Bersyukur dengan Lisan: Nikmat yang Sering Terlupakan

Bersyukur dengan Lisan: Nikmat yang Sering Terlupakan
*) Oleh : Helmi Rohmanto
Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan & Mahasiswa Magister FSIP Umsura
www.majelistabligh.id -

Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mencari kebahagiaan ke luar dirinya. Ada yang mengejar harta, jabatan, popularitas, bahkan pengakuan di media sosial. Namun ironisnya, semakin banyak yang dimiliki justru semakin mudah hati merasa kurang. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya rasa syukur dalam kehidupan.

Padahal, syukur bukan hanya tentang menerima nikmat besar. Syukur adalah cara hati menyadari bahwa setiap napas, kesehatan, keluarga, waktu, bahkan kesempatan bangun pagi adalah karunia dari Allah SWT. Dan salah satu bentuk syukur yang paling sederhana namun sangat mulia adalah bersyukur dengan lisan.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan biasa, tetapi kunci bertambahnya nikmat dan keberkahan hidup.
1. Bertahmid: Mengucapkan Alhamdulillah
Ucapan Alhamdulillah mungkin terdengar sederhana, tetapi di sisi Allah nilainya sangat besar. Kalimat ini adalah pengakuan bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Saat mendapatkan rezeki, kesehatan, kemudahan, bahkan setelah selesai makan dan minum, seorang muslim diajarkan untuk memuji Allah.

Sayangnya, banyak lisan hari ini lebih mudah mengeluh daripada bersyukur. Ketika keinginan belum tercapai, hati menjadi kecewa dan lupa bahwa masih banyak nikmat yang telah diberikan Allah.
Membiasakan mengucapkan Alhamdulillah bukan hanya menenangkan hati, tetapi juga membuat seseorang lebih ikhlas menjalani hidup.

2. Memperbanyak Dzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
Dzikir adalah makanan hati. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, dzikir menjadi penyejuk jiwa yang lelah. Kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar bukan sekadar rangkaian kata, tetapi bentuk syukur yang menghidupkan hati.

Subhanallah mengajarkan kita mengagungkan kesempurnaan Allah.
Alhamdulillah mengingatkan bahwa semua nikmat berasal dari-Nya.
Allahu Akbar menanamkan keyakinan bahwa Allah lebih besar dari semua masalah hidup.

Orang yang lisannya basah dengan dzikir biasanya lebih tenang menghadapi kehidupan. Sebaliknya, hati yang jauh dari dzikir akan mudah dipenuhi kecemasan dan kekosongan.

3. Membaca dan Menghafal Ayat-Ayat tentang Syukur
Membaca Al-Qur’an adalah bentuk syukur yang luar biasa. Ketika seseorang meluangkan waktunya untuk membaca dan menghafal ayat-ayat Allah, sesungguhnya ia sedang menjaga cahaya iman di dalam hatinya.
Ayat-ayat tentang syukur bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga direnungkan. Sebab banyak manusia yang tahu nikmat Allah, namun sedikit yang benar-benar menyadarinya.
Menghafal ayat tentang syukur akan membuat hati lebih mudah mengingat Allah di tengah kesibukan dunia.

4. Menggunakan Lisan untuk Berbicara yang Baik
Lisan bisa menjadi sumber pahala, tetapi juga bisa menjadi sebab datangnya dosa. Karena itu, salah satu bentuk syukur adalah menggunakan lisan untuk berkata baik, lembut, dan bermanfaat.
Hari ini kita sering melihat bagaimana ucapan kasar, hinaan, fitnah, dan komentar menyakitkan begitu mudah tersebar, terutama di media sosial. Banyak orang merasa bebas berbicara tanpa memikirkan luka yang ditinggalkan.

Padahal Rasulullah SAW mengajarkan:
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Ucapan yang baik dapat menjadi sedekah. Sebaliknya, lisan yang buruk bisa menghancurkan persaudaraan dan melukai hati orang lain.

5. Berdzikir dengan Hati
Syukur sejati bukan hanya terdengar di bibir, tetapi juga hidup di dalam hati. Ada orang yang lisannya berdzikir, tetapi hatinya masih dipenuhi iri, sombong, dan keluhan. Karena itu, dzikir hati sangat penting.

Dzikir hati membuat seseorang merasa selalu dekat dengan Allah. Ia sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Hatinya lebih mudah sabar ketika diuji dan tidak mudah sombong ketika diberi nikmat.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kehilangan ketenangan karena terlalu sibuk mengejar dunia. Padahal ketenangan sejati lahir dari hati yang dekat dengan Allah dan pandai bersyukur.

Pada akhirnya, bersyukur dengan lisan bukan hanya tentang banyaknya ucapan dzikir, tetapi bagaimana lisan dan hati berjalan bersama dalam ketaatan kepada Allah. Sebab lisan yang dipenuhi syukur akan melahirkan hati yang tenang, hidup yang lebih berkah, dan jiwa yang lebih dekat kepada Sang Pencipta. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search