Banjir Informasi Digital, Budaya Membaca Dinilai Perlu Dikuatkan Kembali

Banjir Informasi Digital, Budaya Membaca Dinilai Perlu Dikuatkan Kembali
www.majelistabligh.id -

Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei kembali menjadi momentum refleksi atas kondisi literasi masyarakat Indonesia di tengah derasnya arus digitalisasi. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan media sosial dan video singkat, budaya membaca dinilai mulai terpinggirkan dan belum menjadi kebutuhan utama.

Hal itu disampaikan Anggota Bidang Pustaka, Informasi, dan Teknologi PRNA Panyuran Palang Tuban, Lisana Sidqi Aliyyan, yang akrab disapa Liyyan, dalam hasil wawancara pada Sabtu (16/5/2026). Ia menilai bahwa buku tetap memiliki posisi penting sebagai sumber ilmu pengetahuan yang tidak dapat tergantikan oleh perkembangan teknologi.

Perempuan yang lahir pada 12 Maret 2001 itu mengatakan bahwa makna Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat pentingnya literasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, buku adalah “jendela dunia” yang membuka wawasan masyarakat terhadap berbagai pengetahuan dan pengalaman hidup.

“Tanpa buku, kita tidak akan mengetahui banyak hal tentang dunia. Literasi membaca sangat penting, apalagi di era digital saat ini ketika banyak orang lebih sibuk bermain media sosial dibandingkan membaca,” ujarnya.

Ia menilai budaya membaca di era digital menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi generasi muda yang rentan tergerus tren instan di media sosial. Fenomena FOMO atau fear of missing out, menurutnya, membuat sebagian anak muda lebih tertarik mengikuti tren dibanding memperkuat kemampuan literasi.

Karena itu, Liyyan menekankan pentingnya menghadirkan kader-kader muda yang aktif menggerakkan budaya membaca di lingkungan masyarakat. Menurutnya, generasi muda perlu mengambil peran sebagai penggerak literasi agar kualitas sumber daya manusia Indonesia terus meningkat.

“Sebagai generasi muda, kita harus menjadi kader pencetak literasi untuk mencerdaskan anak bangsa,” katanya.

Dalam pengamatannya, minat baca masyarakat saat ini masih tergolong rendah. Banyak orang dinilai lebih memilih menghabiskan waktu menonton video pendek di platform digital dibanding membaca buku atau tulisan yang lebih mendalam.

Ia menilai kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital yang menghadirkan segala sesuatu secara cepat dan instan. Kemudahan akses informasi, di satu sisi, memang membantu masyarakat memperoleh pengetahuan. Namun di sisi lain, budaya serba instan membuat sebagian masyarakat enggan menjalani proses membaca yang membutuhkan ketekunan.

“Tantangan terbesar literasi saat ini adalah perkembangan era digital yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Semua serba instan, sehingga masyarakat menjadi malas membaca dan kurang terbiasa berproses,” ujarnya.

Meski demikian, Liyyan meyakini buku tetap relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Baginya, buku masih menjadi sumber pengetahuan yang mampu memperluas wawasan sekaligus memperdalam cara berpikir masyarakat.

Ia juga menilai budaya membaca di Indonesia saat ini masih lebih sering diposisikan sebagai aktivitas pelengkap dibanding kebutuhan utama. Rendahnya literasi masyarakat, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah dan kader-kader muda dalam membangun gerakan literasi yang lebih masif dan berkelanjutan. Dukungan terhadap ruang baca, komunitas literasi, hingga kegiatan diskusi buku dinilai penting untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat, Liyyan menegaskan bahwa buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang mendalam dan terpercaya. Ia menyebut proses penyusunan buku melalui tahapan riset, penyuntingan, dan verifikasi yang lebih ketat dibanding sebagian informasi yang beredar di media sosial.

“Buku menyajikan gagasan secara utuh dan terstruktur sehingga mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis dan analitis,” tuturnya.

Peringatan Hari Buku Nasional tahun ini pun menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan masyarakat dari budaya membaca. Di tengah banjir informasi digital, literasi tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang kritis, cerdas, dan berdaya saing. (fathan faris saputro)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search