Belajar dari Ayam Geprek Sa’i: Mengejar Berkah Sebelum Rupiah

Imam Barudi saat mengisi kajian keislaman. (ist)
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah stigma yang perlahan mengakar di dunia modern: semakin besar sebuah bisnis, akan semakin renggang pula jarak sang pemilik dengan sajadah dan waktu ibadah. Namun, di tengah riuh rendah industri kuliner tanah air, sebuah kisah berjalan melawan arus.

Adalah Erwan Barudi, sosok bersahaja di balik jaringan Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Belakangan ini, namanya mencuat dan memantik kekaguman publik di berbagai platform media sosial. Bukan karena ia memamerkan deretan mobil mewah atau gaya hidup jetset, melainkan karena formula manajemen “tak lazim” yang ia terapkan pada lebih dari 300 cabang usahanya.

Di saat waralaba lain memeras keuntungan lewat franchise fee dan royalty fee yang mencekik, Erwan justru menghapusnya sejak tahun 2023. Ia memilih jalan kemitraan berbasis manajemen murni dengan sistem bagi hasil yang adil.

Tetapi bukan soal bagi hasil yang membut bisnis ini hidup. Jantung dari bisnis ini sebenarnya terletak pada komitmen spiritual yang kental. Erwan menetapkan aturan tidak tertulis yang sakral, bahwa keuntungan perusahaan sebesar 30 persen langsung dipotong di awal. Uang itu sama sekali tidak menyentuh kantong direksi, melainkan langsung dialirkan untuk keperluan dakwah, sosial, dan pendidikan. Baginya, bisnis bukan sekadar mesin pencetak kekayaan materi, melainkan sebuah jembatan ukhuwah.

Salah satu gerai Ayam Geprek Sai di Malang, Jawa Timur. (ist)
Salah satu gerai Ayam Geprek Sai di Malang, Jawa Timur. (ist)

Pendiri dan Direktur Utama Ayam Geprek Sa’i ini dikenal aktif mendukung kegiatan dakwah di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah, salah satunya terlihat sebagai pengisi kajian rutin di Masjid K.H. Sudja’ (Masjid milik Muhammadiyah di Yogyakarta).

Sebelum menakhodai PT Ukhuwah Berkah Semesta, Erwan adalah seorang profesional mapan yang telah mendedikasikan 14 tahun hidupnya di sebuah perusahaan fast food multinasional besar bagian accounting. Meniti karier dari bawah hingga dipercaya memegang ratusan cabang membuat seluk-beluk bisnis kuliner berada di luar kepala.

Namun, semakin tinggi posisinya, ada ruang kosong di hatinya yang berontak. Ketika struktur kepemilikan saham berubah dan arah perusahaan dirasa semakin menjauh dari nilai-nilai keyakinan yang ia peluk, Erwan mengambil keputusan besar yang dianggap nekat oleh banyak orang. Ia mengundurkan diri.

“Karena pemilik saham terbesar saat itu dipegang orang yang berbeda keyakinan dengan saya, akhirnya saya memutuskan untuk keluar. Apapun posisi hidup saya, saya berkomitmen untuk mengabdi dan menyatakan kesetiaan saya pada Allah. Sebab tak ada yang abadi di dunia ini,” ungkap Erwan dengan ketulusan yang menggetarkan saat menceritakan kilas baliknya.

Spritualitas itu pula yang melahirkan nama usahanya saat ia menunaikan ibadah haji pada 2017. Kata ‘Hajj’ yang bermakna berkunjung dan ‘Sa’i’ yang berarti usaha, menjadi doa hidup agar gerainya selalu dikunjungi pembeli sekaligus pengingat akan perjuangan spiritual. Dan doa itu diijabah secara masif.

Tadarus Sebelum Kerja

Sisi kemanusiaan Erwan semakin tampak nyata dalam caranya memanusiakan ribuan karyawan. Ia menolak menjadi bos yang abai, yang merasa kewajibannya selesai hanya dengan membayar gaji tepat waktu. Di Ayam Geprek Sa’i, sebelum ayam digoreng dan bumbu diulek, seluruh karyawan diwajibkan melakukan tadarus Al-Qur’an bersama. Ketika azan berkumandang, aktivitas dapur melambat demi menegakkan salat berjamaah.

Kebijakan kesejahteraannya pun terbilang unik dan menyentuh hati. Erwan menjamin 90 persen biaya pendidikan anak-anak karyawannya yang ingin menimba ilmu di Pesantren atau Sekolah Islam Terpadu (IT). Tak sampai di situ, sebuah perhatian kecil namun mendalam diberikan dalam bentuk subsidi uang susu bagi para ibu menyusui yang bekerja di gerainya, demi memastikan generasi muslim masa depan tumbuh sehat dan cerdas. Sebuah koperasi internal juga didirikan untuk menghimpun tabungan wajib yang akan menjadi jaminan hari tua saat mereka tak lagi bekerja.

Puncak dari apresiasi kemanusiaan dan spiritual yang diberikan Erwan kepada timnya mewujud dalam sebuah program luar biasa, memberangkatkan para karyawannya untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci secara bergiliran.

Program ini bukan sekadar bonus atau fasilitas tambahan, melainkan bagian dari visi besar Erwan untuk menyelaraskan kesuksesan finansial perusahaan dengan peningkatan derajat spiritualitas orang-orang yang ikut membesarkan bisnisnya. Menyaksikan para pekerja di barisan depan—yang sehari-hari bergelut di dapur gerai—bisa bersujud di depan Kakbah menjadi kepuasan batin tersendiri bagi sang pemilik.

Melalui untaian kebijakan yang sarat akan nilai kemanusiaan dan kepatuhan syariat ini, Erwan Barudi sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia usaha, bahwa melangitkan ketaatan tidak akan pernah membuat rezeki di bumi menjadi surut. Baginya, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, dan bisnis adalah panggung terbaik untuk membuktikannya. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search