Di sinilah titik temu dari seluruh ikhtiar tersebut. Semangat tajdid mendorong Muhammadiyah untuk terus bergerak ke depan. Karena ruang ijtihad selalu terbuka, Muhammadiyah tidak pernah alergi pada sains dan modernitas. Rumah sakit didirikan, universitas dibangun, serta pelayanan sosial terus diperluas. Semua itu lahir dari keyakinan bahwa dakwah Islam harus mampu menjawab persoalan riil manusia hari ini, bukan sekadar bernostalgia dengan kisah kemarin.
Persyarikatan ini tidak ingin berhenti pada batasan seremonial atau sekadar simbol identitas. Cara Muhammadiyah merengkuh tempat di hati masyarakat adalah dengan konsisten memberi kemaslahatan melalui amal nyata. Jalan ini memang penuh lika-liku dengan berbagai ujian. Namun selama napas masih dikandung badan dan Al-Qur’an serta Sunnah tetap menjadi rujukan, istiqamah itu tidak akan pernah ditukar.
Pada akhirnya, mungkin tidak ada yang “salah” dengan Muhammadiyah. Yang keliru adalah cara kita beragama dan bermasyarakat yang masih gampang tersulut provokasi, alergi terhadap perbedaan, serta selalu mencari kambing hitam ketika menghadapi masalah.
Peristiwa di Karangpenang Sampang, maupun memori kelam tahun 2001 silam, seharusnya menjadi cermin jernih bagi kita semua. Bukan untuk saling menunjuk dan menyalahkan, melainkan untuk berbenah diri menguatkan ukhuwah.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
