Kaya Raya Tapi Takut Mati: Diagnosa Pedas Abu Hazim atas Penyakit Kronis Penguasa

Kaya Raya Tapi Takut Mati: Diagnosa Pedas Abu Hazim atas Penyakit Kronis Penguasa
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Pada puncak kejayaan Bani Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik (berkuasa 715–717 M) adalah definisi dari kekuasaan absolut dan kekayaan tak terbatas. Namun, di balik istana Damaskus yang megah, sang Khalifah dihantui oleh kecemasan eksistensial yang mengerikan: ketakutan akan kematian.

Dalam upayanya mencari ketenangan, ia tidak menemukan Sahabat Nabi yang masih hidup, sehingga ia beralih kepada seorang Tabi’in (generasi setelah Sahabat) di Madinah, yaitu Abu Hazim Salamah bin Dinar.¹ Penting untuk dicatat bahwa banyak narasi populer keliru menyebut tokoh ini sebagai Ibn Hazm; sebuah anachronisme sejarah karena Ibn Hazm hidup tiga abad kemudian.²

Pertemuan keduanya bukan sekadar dialog sopan santun, melainkan sebuah konfrontasi spiritual. Sulaiman, yang terbiasa ditaati, mengajukan pertanyaan mendasar: “Wahai Abu Hazim, mengapa kami sangat membenci kematian?” Jawaban Abu Hazim singkat namun menghujam: “Karena kalian telah memakmurkan dunia dan menghancurkan akhirat. Maka kalian takut berpindah dari kemakmuran ke kehancuran.”³

Dalam bahasa aslinya, nasihat itu berbunyi:

«لأَنَّكُمْ عَمَّرْتُمْ دُنْيَاكُمْ وَأَخْرَبْتُمْ آخِرَتَكُمْ، فَأنْتُمْ تَخَافُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا مِنَ الْعُمْرَانِ إِلَى الْخَرَابِ»⁴

Sulaiman juga sempat berharap pada sebuah “jaminan” atau ramalan tentang nasib akhirnya di surga atau neraka, sebuah permintaan yang sering muncul dari orang-orang yang merasa berkuasa atas takdir orang lain. Namun, Abu Hazim menolak memberikan kepuasan semu tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada yang dapat meramal nasib akhir seseorang selain Allah, dan satu-satunya jalan selamat adalah melalui amal saleh dan pertanggungjawaban yang adil, bukan melalui jabatan.⁵

Ketidakpuasan awal Sulaiman berubah menjadi tangisan dan introspeksi ketika ia menyadari bahwa kekayaannya justru menjadi penghalang baginya untuk menghadapi Tuhan dengan tenang.

Refleksi Kekinian: Paradoks Kemakmuran Modern
Kisah ini bukan sekadar artefak sejarah, melainkan cermin bagi masyarakat modern yang obsesif terhadap akumulasi materi. Di era digital dan kapitalistik lanjut, banyak individu dan pemimpin yang mengalami “kecemasan status”—takut kehilangan harta, jabatan, atau pengakuan sosial.

Seperti Sulaiman, kita sering kali “memakmurkan dunia” (karir, aset, gaya hidup) sambil “mengosongkan akhirat” (spiritualitas, etika, kedamaian batin). Nasihat Abu Hazim mengingatkan bahwa ketakutan akan kematian bukanlah masalah biologis, melainkan masalah spiritual. Solusinya bukan dengan menghindari realitas kematian, tetapi dengan menyeimbangkan ambisi duniawi dengan integritas moral.

Bagi para pemimpin dan publik figur hari ini, pesan ini sangat jelas: kekuasaan dan kekayaan tanpa kesadaran transendental hanyalah jembatan menuju kehancuran psikologis dan spiritual. (*)

¹ Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, ed. Syu’aib al-Arnauth (Beirut: Darussalam, 1414 H), 4: 385.
² W. Montgomery Watt, “Ibn Hazm,” in Encyclopaedia of Islam, 2nd ed., ed. P. Bearman et al. (Leiden: Brill, 2004), http://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-islam-2/ibn-hazm-SIM_3656.
³ Abu Nu’aim al-Isfahani, Hilyatul Awliya’ wa Syihmul Asfiya’ (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1406 H), 3: 250.
⁴ Ibid.
⁵ Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam fi Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah (Kairo: Dar al-Wafa’, 1420 H), 1: 450.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search