Baitul Arqam Tendik Umsida: Bumikan Tauhid dalam Etos Kerja

Nadjih Ihsan, M.Ag. saat memberikan materi dalam Baitul Arqam tendik Umsida. (ist)
www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Nadjih Ihsan, M.Ag., menegaskan bahwa tauhid di lingkungan Muhammadiyah tidak boleh berhenti hanya sebagai keyakinan teologis semata, melainkan harus dibumikan ke dalam etos kerja dan pelayanan profesional.

Hal ini Nadjih Ihsan dalam Baitul Arqam bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), di Hotel Newstart Trawas, Jumat (17/7/2026).

Menurut Nadjih, Muhammadiyah memandang tauhid sebagai fondasi yang menggerakkan seluruh lini kehidupan, mulai dari cara beribadah, mengambil keputusan, hingga bagaimana seseorang memperlakukan sesama manusia.

“Tauhid bukan sekadar meyakini bahwa Allah itu ada, melainkan menjadikan Allah sebagai satu-satunya pusat pengabdian,” ujar Nadjih saat memaparkan materi mengenai hakikat tauhid dan penerapannya bagi tenaga pendidik maupun kependidikan.

Manifestasi Tauhid Melalui Amal Nyata

Merujuk pada Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 36, Nadjih menjelaskan bahwa misi utama para rasul sejak dahulu adalah menegakkan tauhid. Di era modern, gerakan Muhammadiyah menerjemahkan misi tersebut ke dalam bentuk amal usaha yang membawa manfaat konkret bagi masyarakat luas.

Ia mencontohkan bagaimana pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, merombak wajah pendidikan Islam di masa lampau dengan memperkenalkan sistem sekolah berjenjang yang terstruktur dan terevaluasi.

“Warga Muhammadiyah tidak boleh hanya saleh secara ritual (ibadah), tetapi hubungan sosialnya juga harus kuat. Tauhid yang hidup pasti melahirkan kepedulian terhadap persoalan di sekitar kita,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nadjih menghubungkan konsep tauhid dengan gagasan Islam Berkemajuan. Ia menekankan bahwa kemajuan hanya akan lahir jika civitas akademika memiliki keterbukaan terhadap kebenaran, kemauan belajar yang tinggi, serta keberanian melakukan inovasi.

Cara berpikir berkemajuan dicirikan oleh sikap objektif yang tidak menutup diri dari ide-ide baik, sekalipun datang dari kelompok yang berbeda.

“Jangan terjebak pada romantisasi masa lalu atau sekadar mengikuti tradisi tanpa menghadirkan terobosan. Kita harus berpikir visioner untuk 20 hingga 30 tahun ke depan,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Nadjih berpesan agar seluruh tendik Umsida dapat mentransformasikan pekerjaan sehari-hari menjadi ladang ibadah. Manifestasi tauhid di dunia kerja, menurutnya, diukur dari sejauh mana staf menunjukkan integritas, keteladanan, profesionalitas, serta totalitas dalam memberikan pelayanan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search