Tabayyun di Tengah Algoritma: Ketika Kesalehan Terjebak Echo Chamber

Tabayyun di Tengah Algoritma: Ketika Kesalehan Terjebak Echo Chamber
*) Oleh : Muhammad Khoirun Nizam, S.Sos
Mahasiswa Pascasarjana Umsura.
www.majelistabligh.id -

Di era media sosial, kita bisa merasa semakin dekat dengan kebenaran justru ketika semakin jauh dari perbedaan. Algoritma menyajikan apa yang kita sukai, orang-orang yang kita ikuti adalah mereka yang sepemikiran, sementara pendapat yang berbeda perlahan tersingkir dari layar. Dalam ruang keagamaan, situasi ini menjadi lebih serius.

Kita tidak sekadar berada dalam echo chamber, tetapi bisa terjebak dalam ruang yang membuat keyakinan terasa benar karena terus-menerus diulang oleh orang-orang yang kita percaya. Di sinilah tabayyun menemukan relevansinya.

Al-Qur’an melalui QS Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan orang beriman untuk meneliti berita sebelum bertindak agar tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan. Pesan ini sebenarnya jauh lebih radikal daripada sekadar imbauan “jangan percaya hoaks”. Tabayyun menuntut keberanian untuk menunda kesimpulan, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan—yang sering kali paling sulit—membuka kemungkinan bahwa kelompok kita sendiri bisa keliru.

Masalahnya, budaya digital justru mendorong kebalikan dari itu. Kita lebih cepat membagikan informasi yang sesuai dengan keyakinan daripada informasi yang benar-benar terverifikasi. Ketika sebuah informasi datang dari tokoh, ustaz, komunitas, atau akun yang kita percaya, standar kritis kita sering kali menurun. Sebaliknya, ketika informasi berasal dari kelompok yang berbeda, kecurigaan justru meningkat.

Inilah paradoks echo chamber keagamaan: semakin homogen lingkungan informasi seseorang, semakin kecil kemungkinan ia berjumpa dengan koreksi yang diperlukan.

Fenomena tersebut bukan persoalan teoritis belaka. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) mencatat bahwa sepanjang 2024–2025 perkembangan hoaks semakin kompleks, termasuk penggunaan teknologi kecerdasan artifisial untuk membuat deepfake. Dalam situasi sosial yang penuh ketegangan, hoaks bahkan dapat memproduksi kemarahan, kebencian, dan kekerasan. Penelitian terbaru tentang misinformasi keagamaan di media sosial juga menunjukkan bahwa penyebaran informasi keagamaan palsu merupakan persoalan yang semakin layak mendapat perhatian serius.

Karena itu, tabayyun tidak boleh direduksi menjadi aktivitas memeriksa apakah sebuah pesan WhatsApp benar atau salah. Ia harus menjadi budaya berpikir.

Ada setidaknya tiga keberanian yang diperlukan. Pertama, keberanian memeriksa informasi meskipun berasal dari orang yang kita hormati. Kedua, keberanian membaca sumber yang berbeda dari lingkaran kita sendiri. Ketiga, keberanian mengoreksi informasi yang telanjur kita sebarkan.

Di titik ini, tabayyun bukan tanda lemahnya iman. Justru sebaliknya: ia merupakan bentuk tanggung jawab moral dari iman. Sebab persoalan terbesar dalam ruang digital bukan hanya orang yang sengaja membuat kebohongan, tetapi orang baik yang menyebarkan informasi keliru karena merasa informasi tersebut membela agamanya.

Kita perlu mengubah paradigma: jangan bertanya, “Apakah informasi ini sesuai dengan kelompok saya?” tetapi “Apakah informasi ini benar, dan apa akibatnya jika saya menyebarkannya?”

Agama semestinya tidak menjadi tembok yang menghalangi verifikasi, melainkan kompas yang membimbingnya. Jika tabayyun hanya dilakukan kepada “orang lain”, sementara informasi dari kelompok sendiri diterima tanpa pemeriksaan, maka yang tumbuh bukan kesalehan digital, melainkan fanatisme algoritmik.

Di tengah banjir informasi dan kecanggihan deepfake, umat beragama membutuhkan lebih dari sekadar literasi digital. Kita membutuhkan literasi tabayyun: kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum percaya, memeriksa sebelum membagikan, dan berpikir sebelum menghakimi.

Sebab di zaman ketika algoritma dapat memperkuat apa yang ingin kita dengar, menjaga kebenaran membutuhkan satu keberanian sederhana: bersedia menemukan bahwa keyakinan kita sendiri mungkin perlu dikoreksi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search