Penolakan terhadap hari kebangkitan pada hakikatnya bukan semata-mata persoalan ketidaktahuan, melainkan juga akibat dari akal yang tidak difungsikan secara benar dalam membaca tanda-tanda kekuasaan Allah. Orang-orang kafir memandang kebangkitan sebagai sesuatu yang mustahil karena mereka hanya melihat manusia dari sudut kelemahan fisiknya: tubuh akan mati, hancur, membusuk, lalu berubah menjadi tanah. Dari cara pandang seperti itu, mereka berkesimpulan bahwa kehidupan setelah kematian adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan nalar.
Padahal, justru bila manusia mau menggunakan pikiran yang sehat, ia akan sampai pada kesimpulan yang sebaliknya: Dzat yang mampu menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar, rumit, dan menakjubkan tentu sangat mudah untuk menghidupkan kembali manusia yang kecil dan lemah.
Pengingkaran Kebangkitan
Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana orang-orang yang mengingkari hari akhir menganggap kembalinya manusia setelah mati sebagai sesuatu yang mustahil. Mereka hanya terhenti pada kenyataan lahiriah bahwa jasad akan hancur dan bercampur dengan tanah. Karena itu mereka menolak kemungkinan adanya kehidupan kedua sesudah kematian. Sikap semacam ini menunjukkan kedangkalan pandangan, sebab mereka menimbang kekuasaan Allah dengan ukuran kemampuan makhluk.
Padahal Allah bukanlah makhluk yang terikat oleh sebab, waktu, dan keterbatasan. Apa yang bagi manusia tampak sulit, bahkan mustahil, bagi Allah adalah perkara yang amat mudah. Pertanyaan merendahakn Allah itu diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَا بًا ۚ ذٰلِكَ رَجْعٌۢ بَعِيْدٌ
“Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi tanah (akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” (QS. Qaf : 3)
Paradigma ini memperlihatkan cara berpikir orang kafir yang rusak oleh kesombongan akal. Mereka bertanya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menolak dan mengejek. Mereka tidak mampu melihat bahwa penciptaan pertama manusia dari ketiadaan saja telah membuktikan kuasa Allah. Jika pada awalnya manusia belum ada lalu diciptakan, maka mengembalikannya setelah mati tentu bukan perkara yang sulit.
Secara logika keimanan, mengulangi sesuatu yang telah pernah diciptakan lebih mudah dipahami daripada menciptakannya dari ketiadaan. Akan tetapi, orang yang menutup hati dan akalnya akan gagal mengambil pelajaran dari realitas yang tampak di hadapannya.
Langit, Bumi, dan Air Hujan
Allah mengarahkan perhatian manusia kepada langit. Langit merupakan ciptaan yang demikian besar, tinggi, luas, dan teratur. Di dalamnya ada matahari yang memberi cahaya dan panas, bulan yang menerangi malam, bintang-bintang yang bertaburan dengan keteraturan yang menakjubkan, serta sistem kosmik yang berjalan tanpa cacat. Tidak ada retak, tidak ada kekacauan, dan tidak ada ketidakteraturan. Semua menunjukkan adanya kekuasaan mutlak, ilmu yang sempurna, dan kehendak yang tidak terbatas. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an berikut :
اَ فَلَمْ يَنْظُرُوْۤا اِلَى السَّمَآءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنٰهَا وَزَ يَّـنّٰهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ
“Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun?” (QS. Qaf : 6)
Teguran Allah atas manusia kerena berani menolak kebangkitan, sementara di atas kepala mereka terbentang bukti kekuasaan Allah yang jauh lebih agung. Bila Allah sanggup membangun langit yang demikian megah tanpa celah sedikit pun, maka membangkitkan manusia setelah kematiannya jelas bukan sesuatu yang mustahil. Justru yang tidak masuk akal adalah ketika seseorang menyaksikan keagungan ciptaan Allah setiap hari, namun tetap meragukan kuasa-Nya atas kebangkitan.
Demikian pula bumi yang dipijak manusia setiap saat merupakan tanda nyata yang semestinya menumbuhkan keyakinan. Bumi dibentangkan dengan keseimbangan yang luar biasa, dipasangi gunung-gunung agar kokoh, lalu ditumbuhkan di atasnya berbagai tanaman yang indah dan bermanfaat. Semua itu tidak terjadi dengan sendirinya. Di balik keteraturan bumi, terdapat kehendak Allah yang mengatur, menakar, dan memelihara seluruh isinya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an :
وَا لْاَ رْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَ لْقَيْنَا فِيْهَا رَوَا سِيَ وَاَ نْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
“Dan bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan di atasnya tanam-tanaman yang indah,” (QS. Qaf : 7)
Allah menurunkan air hujan dari langit. Dari air yang tampak sederhana itu, lahirlah kehidupan: kebun-kebun tumbuh, pepohonan menjadi rindang, dan biji-bijian dapat dipanen. Tanah yang semula kering dan mati menjadi hidup kembali. Fenomena ini sesungguhnya merupakan pelajaran yang sangat dekat tentang kebangkitan. Jika bumi yang mati saja dapat dihidupkan kembali dengan air, maka manusia yang telah mati pun sangat mudah dibangkitkan kembali oleh Allah.
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً مُّبٰـرَكًا فَاَ نْۢبَـتْـنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِ
“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen,” (QS. Qaf : 9)
Semua tanda itu bukan sekadar panorama alam untuk dinikmati, tetapi sarana agar manusia berpikir, merenung, lalu kembali kepada Allah. Kebangkitan bukan sesuatu yang bertentangan dengan akal, justru ia menjadi masuk akal ketika akal tunduk kepada fakta-fakta ciptaan Allah. Yang menolak kebangkitan sesungguhnya bukan karena kekurangan bukti, melainkan karena enggan mengambil pelajaran. Disinilah fungsi akal yang dimanfaatkan untuk tunduk, bukan menyangkal atas kekuasaan Allah. Hal ini dipaparkan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
تَبْصِرَةً وَّذِكْرٰى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ
“untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).“(QS. Qaf : 8)
Surabaya, 23 April 2026
