Di antara ratusan ribu jemaah haji dari seluruh penjuru dunia yang memadati Tanah Suci pada musim haji 2026 (1447 H), ada satu sosok sepuh yang langkah kakinya membuat siapa pun terenyuh. Dia adalah Mbah Marsiyah. Di usianya yang telah menyentuh 104 tahun, nenek asal Kediri, Jawa Timur ini resmi dinobatkan oleh dunia sebagai jemaah haji tertua di jagat raya tahun ini.
Namun, di balik rekor dunia yang disematkan kepadanya, ada kisah tentang keteguhan hati yang luar biasa. Perjalanan Mbah Marsiyah menuju Kakbah adalah tentang tetesan keringat, kesabaran, dan tabungan kaleng dari hasil berjualan bubur tradisional (jenang).
Lahir pada 1 Juli 1921, hari-hari Mbah Marsiyah dihabiskan di depan tungku dan pasar, meracik bubur tradisional demi menyambung hidup. Namun, di sela-sela kepulan asap dapur, ada impian besar yang selalu ia langitkan, menginjakkan kaki di tanah para nabi.
Setiap kali ada sisa keuntungan dari jualan buburnya, Mbah Marsiyah menyisihkannya sekeping demi sekeping. Menariknya, perjuangan ini ia rahasiakan rapat-rapat dari tetangga bahkan kerabat dekatnya. Ia tidak ingin mengumbar janji, melainkan membuktikannya lewat takdir.
“Saya menabung sedikit-sedikit dari jualan jenang. Uangnya saya masukkan ke dalam kaleng lalu saya simpan. Nanti kalau ada kurangnya, anak saya yang menambahkan,” kenang Mbah Marsiyah dengan suara parau namun penuh binar kebahagiaan saat diwawancarai Tim Media Center Haji di Makkah.
Setelah kaleng-kaleng itu penuh dan dirasa cukup, barulah ia menyampaikan niat mulianya kepada keluarga. Berkat ketekunan luar biasa itu, Mbah Marsiyah akhirnya resmi mendaftarkan haji pada tahun 2021 lalu.
Didampingi Putri yang Juga Lansia
Mbah Marsiyah mendarat di Makkah pada Jumat pagi, 22 Mei 2026, tergabung dalam Kloter SUB 112 Embarkasi Surabaya. Menariknya, ia tidak berangkat sendiri. Ia didampingi oleh putri tercintanya, Muidah, yang kini juga sudah tidak muda lagi, yakni berusia 67 tahun. Pemandangan ibu dan anak yang saling menguatkan di usia senja ini menjadi potret paling menyentuh di tengah riuhnya jemaah haji.
Meski untuk mobilitas sehari-hari lebih sering dibantu menggunakan kursi roda, semangat Mbah Marsiyah tidak kalah dengan jemaah yang berusia muda. Sesekali, ia masih bersikeras berjalan perlahan dengan bantuan tongkat kayunya.
Ketika ditanya mengenai kondisi fisiknya menghadapi cuaca dan rangkaian ibadah haji yang berat, Mbah Marsiyah menjawabnya dengan keyakinan polos yang mengagumkan.
“Saya ndak pernah sakit,” ucapnya singkat, menunjukkan kekuatan mental seorang buyut yang tangguh.
“Atiku Marem…”
Kondisi kesehatan Mbah Marsiyah yang prima juga dikonfirmasi oleh Ketua Rombongan Kloter 112, Abiswatun Nadhiroh. Menjelang puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah yang menguras energi, Mbah Marsiyah dinyatakan dalam kondisi fisik dan mental yang sangat baik dan siap menyelesaikan seluruh rukun Islam kelima tersebut.
Bagi Mbah Marsiyah, bisa berada sedekat ini dengan Kakbah setelah menunggu lebih dari satu abad adalah puncak dari segala kebahagiaan hidupnya.
“Alhamdulillah, atiku marem (Alhamdulillah, hatiku sangat lega dan bahagia),” bisik Mbah Marsiyah pelan, sebuah ungkapan syukur mendalam dari seorang penjual bubur yang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah memanggil. || chusnun
