Ratusan jamaah yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak memadati Masjid Agung Goro, Jatikuwung, Jatipuro, Karanganyar, Jawa Tengah pada Ahad (6/9/2026) pagi. Mereka sangat antusias menghadiri Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah Jatipuro yang mengangkat tema mendalam tentang cara Belajar Mencintai Rasulullah.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Jatipuro ini dimulai sejak pukul 05.45 WIB. Sebelum materi utama disampaikan, suasana masjid terasa sangat khidmah saat seluruh jamaah membaca dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bersama-sama.
Hadir sebagai penceramah utama, Dr. Muhammad Nasri Dini, SPdI, MPd, dai dari Sukoharjo yang merupakan Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA). Dalam ceramahnya, ia memaparkan keutamaan mencintai Nabi Muhammad ﷺ melalui teladan para sahabat.
Secara khusus, Nasri menekankan kisah Tsauban bin Bujdud radhiyallahu ‘anhu, seorang mantan budak (maula) yang sangat setia mendampingi Rasulullah ﷺ. Tsauban pernah merasa gelisah dan bersedih karena takut tidak bisa berkumpul lagi dengan Nabi ﷺ di akhirat kelak.
“Tsauban sangat khawatir jika di akhirat nanti ia terpisah dari Rasulullah. Keikhlasan rasa cinta inilah yang menyebabkan Allah meredakan kekhawatirannya dengan menurunkan Surah An-Nisa ayat 69,” ujar Nasri di hadapan para jamaah.
Melalui ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan dikumpulkan bersama para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Oleh karena itu, kisah ini menjadi penghiburan sekaligus pelecut semangat bagi seluruh umat Islam.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo tersebut menyampaikan bahwa terdapat beberapa hikmah utama yang bisa dipetik dari kisah Tsauban. Pertama, seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di akhirat. Kedua, mencintai Rasulullah ﷺ merupakan kewajiban utama yang harus melebihi kecintaan pada harta maupun diri sendiri.
Ketiga, rasa cinta kepada Nabi ﷺ tidak cukup hanya diucapkan di bibir, tetapi wajib dibuktikan dengan amal nyata serta ketaatan. Nasri mengutip riwayat Rabi’ah bin Ka’ab yang diminta Rasulullah ﷺ untuk memperbanyak sujud agar bisa menemani beliau di surga.
Selanjutnya, hikmah keempat mengajarkan agar rasa cinta dan amal ibadah tidak dijadikan bahan untuk menyombongkan diri. Sementara hikmah kelima menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ mampu mengangkat derajat seseorang di sisi Allah tanpa memandang status sosial di dunia.
Jalannya kajian berlangsung hangat dan interaktif. Berdasarkan pantauan dokumentasi di lokasi, tampak raut wajah jamaah menyimak setiap penjelasan penceramah dengan penuh kesungguhan. Beberapa keluarga sengaja membawa anak-anak mereka untuk menanamkan rasa cinta kepada Nabi sejak dini.
Acara ditutup dengan doa bersama agar Allah menanamkan rasa cinta yang murni kepada Rasulullah ﷺ dalam hati setiap muslim. Selain itu, penceramah mengajak jamaah untuk senantiasa memperbanyak doa memohon iman yang teguh dan kebersamaan bersama Nabi ﷺ di surga tertinggi. (Ahmas Nasri | Kontributor Sukoharjo)
