Konsep Al-Hurriyah dalam Islam: Kebebasan Terikat dan Bertanggung Jawab

Konsep Al-Hurriyah dalam Islam: Kebebasan Terikat dan Bertanggung Jawab
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus telah tiba di seluruh pelosok negeri. Berbagai kegiatan, mulai dari perlombaan rakyat, kerja bakti, hingga malam tirakatan, digelar oleh warga masyarakat dengan penuh sukacita. Semarak ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud rasa syukur yang mendalam atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa serta buah dari perjuangan para pahlawan bangsa.

Dalam sudut pandang keagamaan, momentum ini menjadi ruang refleksi untuk memaknai kembali hakikat kemerdekaan itu sendiri. Dalam ajaran Islam, konsep kebebasan atau kemerdekaan dikenal dengan istilah al-hurriyah (الحرية في الإسلام). Berbeda dengan pandangan kebebasan mutlak (absolute freedom), Islam memandang kebebasan sebagai hak kodrati manusia yang terikat oleh koridor syariat, nilai-nilai moral, serta kemaslahatan umum (al-mashlahah al-‘ammah) guna memuliakan manusia (takrim al-insan).¹

Prinsip Dasar Kebebasan dalam Islam
Prinsip kebebasan dalam hukum dan etika Islam berdiri di atas tiga pijakan utama:
* Pembebasan dari Penghambaan Makhluk (Tahrir al-Insan / تحرير الإنسان): Islam hadir untuk memerdekakan manusia dari segala bentuk perbudakan dan penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah SWT (at-tauhid).²

* Kebebasan yang Bertanggung Jawab (Al-Hurriyah al-Mas’ulah / الحرية المسؤولية): Hak kebebasan individu tidak bersifat merusak. Setiap tindakan bebas dibatasi oleh hak-hak orang lain, norma hukum, serta batasan syariat guna mencegah kemudaratan.³

* Kepatuhan terhadap Keadilan Hukum (Ath-Tha’ah li al-Qanun / الطاعة للقانون): Kebebasan yang sejati berjalan beriringan dengan ketaatan pada hukum. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keadilan dalam hukum Islam menjadi fondasi utama terciptanya ketertiban sosial.⁴

Ruang Lingkup Al-Hurriyah
Ruang lingkup kebebasan dalam Islam mencakup pelbagai dimensi kehidupan:

* Kebebasan Beragama (Hurriyyah al-I’tiqad / حرية الاعتقاد): Setiap individu memiliki hak untuk meyakini agama tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, sebagaimana firman Allah SWT:

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).⁵

* Kebebasan Berpikir (Hurriyyah al-Fikr / حرية الفكر): Islam memberikan ruang seluas-luasnya bagi penggunaan akal sehat (al-‘aql), penuntut ilmu, serta aktivitas ijtihad dalam merespons dinamika zaman.
* Kebebasan Berpendapat (Hurriyyah at-Ta’bir / حرية التعبير): Hak menyampaikan kebenaran, nasihat yang konstruktif, serta kritik sosial kepada masyarakat maupun penguasa berdasarkan prinsip amr ma’ruf nahi munkar.

Kebebasan Ekonomi (Hurriyyah al-Iqtishad / حرية الاقتصاد): Hak individu untuk memiliki harta kekayaan, berbisnis, dan melakukan transaksi keuangan (muamalah) secara halal tanpa praktik riba, penipuan, atau eksploitasi.⁶

Footnotes:

1. Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Vol. 8 (Damasyaq: Dar al-Fikr, 1985), 120–122.
2. Yusuf al-Qaradawi, Al-Khasha’is al-‘Ammah li al-Islam (Kairo: Maktabah Wahbah, 1977), 85–88.
3. Muhammad al-Thahir ibn ‘Ashur, Maqashid ash-Shari’ah al-Islamiyyah (Tunis: Dar al-Sahnoun, 1998), 104.
4. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Umat (Bandung: Mizan, 1996), 180–183.
5. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2019), 42.
6. Redaksi Jurnal, “Kebebasan dan Kemaslahatan dalam Perspektif Hukum Islam,” Al-Hurriyah: Jurnal Hukum Islam (Fakultas Syariah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi) 24, no. 1 (2023): 15–28.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search