Bertawakal, Mengurangi Setengah Kekhawatiran dalam Diri

Bertawakal, Mengurangi Setengah Kekhawatiran dalam Diri
*) Oleh : Muhammad Al Hafidz S.Ag
Anggota LDK PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Ada banyak hal yang membuat kita khawatir. Pekerjaan, rezeki, keluarga, jodoh, masa depan, dan berbagai hal yang belum tentu terjadi.

Kadang masalahnya belum datang, tetapi pikiran kita sudah ke mana-mana.

Di sinilah tawakal mengajarkan kita untuk tenang. Bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi belajar percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengatur kehidupan hambanya.

1. Berusaha, Kemudian Berserah

Tawakal bukan berarti duduk diam dan menunggu pertolongan Allah. Tawakal dimulai dengan usaha.

Allah berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 159)

Kita belajar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kita mencari pekerjaan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kita berusaha memperbaiki keadaan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sebab tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasil bukan sepenuhnya milik kita.

Tangan kita bekerja, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.

1. Jangan Memikirkan yang Belum Terjadi

Sering kali yang membuat kita lelah bukan kenyataan, tetapi bayangan tentang masa depan.

“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau tidak mendapatkan pekerjaan?”

“Bagaimana kalau rencana saya tidak berhasil?”

Padahal semua itu belum tentu terjadi.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak perlu merasa harus mengatur semuanya sendiri.

Ada hal yang bisa kita kendalikan, ada hal yang tidak.

Maka jangan habiskan tenaga untuk sesuatu yang memang bukan wilayah kita.

Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Doakan apa yang kita harapkan. Setelah itu, serahkan kepada Allah.

Hati yang seperti ini akan jauh lebih ringan.

1. Percaya bahwa Pilihan Allah Lebih Baik

Bagian tersulit dari tawakal adalah ketika hasil yang datang tidak sesuai dengan keinginan.

Kita sudah berusaha, tetapi gagal.

Kita sudah berdoa, tetapi belum mendapatkan apa yang diminta.

Kita sudah merencanakan sesuatu, tetapi Allah memberikan jalan yang berbeda.

Pada saat itulah kita belajar bahwa Allah lebih tahu daripada diri kita sendiri.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam tasawuf, hati dilatih agar tidak terlalu bergantung kepada selain Allah. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan, tetapi kita belajar menerima ketika Allah memilihkan sesuatu yang berbeda.

Kita boleh kecewa, tetapi jangan kehilangan percaya.

Kita boleh menangis, tetapi jangan berburuk sangka kepada Allah.

Sebab bisa jadi sesuatu yang kita anggap kehilangan, sebenarnya adalah cara Allah menyelamatkan kita.

Pada akhirnya, tawakal bukan tentang memastikan semua berjalan sesuai keinginan kita.

Tawakal adalah belajar tenang meskipun kita belum tahu apa yang akan terjadi, karena kita tahu kepada siapa kita menyerahkan semuanya.

Maka ketika hati mulai khawatir, cukup katakan:

“Aku sudah berusaha. Aku sudah berdoa. Selebihnya aku serahkan kepada Allah.”

Mungkin masalah kita belum selesai.

Tetapi setidaknya hati kita tidak lagi memikulnya sendirian.

Ikhtiar dilakukan dengan tangan. Tawakal dilakukan dengan hati. Dan ketenangan lahir ketika hati benar-benar percaya kepada Allah. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search