Sekembalinya dari mabit di Mina, saya dan rombongan satu kloter bercengkerama di lobi hotel. Tiba-tiba seorang menepuk pundak saya: “Pak Haji, setelah pulang nanti ada rencana umrah lagi?” Saya tertegun.
Belum sempat saya menjawab seorang di seberang menimpali: “Iya pak haji, biar kita satu rombongan lagi.” Saya tambah tercenung. Bukan karena tawarannya, tapi karena sapaan yang mengawali pertanyaan itu: Pak Haji.
Sapaan ini sebelumnya tidak pernah saya dengar selama bersama dalam satu kloter. Biasanya, mereka menyapa dengan memanggil nama yang diawali kata ‘pak’ atau ‘bapak’. Namun saat ini, setelah menunaikan seluruh rangkaian ibadah, mendadak sapaan kepada saya didahului kata ‘haji’.
Menariknya, mereka yang satu kloter dengan saya bukan orang kampung yang butuh pengakuan atas ibadah yang berbiaya tinggi, melainkan orang-orang kota dengan tingkat pendidikan tinggi dan strata sosial yang sudah mapan.
Saat itu saya hanya tersenyum. Namun di dalam hati muncul keganjilan yang sulit dijelaskan. Sapaan itu terdengar luar biasa, bahkan penuh penghormatan. Ternyata, di lingkungan urban pun, “gelar” ini tetap memiliki daya pikat yang susah untuk ditolak.
Bagi saya terasa asing penyematan gelar seperti itu. Sesuatu yang sebelumnya tidak saya dapatkan saat berwukuf di Arafah, tidak pula saya miliki ketika berdesakan di Mina. Di sana, kami semua dipanggil dengan satu identitas yang sama: hamba Allah.
Fenomena ini membuat saya berpikir, apakah gelar ‘haji’ sudah menjadi simbol status sosial baru? Apakah kita lebih mengutamakan pengakuan orang lain daripada pengakuan Allah?
Tampaknya, gelar ini seolah menjadi ultimate achievement—sebuah legitimasi moral yang melengkapi kesuksesan materi. Ada anggapan bahwa mendapatkan sapaan ‘haji’ merupakan puncak aktualisasi diri. Namun tanpa disadari, dari sinilah ibadah haji berisiko tergelincir dari perjalanan ruhani menjadi sekadar perjalanan pengakuan diri.
Padahal, jika kita jujur merefleksikan prosesi di Arafah hingga Mina, tak ada atribut yang tersisa. Kita semua setara dalam balutan kain ihram yang putih polos—tanpa saku, tanpa tanda pangkat, dan tanpa segala embel-embel duniawi.
Tentunya sangat ironis jika setelah kita menanggalkan urusan dunia di Tanah Suci, kita justru memungutnya kembali dalam bentuk “empat huruf” di depan nama saat hendak pulang.
Seharusnya, fokus kita adalah proses spiritual menuju puncak pengharapan kelak di akhirat, bukan pada legalitas gelar dari manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga” (HR. Bukhari dan Muslim).
Harapan sepulang dari Tanah Suci bukanlah pada seberapa sering tetangga memanggil kita “Pak Haji”. Tapi bagaimana pesan Rasulullah dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Haji yang mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, lebih berempati terhadap kemiskinan, dan lebih teduh dalam bertutur kata.
Sikap dan perilakunya harus menjadi teladan di lingkungan masing-masing. Gelar ‘haji’ yang sesungguhnya bukan tercantum di lembaran dokumen kependudukan, melainkan terpancar dari perilaku diri kita.
Apa yang sebenarnya engkau cari, wahai tamu Allah? Jika sekadar ingin pengakuan manusia, kita pasti akan lelah menjaga citra itu.
Namun jika yang dicari adalah rida-Nya, maka sepulangnya ke kampung halaman, biarlah perubahan kualitas diri dan kemanfaatan bagi sesama sebagai pembuktian. Kita benar-benar pulang dari rumah Allah, bukan sekadar pulang membawa gelar. (*)
