Pemerintah mulai menempatkan budaya Islam sebagai salah satu pilar strategis pembangunan kebudayaan nasional. Langkah ini tidak lagi sekadar berfokus pada konservasi masjid bersejarah atau pelestarian tradisi, melainkan diarahkan menuju pembentukan ekosistem budaya Islam terintegrasi yang melibatkan negara, ulama, komunitas kreatif, akademisi, hingga industri kebudayaan.
Arah baru tersebut terungkap dalam pertemuan strategis antara Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan jajaran Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Pertemuan ini membuka ruang kolaborasi jangka panjang yang berpotensi melahirkan berbagai program nasional, seperti pengembangan perfilman santri, dokumentasi sejarah, seni musik Islami, hingga penyusunan ensiklopedia kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperluas kemitraan dengan berbagai institusi dalam memajukan kebudayaan nasional, termasuk penguatan budaya Islam. Menbud Fadli Zon menjelaskan bahwa selama ini dukungan pemerintah telah berjalan melalui pelindungan warisan budaya, baik benda (cagar budaya masjid bersejarah) maupun takbenda (akulturasi nilai Islam dengan budaya Nusantara). Karakter khas hasil akulturasi inilah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kebangsaan.
Kini, strategi tersebut diperkuat dengan membuka ruang lebar bagi generasi muda pesantren di sektor industri kreatif. Pemerintah menilai pesantren menyimpan potensi besar dalam melahirkan sineas, penulis, dan kreator konten yang mampu mengemas nilai-nilai Islam melalui medium budaya populer.
“Kami menyediakan platform strategis di bidang perfilman melalui Santri Film Festival, yang kini menjadi bagian dari program prioritas pendanaan Dana Indonesia Raya. Kami optimistis pesantren memiliki limpahan talenta berbakat,” ujar Fadli Zon.
Selain perfilman, pemerintah juga membuka peluang pengembangan seni pertunjukan seperti kasidah melalui kolaborasi dengan organisasi kebudayaan. Langkah ini menegaskan bahwa kebudayaan Islam kini diposisikan sebagai ruang inovasi dan kreativitas generasi muda, bukan sekadar warisan masa lalu.
Menuju Maestro Summit
Komitmen sinergi ini akan dikonkretkan dalam Pra-Kongres Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema “Arah Baru Budaya Islam Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa.” Forum yang digagas MUI ini akan digelar pada 18–19 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Tangerang, dengan menghadirkan para ulama, seniman, dan budayawan dalam rangkaian kegiatan Maestro Summit.
“Kementerian Kebudayaan mempersilakan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI mengajukan proposal program, baik untuk penulisan sejarah, penyusunan ensiklopedia, maupun kegiatan pemajuan kebudayaan lainnya,” tuturnya. (*/tim)
