Bengkel Berdaya Lazismu: Karya Monumental Bagi Pencari Kerja

Bengkel Berdaya Lazismu: Karya Monumental Bagi Pencari Kerja
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial dan Donatur Lazismu.
www.majelistabligh.id -

Setiap kali ada bursa kerja, selalu terlihat pemandangan yang sama: anak-anak muda berdesak-desakan, berpakaian rapi menenteng map cokelat, saling berebut peluang. Ada rasa miris di hati membayangkan ketimpangan antara jumlah lowongan dan lautan peminatnya. Apakah semuanya akan tertampung?

Pertanyaan itu wajar. Setiap orang ingin bekerja agar bisa hidup layak, setidaknya untuk dirinya dan keluarganya. Namun, harapan itu tidak selalu berbalas dengan kesempatan.

Di Surabaya saja, tercatat masih ada sekitar delapan puluh ribu orang yang menganggur (sumber: Badan Pusat Statistik, Keadaan Ketenagakerjaan Kota Surabaya 2024). Meski angkanya sudah ditekan menjadi 4,91 persen pada 2025, antrean di setiap bursa kerja tetap mengular.

Angka itu memberi potret yang jelas: lapangan kerja formal tidak lagi bisa menjadi satu-satunya tumpuan. Kita butuh jalan lain yang bisa menyerap angkatan kerja tanpa harus menunggu kesempatan yang terbatas itu.

Persoalan sebesar ini tentu tidak bisa dibebankan kepada pemerintah daerah semata. Bayangkan, jumlah anggaran terbatas, sementara jumlah pencari kerja terus bertambah.

Di sinilah lembaga filantropi harus mengambil peran, bukan sekadar sebagai pemadam kebakaran sosial, melainkan bagian dari institusi solutif dalam penyelesaian masalah.

Hampir di setiap kota telah hadir lembaga ZIS yang menjadi bagian denyut nadi kehidupan masyarakat. Inilah modal sosial yang bisa didayagunakan. Salah satunya adalah Lazismu, yang selama lebih dari dua dekade konsisten melayani warga masyarakat dalam mengatasi problematika sosial.

Apresiasi patut diberikan kepada Lazismu yang telah mampu menjadi pilar filantropi Muhammadiyah yang luar biasa. Dana zakat, infak, dan sedekah yang terhimpun dari keikhlasan umat telah banyak mengalir ke berbagai program sosial sesuai kebutuhan di lapangan. Ada beasiswa, bantuan bencana, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan kaum duafa di berbagai sudut wilayah sampai pelosok desa. Kita semua dapat menyaksikan kiprah dan hasilnya.

Hanya saja, muncul pertanyaan yang sering tertahan di hati para muzaki: “Bisakah Lazismu memperlihatkan hasil pengumpulan ZIS yang mewujud dalam karya monumental?”

Pertanyaan itu bukan tanda ketidakpercayaan. Buktinya, dari tahun ke tahun jumlah muzaki terus bertambah. Secara berkala Lazismu juga melaporkan pendayagunaan dananya. Manfaatnya telah lama dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan.

Namun, muzaki ingin Lazismu memiliki “pembeda” dari lembaga filantropi lain. Sebuah program yang ketika disebut nama produknya, publik langsung tanggap bahwa itu adalah signature program milik Lazismu, program yang menjadi tumpuan para pencari kerja untuk bisa berkarya secara mandiri.

Lazismu sudah punya ambulans. Armada itu “wira-wiri” di jalanan kota, menjadi saksi kehadiran yang responsif. Namun, ambulans adalah monumen yang bergerak. Ia datang saat dibutuhkan, lalu pergi. Ia melayani, tetapi hanya temporer.

Di tengah dinamika kehidupan sosial hari ini, banyak anak-anak muda lulus sekolah, tetapi ijazahnya belum bisa langsung digunakan melamar pekerjaan. Sebab, terbentur pengalaman kerja dan kemampuan vokasional. Di situlah kita membutuhkan monumen yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi mereka.

Inilah momentum bagi Lazismu untuk membangun sebuah karya monumental sebagai respons atas kebutuhan mendesak tersebut dengan mendirikan tempat latihan kerja: Bengkel Berdaya Lazismu.

Sebuah bangunan yang di dalamnya anak muda belajar servis AC atau motor. Para mustahik perempuan belajar menjahit dan membuat kue. Ada pula pelatihan-pelatihan lainnya yang sesuai kebutuhan. Seluruh keperluan kegiatan dan pengadaan peralatannya dibiayai dari dana zakat dan infak para muzaki.

Namun demikian, bengkel ini bukan sekadar tempat pelatihan, melainkan sebuah ekosistem. Mustahik datang sebagai peserta, belajar selama kurun waktu tertentu. Ketika sudah mahir diberikan pendampingan sekaligus modal untuk menjadi pengelola usaha.

Tentu, untuk menggerakkan ekosistem sebesar ini Lazismu tidak harus berjalan sendirian. Pintu kolaborasi bisa dibuka lebar-lebar. Tenaga pelatih bisa dihadirkan dari Balai Latihan Kerja milik pemerintah, dari SMK-SMK Muhammadiyah yang gurunya sudah tersertifikasi, bahkan dari para teknisi senior yang selama ini menjadi mitra usaha.

Begitu pula dengan peralatan. Tidak semua harus dibeli baru dari dana zakat. Mesin jahit, kompresor, atau alat servis yang sudah tidak terpakai di bengkel-bengkel swasta bisa dihibahkan, diservis, lalu dihidupkan kembali di Bengkel Berdaya. Dari sinilah semangat gotong-royong itu menemukan bentuknya yang paling nyata.

Keterampilan dalam servis AC digunakan untuk melayani jasa pemasangan atau perbaikan alat pendingin ruangan di gedung amal usaha Muhammadiyah. Sedangkan keterampilan servis motor, bisa melayani kendaraan operasional para karyawan di lingkungan sekolah atau kampus Muhammadiyah. Begitu pula dengan hasil keterampilan lainnya, digunakan untuk kemandirian warga usia produktif yang tidak terserap oleh pasar kerja.

Hasilnya, kelak sebagian keuntungan yang diperoleh diinfakkan kembali ke Lazismu agar bisa diputar kembali untuk membiayai latihan kerja angkatan berikutnya.

Dari sinilah, mereka yang awalnya berstatus penerima zakat, bertransformasi menjadi penjaga zakat. Inilah monumen yang kita butuhkan, monumen yang menjawab “ketidakjelasan” masa depan mereka.

Ini bukan perkara “show of force” atau sekadar memperlihatkan kiat mendayagunakan hasil ZIS, melainkan sebagai penanda kehadiran Muhammadiyah dalam meretas persoalan sosial. Ketika orang menyebut “Bengkel Berdaya Lazismu”, publik bisa langsung membayangkan satu pusat kegiatan yang nyata memfasilitasi skill para pencari kerja.

Jika monumen itu berhasil menjalankan fungsinya, kepercayaan publik akan menemukan alamatnya. Seorang muzaki tidak hanya membaca laporan keuangan tahunan yang dikirimkan melalui sarana media sosial. Tetapi jika perlu, ia bisa datang dan melihat langsung seorang anak muda yang dulunya putus asa, kini punya keterampilan, memiliki penghasilan. Dari sini bisa menjadi pintu masuk untuk meluaskan jangkauan memperbanyak jumlah muzaki.

Bengkel yang dibangun itu akan memberi bukti bahwa filantropi Islam tidak berhenti pada aktivitas karitatif yang menyalurkan dana secara langsung, melainkan melompat ke filantropi produktif yang menghidupkan kemandirian.

Dan yang paling penting, tempat itu akan mewarisi watak dasar Muhammadiyah. Ia bukan milik keluarga, bukan milik tokoh, bukan pula milik pengurus periode ini. Ia milik Persyarikatan. Siapa pun boleh berganti mengelola, tetapi ia akan tetap di sana, menjadi saksi bahwa umat pernah bergotong-royong mengubah zakat menjadi alat kerja.

Kita tidak sedang sekadar membangun gedung. Kita sedang membangun tanda bahwa harapan itu masih bisa di”servis”, masih bisa diperbaiki, dan masih bisa dijalankan kembali.

Monumen itulah yang sekarang kita nantikan bersama. Monumen yang berkisah tentang Muhammadiyah yang ramah, hangat, dan menjadi tempat berteduh bagi siapa saja. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search