‘Buku Hidup atau Sekadar Bertahan’ Warnai Halalbihalal dan Musypimda II PDM Lamongan

'Buku Hidup atau Sekadar Bertahan' Warnai Halalbihalal dan Musypimda II PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Suasana Halalbihalal dan Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) II Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Ahad (19/4/2026), terasa berbeda. Tak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, kegiatan yang digelar di Aula PDM Lamongan ini juga diwarnai peluncuran buku reflektif berjudul Hidup atau Sekadar Bertahan?.

Buku tersebut merupakan karya kolaboratif Fathan Faris Saputro dan Uswatun Hasanah. Peluncurannya pun bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi simbol tumbuhnya budaya literasi di lingkungan Muhammadiyah Lamongan.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, buku ini hadir sebagai ruang jeda. Isinya mengajak pembaca untuk merenung dan mempertanyakan kembali makna hidup yang dijalani.

Fathan Faris Saputro atau yang akrab disapa Faris, selaku Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi (MPID) PDM Lamongan, mengungkapkan buku ini lahir dari kegelisahan yang banyak dirasakan masyarakat saat ini.

“Banyak orang menjalani hidup hanya untuk bertahan, tanpa benar-benar memahami tujuan dan arah hidupnya,” ujar Faris.

Dengan gaya naratif reflektif, buku ini menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Pembaca diajak berdialog dengan dirinya sendiri—apakah hidup yang dijalani sudah bermakna atau sekadar mengikuti rutinitas.

Menurut Faris, buku ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi menjadi sarana untuk berhenti sejenak, berpikir lebih dalam, dan mengambil keputusan hidup yang lebih terarah.

“Ini adalah undangan untuk merenung secara sadar dan menjalani hidup dengan nilai yang lebih jelas,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris PDM Lamongan, Piet Hizbullah Khaidir, mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Ia menilai, langkah ini merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem intelektual di tubuh Muhammadiyah.

“Literasi harus terus dirawat. Buku bukan hanya kumpulan tulisan, tetapi juga cerminan pemikiran dan respons terhadap tantangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan melalui budaya membaca dan menulis. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang berkemajuan.

“Generasi muda adalah penentu masa depan. Jika mereka terbiasa berpikir dan menulis secara mendalam, maka peradaban yang beradab akan terwujud,” pungkasnya. (wahid)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search