Ada Perubahan Iklim dalam Surat Yasin

Ada Perubahan Iklim dalam Surat Yasin
*) Oleh : Prof Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21. Pemanasan global, kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, serta kerusakan ekosistem merupakan fenomena yang tidak lagi menjadi prediksi ilmiah semata, melainkan realitas yang dirasakan hampir di seluruh dunia.

Dalam menghadapi persoalan ini, agama tidak boleh diposisikan hanya sebagai sumber legitimasi moral, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk membangun kesadaran ekologis. Salah satu surat Al-Qur’an yang memberikan perspektif mendalam tentang hubungan manusia dengan alam adalah Surat Yasin.

Surat Yasin sering dikenal sebagai “jantung Al-Qur’an” karena kandungan pesan tauhid, kenabian, dan hari akhir yang sangat kuat. Namun, di balik dimensi spiritual tersebut, Surat Yasin juga mengandung pesan ekologis yang relevan dengan isu perubahan iklim. Alam dalam surat ini tidak hanya dipandang sebagai objek eksploitasi manusia, tetapi sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dibaca, dipahami, dan dijaga.

Allah berfirman:

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati, Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan.” (QS. Yasin: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keseimbangan alam. Tanah yang subur, air yang cukup, dan iklim yang stabil merupakan syarat utama keberlangsungan kehidupan. Ketika perubahan iklim menyebabkan kekeringan berkepanjangan, gagal panen, dan menurunnya produktivitas pertanian, sesungguhnya manusia sedang menyaksikan terganggunya sistem keseimbangan yang telah Allah ciptakan.

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu global telah mengganggu siklus pertanian di berbagai negara. Banyak wilayah mengalami musim yang tidak menentu sehingga mempengaruhi produksi pangan. Dari perspektif Surat Yasin, fenomena tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh merasa sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keberlanjutannya.

Lebih lanjut, Allah berfirman:

Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” (QS. Yasin: 34)

Ayat ini menggambarkan keterhubungan antara tanah, air, tumbuhan, dan kehidupan manusia. Air menjadi elemen fundamental dalam sistem ekologi. Krisis iklim saat ini menunjukkan bagaimana perubahan pola curah hujan dan meningkatnya suhu bumi menyebabkan banyak sumber air mengalami penurunan debit bahkan mengering.

Surat Yasin mengajarkan bahwa keberadaan mata air bukan sekadar fenomena alamiah, tetapi bagian dari rahmat Allah yang harus disyukuri. Syukur dalam konteks ekologis tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata menjaga sumber daya air dari pencemaran dan eksploitasi berlebihan.

Salah satu bagian paling menarik dari Surat Yasin terkait perubahan iklim terdapat pada ayat-ayat yang menjelaskan keteraturan kosmos:

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka seketika mereka berada dalam kegelapan.” (QS. Yasin: 37)

Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yasin: 38)

Dan bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilahnya.” (QS. Yasin: 39)

Ayat-ayat tersebut menggambarkan prinsip keteraturan dan keseimbangan alam semesta. Dalam bahasa modern, keseimbangan itu dapat dipahami sebagai sistem ekologis yang saling terhubung. Ketika satu komponen terganggu, komponen lain juga akan mengalami dampaknya.

Perubahan iklim pada hakikatnya merupakan gangguan terhadap keseimbangan tersebut. Emisi gas rumah kaca yang berlebihan akibat aktivitas manusia telah menyebabkan peningkatan suhu bumi. Akibatnya, siklus alam yang selama ribuan tahun berlangsung relatif stabil mulai mengalami perubahan. Es di kutub mencair, cuaca menjadi ekstrem, dan berbagai spesies kehilangan habitatnya.

Dalam perspektif teologis, fenomena ini menunjukkan bahwa manusia telah melampaui batas dalam memanfaatkan alam. Padahal Al-Qur’an secara tegas mengingatkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Meskipun ayat ini bukan bagian dari Surat Yasin, pesan ekologinya sangat selaras dengan spirit Surat Yasin yang mengajak manusia merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Persoalan perubahan iklim juga berkaitan erat dengan krisis spiritual. Modernisasi sering kali melahirkan pola pikir antroposentris, yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Alam dianggap hanya sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Hutan ditebang, sungai dicemari, dan udara dipenuhi polusi demi memenuhi kebutuhan pembangunan.

Surat Yasin menawarkan paradigma yang berbeda. Alam bukan sekadar benda mati, tetapi bagian dari sistem penciptaan yang tunduk kepada Allah. Setiap unsur alam memiliki fungsi dan perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Oleh karena itu, merusak alam berarti mengabaikan hikmah penciptaan yang telah ditetapkan Tuhan.

Di sinilah pentingnya membangun literasi iklim berbasis nilai-nilai keagamaan. Selama ini isu perubahan iklim sering dipandang sebagai persoalan ilmiah yang hanya menjadi urusan para ahli lingkungan. Padahal dampaknya menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk dimensi sosial, ekonomi, dan moral.

Lembaga pendidikan, pesantren, masjid, dan organisasi keagamaan perlu mengambil peran lebih aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Surat Yasin dapat menjadi fondasi teologis untuk membangun gerakan ekologis yang berkelanjutan. Menanam pohon, menghemat energi, mengurangi sampah plastik, menjaga sumber air, dan mendukung pembangunan berkelanjutan merupakan bentuk implementasi nyata dari ajaran Islam tentang amanah dan tanggung jawab terhadap bumi.

Lebih dari itu, perubahan iklim harus dipandang sebagai momentum untuk melakukan refleksi peradaban. Surat Yasin berulang kali mengajak manusia menggunakan akal untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah. Krisis iklim merupakan salah satu tanda yang menunjukkan bahwa model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tidak lagi memadai. Dunia membutuhkan paradigma baru yang menyeimbangkan antara kemajuan teknologi, kesejahteraan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, pesan ekologis Surat Yasin mengajarkan bahwa bumi bukan warisan nenek moyang yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan amanah yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu moral, spiritual, dan kemanusiaan. Ketika manusia mampu membaca alam sebagai ayat-ayat Allah, maka akan lahir kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bagian dari ibadah.

Di tengah ancaman krisis iklim global, Surat Yasin mengingatkan bahwa alam adalah kitab terbuka yang terus berbicara kepada manusia. Setiap musim yang berubah, setiap sumber air yang mengering, dan setiap bencana ekologis merupakan panggilan untuk kembali kepada prinsip keseimbangan, tanggung jawab, dan rasa syukur. Dengan demikian, upaya menghadapi perubahan iklim bukan hanya agenda ilmiah dan politik, tetapi juga bagian dari pengamalan iman dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama umat manusia. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search