Islam merupakan agama yang senantiasa mengajak manusia untuk berupaya membersihkan diri dan hati. Membersihkan diri merupakan bentuk upaya menjaga kebersihan fisik dan kesehatan jasmani, terutama ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersujud kepada-Nya atau membaca kalam-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Kesucian itu separuh dari iman.” (HR. Muslim)
Adapun menjaga kebersihan hati merupakan upaya untuk menjaga kekhusyukan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit hati. Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah nifaq (kemunafikan).
Di setiap zaman perjalanan umat Islam, selalu ada orang-orang yang mengaku beriman dan berislam, tetapi menyembunyikan kekufuran dalam hatinya. Tidak jarang mereka melakukan tindakan maupun melontarkan pernyataan yang terkesan merendahkan agama Allah. Mereka menyuarakan kebatilan, menyebarkan syubhat, bahkan mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan sebagian syariat Islam yang menurut mereka merupakan simbol pengekangan, terutama terhadap kaum wanita muslimah.
Akhir-akhir ini muncul sosok yang kerap menyuarakan syubhat dan pemikiran yang batil terhadap umat Islam. Bahkan beberapa kali ia menyampaikan pernyataan yang berpotensi memicu perpecahan antarumat beragama serta merendahkan syariat Islam dengan menuduhnya sebagai sumber ajaran terorisme.
Sosok tersebut telah beberapa kali dilaporkan kepada pihak berwajib, baik oleh tokoh agama maupun lembaga hukum yang mewakili umat Islam. Namun, hingga saat ini ia masih terus mengulangi pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Belum lama ini, ia berceramah di sebuah gereja di Amerika Serikat dan menyebut sebagian wilayah Indonesia bagian barat yang mayoritas penduduknya muslim sebagai pusat intoleransi terhadap kelompok minoritas. Ia menggunakan berbagai narasi yang provokatif dan bahkan menyebut beberapa daerah secara spesifik.
Fenomena semacam ini mengingatkan kita kepada sosok yang pernah hidup pada zaman Rasulullah ﷺ, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah. Ia meninggal dunia pada tahun ke-9 Hijriah setelah bertahun-tahun menjadi sumber gangguan bagi kaum muslimin. Ia menampakkan keislaman, tetapi menyimpan kebencian yang mendalam terhadap Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ia juga kerap menciptakan narasi yang bertujuan memecah belah kaum Muhajirin dan Anshar.
Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah disebutkan berbagai tindakan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merugikan umat Islam, di antaranya:
1. Pembelotan pada Perang Uhud
Perbuatan Abdullah bin Ubay pada Perang Uhud merupakan salah satu bentuk pengkhianatan terbesar terhadap kaum muslimin. Ia kecewa karena pendapatnya agar kaum muslimin bertahan di dalam Kota Madinah tidak diikuti oleh Rasulullah ﷺ.
Ketika melihat pasukan Quraisy berjumlah jauh lebih besar, ia mencari alasan untuk menarik mundur tiga ratus orang pengikutnya dan kembali ke Madinah. Akibatnya, pasukan kaum muslimin yang semula berjumlah seribu orang berkurang menjadi tujuh ratus orang.
Ia berkata: “Demi Allah, kami tidak tahu untuk apa kami membunuh diri kami di sini, wahai manusia.”
Provokasi yang dilakukannya hampir memengaruhi dua kabilah Anshar, yaitu Bani Haritsah dari Khazraj dan Bani Salamah dari Aus. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati mereka sehingga tetap bersama Rasulullah ﷺ.
Peristiwa tersebut diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ
“Dan agar Allah mengetahui orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah dirimu.’ Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kamu.’ Pada hari itu mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)
2. Keterlibatan dalam Pendirian Masjid Dhirar
Beberapa ahli sirah menyebutkan bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul termasuk tokoh yang mendukung berdirinya Masjid Dhirar. Masjid tersebut dibangun tidak jauh dari Masjid Quba dengan tujuan merusak persatuan kaum muslimin.
Orang-orang munafik meminta Rasulullah ﷺ agar berkenan singgah dan melaksanakan salat di sana. Namun ketika Rasulullah ﷺ dalam perjalanan menuju Tabuk dan singgah di Dzu Awan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu yang menjelaskan hakikat masjid tersebut.
Mereka bekerja sama dengan Abu ‘Amir Ar-Rahib yang dikenal memusuhi Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan, untuk kekafiran, untuk memecah belah orang-orang mukmin, dan sebagai tempat menunggu kedatangan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sungguh-sungguh bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Tetapi Allah menjadi saksi bahwa mereka benar-benar pendusta.” (QS. At-Taubah: 107)
Karena itu Rasulullah ﷺ melarang para sahabat radhiyallahu ‘anhum mendatangi masjid tersebut dan memerintahkan agar bangunan itu dihancurkan.
3. Menuduh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
Pada peristiwa setelah Perang Bani Musthaliq, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang. Para sahabat yang bertugas mengangkat tandunya mengira bahwa beliau telah berada di dalamnya sehingga rombongan berangkat tanpa menyadari bahwa beliau masih tertinggal.
Kemudian beliau ditemukan oleh Shafwan bin Al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu. Shafwan mempersilakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menaiki untanya dan mengantarkannya hingga kembali menyusul rombongan.
Ketika kaum munafik melihat keduanya datang bersama, Abdullah bin Ubay bin Salul menyebarkan tuduhan keji bahwa telah terjadi hubungan terlarang antara ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Shafwan bin Al-Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu. Sebagian orang ikut menyebarkan berita tersebut tanpa melakukan tabayyun.
Fitnah ini mengguncang Madinah selama kurang lebih satu bulan. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-ayat dalam Surah An-Nur yang membebaskan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari tuduhan tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dosa sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Dan orang yang mengambil bagian terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11)
Keburukan Abdullah bin Ubay bin Salul sebenarnya telah diketahui oleh banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahkan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan putra Abdullah bin Ubay sendiri pernah mengusulkan agar ia dihukum.
Namun Rasulullah ﷺ tidak mengizinkannya. Beliau mempertimbangkan dampak yang lebih besar bagi dakwah Islam. Apabila Abdullah bin Ubay dibunuh, orang-orang Arab yang tidak mengetahui hakikat perbuatannya akan mengira bahwa Muhammad ﷺ membunuh pengikutnya sendiri. Kesalahpahaman seperti ini dapat menghalangi banyak orang untuk menerima Islam.
Selain itu, Rasulullah ﷺ sangat menjaga persatuan kaum muslimin, terutama pada masa awal perkembangan Islam di Madinah. Beliau memilih jalan kesabaran, kebijaksanaan, dan keteguhan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyingkap hakikat kemunafikan Abdullah bin Ubay melalui berbagai peristiwa.
Akhirnya orang-orang yang dahulu ingin mengangkatnya menjadi pemimpin justru membencinya. Bahkan keluarga dan orang-orang terdekatnya pun tidak lagi memberikan dukungan kepadanya.
4. Akhir Kehidupan Abdullah bin Ubay
Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, Rasulullah ﷺ sempat menyalatkan jenazahnya. Namun setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:
وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
“Dan janganlah engkau menyalatkan seorang pun di antara mereka yang mati selama-lamanya, dan jangan pula engkau berdiri di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84)
Dari uraian di atas, hendaknya kita senantiasa melakukan muhasabah terhadap diri kita agar tidak terjerumus ke dalam sifat-sifat kemunafikan. Orang munafik tidak selalu tampil sebagai musuh yang terang-terangan memerangi Islam, tetapi terkadang tampil dengan wajah yang seolah-olah membela kebenaran.
Pada zaman ini mungkin ada sebagian orang yang bebas merendahkan syariat Islam, menebarkan syubhat, atau mengolok-olok ajaran agama tanpa tersentuh hukum dunia. Namun seorang mukmin meyakini bahwa keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah luput. Jika seseorang berhasil menghindari hukuman manusia di dunia, ia tidak akan mampu menghindari hisab Allah pada hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa’: 145)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga hati kita dari kemunafikan, menjadikan kita hamba-hamba yang jujur dalam keimanan, serta mewafatkan kita di atas Islam dan Sunnah. Aamiin. (*)
