Dari A.R. Sutan Mansur 1953 ke Muktamar ke-49 Muhammadiyah 2027

Dari A.R. Sutan Mansur 1953 ke Muktamar ke-49 Muhammadiyah 2026
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Sebuah Legacy Sejarah tentang Keikhlasan, Kerendahan Hati dan Integritas Kepemimpinan Muhammadiyah. Ada sebuah kisah yang sangat unik dalam sejarah kepemimpinan Muhammadiyah. Kisah itu terjadi pada Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto, 9–14 Juli 1953.

Muktamar memilih sembilan orang untuk menjadi pimpinan. Mereka adalah H.M. Yunus Anies, H.M. Faried Ma’ruf, Buya Hamka, K.H. Ahmad Badawi, K.H. Fakih Usman, Kasman Singodimedjo, Dr. Syamsuddin, A. Kahar Muzakir, dan Muljadi Djojomartono. Namun terjadi sesuatu yang hampir sulit dibayangkan dalam kultur politik dan organisasi modern: tidak seorang pun dari sembilan tokoh tersebut bersedia menjadi ketua.

Menurut kesaksian Dahlan Rais, kesembilan tokoh itu kemudian bermusyawarah dan akhirnya sepakat mencari sosok yang mereka nilai lebih layak. Mereka kemudian berangkat menemui Buya A.R. Sutan Mansur untuk meminta kesediaannya memimpin Muhammadiyah.

Sutan Mansur sendiri tidak termasuk sembilan nama yang dipilih dalam proses tersebut. Namun justru beliau kemudian dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sumber resmi Muhammadiyah mencatat bahwa setelah Muktamar ke-32, A.R. Sutan Mansur menjadi Ketua Muhammadiyah dan memimpin pada periode 1953–1959.

Inilah salah satu legacy kepemimpinan paling berharga dalam sejarah Muhammadiyah. Bukan karena seseorang berhasil mendapatkan jabatan. Tetapi karena sembilan orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin justru tidak berebut menjadi pemimpin.

1. Sembilan Tokoh yang Mengajarkan Arti Keikhlasan
Bayangkan situasinya. Mereka adalah tokoh-tokoh besar Muhammadiyah. Mereka memperoleh kepercayaan muktamirin. Nama mereka dipilih. Secara organisatoris mereka memiliki legitimasi untuk masuk dalam kepemimpinan pusat. Tetapi ketika sampai pada persoalan siapa yang akan menjadi ketua, tidak seorang pun mengatakan: “Saya paling layak.” Tidak seorang pun mengatakan: “Saya sudah lama berjuang, maka saya yang paling berhak.”

Tidak seorang pun mengatakan: “Saya mempunyai pendukung paling banyak.” Tidak seorang pun mengerahkan jaringan untuk mempertahankan dirinya. Sebaliknya, mereka justru sampai pada kesadaran: “Ada orang lain yang lebih layak daripada kami.” Inilah akhlak kepemimpinan yang luar biasa.

Mereka tidak kehilangan harga diri karena tidak menjadi ketua. Mereka tidak merasa kalah karena tidak menduduki jabatan tertinggi. Mereka tidak kemudian meninggalkan persyarikatan. Mereka justru tetap berada dalam barisan perjuangan dan mencari sosok terbaik untuk menerima amanah. Inilah kemenangan jiwa atas ambisi pribadi.

2. Mereka Bukan Tidak Mampu, tetapi Tidak Menganggap Diri Paling Layak
Penting untuk memahami kisah ini secara proporsional. Kesembilan tokoh tersebut bukan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, mereka adalah tokoh-tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah dan bangsa Indonesia. Justru karena memiliki kapasitas itulah sikap mereka menjadi semakin mengagumkan.

Mereka mengetahui kemampuan dirinya, tetapi tidak menganggap dirinya paling layak. Di sinilah letak perbedaan antara percaya diri dan kesombongan kepemimpinan. Orang yang sehat secara moral dapat mengatakan: “Saya mampu mengemban amanah.” Tetapi orang yang matang secara spiritual mampu mengatakan: “Mungkin ada saudara saya yang lebih mampu dan lebih layak daripada saya.” Kalimat kedua inilah yang tampaknya tercermin dalam sikap sembilan tokoh Muhammadiyah tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Search