Apa Salah Muhammadiyah?

Apa Salah Muhammadiyah?
*) Oleh : Agus Rosid
Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat, Surabaya
www.majelistabligh.id -

Aksi sekelompok massa yang menggeruduk kantor Cabang Muhammadiyah Karangpenang, Sampang, beberapa waktu lalu kembali menyisakan keprihatinan. Peristiwa ini mengindikasikan masih kuatnya fanatisme dalam membela golongan, tanpa peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah.

Alhamdulillah, insiden tersebut tidak sampai memicu gesekan fisik atau aksi main hakim sendiri. Ketegangan berhasil diredam melalui ikhtiar tabayyun—lewat dialog bersama dan klarifikasi dingin dari pimpinan Muhammadiyah setempat. Namun bagaimanapun, kejadian ini tetap menyisakan trauma serta kecemasan akan potensi terulangnya peristiwa serupa di masa depan.

Ingatan kita mungkin belum sepenuhnya lupa pada kejadian beberapa dekade silam, saat suasana negeri ini masih diliputi euforia politik pasca-tumbangnya rezim Orde Baru. Tanpa ada angin dan hujan, Muhammadiyah yang tidak memiliki hubungan organisatoris dengan partai politik mana pun di parlemen justru terkena getahnya. Imbas dari Sidang Istimewa MPR tanggal 23 Juli 2001 yang memberhentikan pimpinan tertinggi pemerintahan saat itu merembet menjadi sentimen di tingkat bawah.

Secara institusi, memang tidak ada kebijakan dari kelompok mana pun untuk menjadikan Persyarikatan sebagai sasaran. Namun di akar rumput, gejolak politik nasional itu mengakibatkan beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami kerusakan akibat ulah oknum massa yang emosional.

Ternyata, luka lama itu belum benar-benar kering. Hari ini, kita seperti disodori ulang adegan dengan pola yang hampir sama: sebuah insiden yang tersulut oleh kabar burung dan disiram oleh provokasi hoaks di media sosial.

Sangat paradoks tatkala di atas mimbar kita kerap mendengar ajakan untuk mengedepankan persatuan umat. Namun di lapangan, Muhammadiyah malah ditarik-tarik ke dalam pusaran konflik yang sama sekali bukan bagian dari jejak perjuangan Persyarikatan.

Tentu saja, di setiap komunitas mana pun masih banyak orang-orang berakal sehat yang menolak kekerasan. Mereka adalah orang-orang yang memilih memperkuat ukhuwah Islamiyah ketimbang mendahulukan amarah, serta lebih sibuk berlomba dalam kebaikan daripada merecoki urusan saudara seiman. Namun masalahnya, suara jernih mereka sering kali kalah nyaring oleh gertakan oknum yang emosinya melompat jauh melampaui akal sehatnya.

Catatan ini tidak bermaksud membuka kembali aib lama yang meninggalkan jejak trauma fisik maupun mental, melainkan sebuah bentuk refleksi mendalam: apa sebenarnya salah Muhammadiyah?

Jawabannya mungkin terasa pahit: kesalahan Muhammadiyah adalah karena ia istiqamah mengedepankan semangat tajdid—yakni mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah, seraya menjauhkan diri dari takhayul, bidah, dan khurafat. Tidak berhenti di situ, Muhammadiyah juga konsisten membuka ruang bagi ijtihad, pemikiran kritis, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan demi merespons tantangan zaman.

Ketaatan pada garis tajdid inilah yang kerap menempatkan Persyarikatan pada posisi yang tidak nyaman. Ketika banyak pihak memilih zona nyaman dengan mengikut arus tradisi dan merasa cukup dengan warisan masa lalu, Muhammadiyah justru memilih jalan yang berbeda. Walau terjal dan penuh tantangan, jalan itu tetap ditempuh sebagai konsekuensi logis dari sebuah gerakan pembaharuan.

Dalam hal ini, kita perlu bercermin pada keteguhan KH Ahmad Dahlan tatkala awal mendirikan gerakan ini. Sejarah mencatat adanya penolakan keras dari sebagian pihak saat beliau bersama para santrinya melakukan pembaharuan dengan meluruskan arah kiblat di Masjid Kauman.

Tragisnya, peristiwa itu berimbas pada pembakaran langgar yang beliau dirikan hingga rata dengan tanah. Belum lagi peristiwa lainnya berupa ancaman fisik yang harus beliau hadapi usai berdakwah di Banyuwangi.

Apakah rentetan teror itu menyurutkan niat dan tekad beliau untuk mundur dari jalan tajdid? Jawabannya jelas: tidak. Buah dari keteguhan itu bisa kita saksikan hari ini, di mana Muhammadiyah tumbuh pesat dan memberi manfaat di seluruh pelosok tanah air.

Teladan K.H. Ahmad Dahlan itulah yang kini membekas menjadi watak dasar para pejuang Muhammadiyah dari masa ke masa: dakwah yang merangkul, bukan memukul. Ini bukan sekadar slogan manis di atas mimbar, melainkan sikap mental yang menjelma dalam amal nyata.

Tinggalkan Balasan

Search