Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Azza wa Jalla mengetahui hal-hal yang menjadikan hidup kita lebih baik dari waktu ke waktu.
Maka, ketika ujian datang sebagai bagian dari ketetapan-Nya, bersabarlah dan bertawakkallah. Sebab, di balik setiap ujian yang telah ditetapkan-Nya untuk kita, pasti tersimpan hikmah yang luar biasa.
Apa pun yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan tidak akan pernah sia-sia. Semua mengandung hikmah, hanya saja kita tidak selalu mampu memahaminya dengan cepat.
Beruntunglah orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa dalam hidupnya. Sebab, hidup akan terasa indah dan damai bagi mereka yang memaknainya dengan iman.
Jika kita mampu melihat ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah, maka kita akan yakin bahwa hikmah yang Allah persiapkan selalu elegan dan sempurna. Karena sesungguhnya, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian dalam kehidupan kita.
Perjalanan hidup manusia tidak selalu sesuai harapan. Ada kalanya manusia harus melewati jalan terjal setelah sekian waktu menikmati jalan yang landai.
Hari-hari dalam hidup pun penuh warna—kadang bahagia, kadang pula duka dan nestapa. Inilah hakikat kehidupan. Tak ada seorang pun yang bisa menghindar darinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Salah satu bentuk kesedihan yang sering dialami manusia adalah ketika mereka mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan.
Banyak orang berjuang keras untuk menggapai sesuatu yang tampaknya baik, bahkan rela mengorbankan segalanya demi meraih impiannya.
Namun tanpa disadari, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ketika hal ini terjadi, hendaknya kita mengingat firman Allah Azza wa Jalla:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu; dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini merupakan kaidah penting dalam kehidupan, yang erat kaitannya dengan salah satu rukun iman, yaitu iman kepada qadha dan qadar.
Segala musibah yang menimpa manusia telah dicatat oleh Allah Azza wa Jalla lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Menjadikan ayat ini sebagai pedoman hidup akan menenangkan hati, menjauhkan keresahan, dan menghadirkan kenyamanan.
Jika kita menelusuri lembaran sejarah dalam Al-Qur’an serta mengamati realita hidup, kita akan menemukan banyak pelajaran dan bukti bahwa keputusan Allah selalu yang terbaik.
Di antara bukti tersebut adalah kisah ibunda Nabi Musa ‘alaihis salam yang menghanyutkan anaknya ke sungai. Betapa cemas dan takut hatinya saat tahu bahwa anaknya berada di tangan keluarga Fir’aun. Namun tragedi itu akhirnya berubah menjadi anugerah besar.
Perhatikan pula kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Kisahnya menggambarkan drama yang mengharukan antara seorang anak dan ayahnya, Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Betapa banyak pelajaran yang bisa kita ambil darinya.
Inti dari semuanya dijelaskan oleh seorang penyair:
“Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya untuk meraih kebaikan, namun ia tidak bisa menentukan hasil akhirnya.”
Apa pun yang terjadi pada seorang muslim, jika itu tidak sesuai dengan harapannya, maka itu adalah bentuk kasih sayang dari Allah.
Ujian hadir untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan diri dan kenikmatan yang lebih hakiki. Maka, jangan terburu-buru mencela musibah yang Allah berikan. Yakinlah bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
Insya Allah, semoga Allah Azza wa Jalla menganugerahkan hidayah-Nya kepada kita, agar kita tetap istiqamah, tabah, ikhlas, dan sabar menerima segala ketetapan-Nya, demi meraih ridha-Nya.
Aamiin, Yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)
