Antara Masjid dan Rumah Sakit

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Renungan mendalam tentang fase lansia, di mana fokus hidup beralih dari pencapaian duniawi menjadi persiapan spiritual (pulang ke Yang Maha Kuasa). Hidup menjadi lebih terang karena tujuan akhir lebih jelas, dengan aktivitas yang semakin terbatas dan berpusat antara meningkatkan ibadah (masjid) dan menjaga kesehatan (rumah sakit).

Masjid dan Rumah Sakit, dua tempat paling relevan, menggambarkan keseimbangan antara mempersiapkan jiwa (ibadah) dan merawat raga. Ini adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, meningkatkan kualitas iman, dan menerima kodrat usia dengan tenang.

Langkah di masa tua tak lagi panjang, tapi justru di situlah arah menjadi terang. Bukan lagi soal ke mana kaki melangkah, melainkan ke mana jiwa akan pulang.

Di antara dua tempat yg kian akrab: masjid dan rumah sakit.

  • Masjid adalah panggilan yg lembut. Rumah sakit adalah panggilan yg tak bisa ditunda.
  • Di masjid, manusia masih punya pilihan untuk datang. Di rumah sakit, sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan.
  • Sajadah mengajarkan tunduk sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri. Ranjang perawatan mengajarkan pasrah ketika semua daya telah ditarik pergi.

Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang: ruang ibadah dan ruang perawatan. Namun sesungguhnya, yang diuji bukan tubuh, melainkan kesadaran.

Kesadaran untuk memahami:

  • bahwa waktu yg dulu terasa panjang, kini terasa singkat.
  • bahwa kesempatan yg dulu diabaikan, kini terasa mahal.

Masa tua bukan sekadar fase menua, tetapi fase pembuktian apa yg dulu ditanam, kini dituai tanpa bisa ditawar.

Jika masa muda dipenuhi ambisi dunia, maka masa tua sering dihantui kegelisahan. Namun jika masa muda disirami iman, maka masa lansia menjelma menjadi taman, meski tubuh mulai rapuh.

Ada yg tetap melangkah ke masjid dengan kaki gemetar karena hatinya sudah terbiasa pulang ke sana. Ada yg terbaring di rumah sakit, namun lisannya tetap basah oleh zikir, karena hatinya tak pernah jauh dari Tuhan.

Di titik ini, perbedaan fisik menjadi tidak lagi penting. Yang menentukan hanyalah kebiasaan jiwa. Sebab pada akhirnya, masjid dan rumah sakit bukanlah dua dunia yg bertolak belakang, melainkan dua pintu menuju satu tujuan yg sama: pulang.

Hanya saja, yang satu dipanggil dengan kesadaran, yang satu lagi sering didatangkan dengan peringatan.

Maka pesan yang tersisa sederhana, tapi sering diabaikan :

Jangan tunggu sakit untuk mengingat. Jangan tunggu lemah untuk bersujud. Karena ketika tubuh masih kuat, itu bukan sekadar kesehatan, itu adalah undangan. Dan ketika tubuh mulai terbaring, itu bukan sekadar ujian, itu adalah teguran.

Masjid memanggil sebelum kita benar-benar dipanggil. Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan. Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata namun menentukan segalanya: kesadaran.

Dan waktum, tidak pernah menunggu kesadaran itu tumbuh.

Wa man nu’ammirhu nunakkishu fil-khalq

(وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ) Surah Yasin ayat 68.

Ayat ini menegaskan siklus hidup manusia, di mana mereka yang dipanjangkan umurnya akan dikembalikan ke keadaan lemah (pikun/seperti bayi) setelah masa kuat, sebagai pengingat akan kekuasaan Allah dan kefanaan dunia.  Ayat ini menafsirkan bahwa manusia mengalami fase pertumbuhan, kekuatan, dan pada akhirnya penurunan (penyusutan fisik dan mental) saat tua.

Kata nu’ammir yang seakar dengan kata umur memiliki arti at-tathwil fil umur, yakni memanjangkan umur. Sementara kata nunakkis yang berasal dari kata tankis berarti membalikkan sesuatu dari atas ke bawah. Mengesankan bahwa orang yang berumur seperti terbalik penciptaannya. Fisik yang kuat akan kembali lemah. Ilmu dan ingatan akan mulai memudar.

Menurut Ar-Razi, ayat di atas turun berkaitan dengan ucapan orang kafir, “Kami menempati dunia hanya sebentar. Andaikan Engkau memanjangkan umur kami, maka Engkau tidak akan mendapati kekurangan pada diri kami.”

Maka melalui ayat tersebut Allah seakan-akan hendak mengatakan, “Apakah kamu tidak memikirkan bahwa ketika memasuki lanjut usia, kamu akan melemah. Kami telah memanjangkan umurmu yang memungkinkanmu untuk memahami kebenaran, namun kamu telah menyianyiakannya.”

Umur yang panjang memang seyogianya digunakan untuk berpikir lebih matang tentang makna kehidupan. Dalam QS. Fatir: 37 Allah Swt berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

“Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?”

Adapun menurut Quraish Shihab, QS. Yasin: 68 berkaitan dengan pernyataan dua ayat sebelumnya, bahwa bukti kuasa Allah dalam membutakan dan mengubah tampilan manusia itu dapat dilihat ketika ia menua. Ketika masih bayi, fisiknya lemah dan tidak mengetahui apa-apa. Kemudian hari demi hari fisiknya semakin kuat dan pengetahuannya semakin bertambah. Lalu ketika mulai menua, ia menjadi pikun, lemah dan butuh bantuan banyak orang selayaknya sedia kala.

Sejalan dengan hal tersebut, Allah Swt berfirman dalam QS. Ar-Rum: 54:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Dialah Allah yang menciptakanmu dari keadaan lemah. Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Melalui fenomena tersebut, Surah Yasin ayat 68 di atas hendak mengajak manusia berpikir bahwa Allah Swt berkuasa mengubah keadaannya. Menusia tidak kuasa menghindari penuaan. Juga mengajak berpikir bahwa kehidupan dunia ini fana serta satu-satunya sandaran yang kuat, langgeng, lagi abadi hanyalah Allah Swt.

Wahbah Az-Zuhaili mengatakan bahwa Allah Swt memperingatkan manusia supaya jangan sampai menyianyiakan masa muda dan umur. Masa muda dan umur yang telah dilalui tidak akan pernah kembali barang sedetikpun, sehingga tidak berlebihan kalau dikatakan waktu adalah modal manusia yang paling berharga.

Hamka menambahkan, bahwa umur yang panjang tidak ada nilainya bila tidak diisi dengan amal kebaikan. Dan bahwa salah apabila ada yang menunda beramal sampai masa tuanya, karena ketika telah tua kelak tenaganya akan semakin melemah. Oleh karena itu, hendaklah kita mulai beramal sedari masih muda.

Terkait dengan diksi fil khalq (dalam penciptaan) dalam redaksi ayat, al-Biqa’I berkomentar bahwa penurunan potensi jasmani bersifat mutlak, tidak dengan penurunan potensi ruhani. Artinya, penuaan tidak berpengaruh pada sisi spiritualitas. Bisa saja seseorang semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula ketaatan dan ketakwaannya pada Allah Swt. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search