trap with Smart Alert Monitoring System di Balai Desa Sidowungu Menganti Gresik, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan memperkenalkan inovasi teknologi sederhana namun aplikatif dalam pengelolaan limbah hasil pemotongan ayam.

Sosialisasi ini dihadiri oleh perangkat desa, pelaku usaha pemotongan ayam, masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan limbah yang baik sekaligus mengenal penerapan teknologi tepat guna yang dapat diimplementasikan secara mandiri di lingkungan desa.

Perwakilan Pemerintah Desa Sidowungu mengakui persoalan limbah hasil pemotongan ayam masih menjadi tantangan di beberapa wilayah karena apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bau tidak sedap, mencemari saluran air, serta mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat.

“Oleh karena itu, pemerintah desa menyambut baik adanya inovasi teknologi yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN sebagai alternatif solusi yang mudah diterapkan, ekonomis, dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Pada sesi inti, 3 perwakilan mahasiswa KKN memperkenalkan Biosmart Grease Trap with Smart Alert Monitoring System sebagai inovasi pengolahan limbah cair yang dirancang khusus untuk menangani limbah dari aktivitas pemotongan ayam.

Menurut perwakilan mahasiswa Muhammad Rizam Arzaqi Robby, alat ini menggabungkan sistem penyaringan bertingkat dengan teknologi pemantauan kualitas air berbasis sensor sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat filtrasi, tetapi juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi air hasil penyaringan secara langsung.

“Teknologi ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan, efisiensi biaya, serta kemampuan untuk diterapkan pada skala rumah tangga maupun usaha kecil di desa,” jelasnya.

Adapun konstruksi Biosmart Grease Trap yang menggunakan dua buah drum horizontal sebagai media utama penyaringan. Drum pertama berfungsi sebagai tempat penyaringan awal, sedangkan drum kedua berfungsi sebagai penyaringan lanjutan sekaligus tempat pemasangan sistem pemantauan kualitas air.

Kedua drum dihubungkan menggunakan saluran galvalum berlubang yang berfungsi mengalirkan air sekaligus menyaring partikel-partikel berukuran lebih kecil sebelum memasuki tahap filtrasi berikutnya. Desain horizontal dipilih agar proses pemisahan limbah berlangsung secara optimal dengan memanfaatkan gaya gravitasi sehingga sistem utama dapat bekerja tanpa memerlukan konsumsi listrik.

Untuk tahapan operasional, lanjutnya, limbah cair hasil pemotongan ayam dialirkan menuju Drum 1 melalui saluran masuk (inlet). Di dalam drum ini terdapat waring hijau atau jaring nelayan yang berfungsi menyaring limbah padat seperti bulu ayam, sisa daging, gumpalan darah, serta lemak berukuran besar.

“Jadi penyaringan awal ini bertujuan mengurangi beban kerja media filtrasi pada tahap berikutnya sehingga umur media filter menjadi lebih panjang dan proses penyaringan berlangsung lebih efektif,” tambahnya.

Salah satu inovasi utama yang menjadi fokus dalam sosialisasi adalah keberadaan Smart Alert Monitoring System yang dipasang pada Drum 2. Sistem ini memanfaatkan mikrokontroler berbasis Arduino atau perangkat sejenis yang terhubung dengan beberapa sensor untuk memantau kualitas air hasil penyaringan secara real-time.

“Sensor turbidity digunakan untuk mengukur tingkat kekeruhan air, sensor pH berfungsi mengetahui tingkat keasaman atau kebasaan air, sedangkan sensor warna digunakan untuk mendeteksi perubahan warna air hasil filtrasi. Seluruh data dari sensor diproses oleh mikrokontroler dan ditampilkan melalui LCD Display sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi air secara langsung tanpa harus melakukan pengujian laboratorium sederhana,” tambahnya.

Selain tampilan LCD, sistem ini juga dilengkapi dengan LED indikator berwarna hijau, kuning, dan merah sebagai bentuk peringatan visual yang mudah dipahami masyarakat.

Lampu hijau menunjukkan bahwa kualitas air berada dalam kondisi baik, lampu kuning menandakan perlunya perhatian terhadap kondisi media filter, sedangkan lampu merah menjadi indikator bahwa media filtrasi memerlukan pembersihan atau penggantian karena kemampuan penyaringan telah menurun. Dengan adanya sistem ini, proses pemeliharaan alat menjadi lebih mudah karena pengguna dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan perawatan.

Sebagai bagian dari materi sosialisasi, pemateri turut memberikan penjelasan mengenai prosedur perawatan alat. Peserta diingatkan agar memasang media filtrasi sesuai urutan yang telah ditentukan sehingga proses penyaringan dapat berlangsung maksimal. Waring hijau pada Drum 1 harus dibersihkan secara berkala dari sisa lemak, bulu, maupun kotoran kasar agar tidak menghambat aliran air.

Media filtrasi di dalam Drum 2 juga perlu dibersihkan atau diganti apabila indikator merah menyala atau ketika kemampuan penyaringan mulai menurun. Selain itu, seluruh sambungan pipa dan drum perlu diperiksa secara rutin untuk memastikan tidak terjadi kebocoran yang dapat mengurangi efektivitas sistem.

Sesi diskusi juga berjalan cukup interaktif.  Sekretaris PCM Menganti Suroso, menanyakan relevansi produk Biossmart Grease Trap terhadap limbah pemotongan ayam di Sidowungu.

Menurut salah satu mahasiswa,  TTG yang ia kenalkan merupakan konsep awal filtrasi limbah ayam.  PIhaknya membuat BioSmart Grease Trap ini dengan drum kecil, agar mudah disimulasikan di hadapan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.

“Selanjutnya, monggo barangkali dari warga Desa Sidowungu mau membuat produk serupa dengan drum yang lebih besar, sesuai dengan kebutuhan limbah pemotongan ayam,” tutur salah satu perwakilan mahasiswa KKN.

Sementara itu Kepala Dusun Sidowungu Rosyidin menyampaikan, jauh sebelum mahasiswa KKN, ada  ada LSM dari Swedia yang membuat produk serupa, tapi tidak ada sensornya.

Produk tersebut sangat mirip dengan apa yang kalian buat saat ini. Namun bedanya, produk itu lebih besar dari punya kalian, kurang lebih sebesar Septic Tank. Yah, bagaimanapun, semua pada akhirnya kembali pada kesadaran warga terkait pengolahan limbah tersebut, jelas Rosyidin, yang diamini oleh beberapa warga juga.

Dengan terselenggaranya kegiatan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat Desa Sidowungu memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara bertanggung jawab serta mampu menerapkan inovasi Biosmart Grease Trap sebagai solusi yang efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah pemotongan ayam. Kegiatan ini juga menjadi bukti sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung terciptanya desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (hakim akbar al muzakki)

 

Tinggalkan Balasan

Search