Atraksi Unik Semarakkan Defile Fashmu Jatim di UMLA

Penampilan tim defile Ponorogo dalam Fashmu Jatim 2026. (ist)
www.majelistabligh.id -

Suasana Kampus Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) mendadak dipenuhi riuh tepuk tangan dan warna-warni kreasi budaya pada Sabtu (25/7/2026). Ratusan kafilah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur berkumpul untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam lomba defile Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (Fashmu) tingkat provinsi.

Sejak pagi, deretan peserta sudah bersiap di depan Dome UMLA, menunjukkan identitas daerah masing-masing lewat kostum khas, maskot, hingga yel-yel yang membakar semangat. Membuka parade di urutan pertama, PDM Kota Surabaya tampil menghentak. Dikawal langsung oleh Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya, Imam Sapari, kafilah Kota Pahlawan ini memboyong maskot ikonik Sura dan Baya yang dipadukan dengan yel-yel energik.

Tak kalah mencuri perhatian, kafilah Kabupaten Ponorogo sukses memukau penonton dengan memboyong karakter Bujang Ganong di barisan paling depan. Lengkap dengan topeng dan gerak lincahnya, atraksi ini mengiringi langkah para peserta dari garis start hingga finish.

Atraksi unik di garis start memang menjadi nilai tawar utama dari lomba defile ini. Sebelum dilepas menyusuri rute, setiap kafilah diwajibkan menampilkan koreografi singkat dan yel-yel terbaik mereka di hadapan juri dan penonton.

Penilaian Ketat Berbasis Integritas

Untuk menjamin kualitas dan integritas perlombaan, panitia menerjunkan 6 orang dewan juri yang tersebar secara tersembunyi maupun terbuka di sepanjang rute. Jalur penilaian dibagi menjadi tiga titik krusial, yakni titik start, titik tengah rute, dan garis finish.

Meski sebagian besar peserta tampil memukau, kompetisi ini tetap menuntut konsistensi tinggi. Salah satu anggota dewan juri, Ustaz Furqon Abidin, mengungkapkan bahwa daya tahan dan kerapian barisan di sepanjang rute menjadi tantangan terbesar bagi para peserta.

“Banyak di antara peserta yang tidak konsisten. Mereka tampil sangat bagus dan rapi saat menjelang start, tetapi saat berjalan di tengah rute, barisannya justru banyak yang bubar. Mereka baru menata barisan kembali ketika mendekati garis finish,” ujar Ustaz Furqon.

Padahal, lanjutnya, di tengah rute ini kami juga menempatkan juri yang menilai secara cermat. Jadi konsistensi dari awal sampai akhir itu sangat menentukan.

Melalui penilaian yang ketat dan menyeluruh ini, Fashmu tingkat Jatim tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan dan kreativitas anak sholeh, tetapi juga mengedokasi para peserta tentang pentingnya kedisiplinan, kekompakan, dan kejujuran dalam berkompetisi. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search