Anak itu Titipan Allah yang Wajib Kita Jaga

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Ada satu gelisah yang nggak kelihatan, tapi berat. Itu gelisahnya orangtua.

“Anakku nanti jadi apa ya?”

“Sekolahnya gitu-gitu aja”

“Kerjanya serabutan”

“Temennya kok gitu”

“Udah dikasih tau kok nggak denger”

Ujungnya: Stres, tidur nggak nyenyak, mikir terus. Karena kita nggak tahu “benih” anak kita mau tumbuh jadi pohon apa.

Allaah Wa Ta’ala berfirman:  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6)

Tugas kita dua yaitu: Mendidik dan Mendoakan.

Hasilnya? Itu urusan Allah Wa Ta’ala.

  • Nabi Nuh as anaknya tenggelam kafir.
  • Nabi Ibrahim AS bapaknya penyembah berhala.
  • Nabi Yaqub AS anaknya 11, salah satunya iri.

Kalau para Nabi saja nggak bisa “mengatur” hasil, masa kita mau stres karena merasa gagal?

“Benih” anak itu Allaah Wa Ta’ala yang tentuin mau jadi ulama, jadi pengusaha, jadi guru, jadi lainnya.

Tugas kita: Siram dengan ilmu, pupuk dengan doa, kasih matahari kasih sayang.

Penyebab Orangtua Jadi Stres Lihat Anak

Terlalu Membandingkan

“Lihat anak si A udah PNS.”  Padahal tiap anak punya garis rezeki dan waktu tumbuh beda. Pohon mangga 3 tahun berbuah. Pohon jati 20 tahun. Sama-sama pohon.

Lupa Doa, Sibuk Mengeluh 

Kita lebih sering ngomel “kamu kok gini” daripada sujud “Yaa Allah bimbing anakku”. Padahal doa orang tua untuk anak itu mustajab tanpa hijab.

Mendidik Pakai Ego, Bukan Pakai Hikmah 

Mau anak jadi dokter, padahal anak sukanya desain. Mau anak hafal 30 juz, tapi kita sendiri jarang pegang Qur’an. Anak jadi tertekan, kita jadi kecewa.

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua?

Tanam “Benih” yang benar sejak kecil: Benih akhlak ke benih ranking. Ajarkan salat, jujur, hormat, tanggung jawab. Kalau akhlaknya bagus, mau kerja apa aja in syaa Allaah barokah.

Jadi Ladang yang Subur: Anak niru apa yang dia lihat. Mau anak rajin ngaji, kita yang duluan pegang Qur’an. Mau anak jujur? Kita yang duluan jujur.

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya kamu akan ditanya tentang mereka” (HR. Bukhari)

Pasrahkan Setelah Ikhtiar: Udah sekolahin, udah nasehatin, udah kasih contoh. Selanjutnya: “Hasbunallah wa ni’mal wakil”

Sambil terus doa:  “Yaa Allaah, jadikan anak- anakku penyejuk mataku, dan jadikan mereka termasuk orang-orang sholeh” (QS. Al-Furqan: 74)

Petani itu nggak pernah stres karena nggak tahu besok buahnya lebat apa nggak. Yang dia lakukan: rawat, siram, jaga dari hama, lalu tawakal.

Begitu juga kita sebagai orangtua. Kita nggak wajib “berhasil” menjadikan anak seperti mau kita.  Kita wajib “berusaha” menjadikan anak seperti yang Allaah Wa Ta’ala mau.

Jangan stres. Jangan menyerah. Karena bisa jadi “benih” yang sekarang kelihatan kecil, 10 tahun lagi jadi pohon rindang yang naungin kita sampai ke surga.

Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad.

ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search