Telinga kita masih hangat oleh pidato Presiden Prabowo yang menggelegar penuh optimisme—bahwa Indonesia akan bangkit, bahwa rakyat kecil tak akan lagi dibiarkan berjalan sendirian. Tepuk tangan membahana. Kamera menyala. Senyum-senyum pejabat tersusun rapi di barisan depan.
Lalu, dua puluh empat jam kemudian, bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjawab dengan caranya sendiri. Bukan tepuk tangan, melainkan gemuruh. Bukan senyum, melainkan debu reruntuhan yang menyelimuti wajah-wajah kecil yang terbangun dari tidur dengan mata terbelalak.
Gempa mengguncang. Dinding-dinding rumah sederhana di pelosok NTT retak seperti harapan yang dijanjikan tapi tak pernah benar-benar dibangun. Seorang ibu di Ende berlari menggendong anaknya yang masih mengenakan baju tidur bergambar kartun, sementara di belakangnya, atap dapur yang baru tiga bulan ia cicil pembayarannya, ambruk tanpa permisi.
Kemarin mereka dengar dan lihat di televisi, kata Pak Presiden warga harus optimis. Tapi mereka belum tahu optimis itu bisa bikin rumah berdiri lagi atau tidak. Satire yang menyayat, bukan?
Jelang HUT Kemerdekaan
Besok, Merah Putih akan berkibar di seluruh penjuru negeri. Pidato kemerdekaan akan kembali dibacakan. Kata “merdeka” akan diucapkan ribuan kali dengan penuh khidmat. Namun di sini, di antara puing dan tenda darurat, warga pasti penuh harap bagaimana agar rumahnya kembali berdiri.
Dan di sinilah kita sekarang—di persimpangan antara slogan dan kenyataan. “Kami Indonesia, Kami Pancasila.” Kalimat itu begitu gagah di baliho, begitu lantang di podium, begitu rapi di bio media sosial para pejabat.
Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia.
Indah. Sungguh indah. Tapi keindahan itu diuji bukan di ruang sidang ber-AC, bukan di studio televisi dengan pencahayaan sempurna. Keindahan itu diuji di sini—di tangan seorang guru honorer yang mengais buku-buku muridnya dari balik reruntuhan sekolah, di bahu tetangga yang tanpa diminta menggotong lansia menjauh dari bangunan retak, di sepiring nasi yang dibagi untuk lima mulut lapar di posko darurat.
Bukan waktunya berdebat di kolom komentar. Bukan waktunya menunggu konferensi pers. Bukan waktunya menghitung apakah membantu korban bencana akan menaikkan elektabilitas. Ini waktunya menjadi Indonesia yang sesungguhnya.
Kemerdekaan sejati bukan tentang bebas dari penjajah asing delapan puluh satu tahun silam. Mungkin kemerdekaan sejati adalah ketika kita bebas dari ego sendiri—ketika “Kami Indonesia, Kami Pancasila” bukan lagi kalimat untuk sekedar diucapkan, melainkan untuk dilakukan.
NTT bergetar. Saudara-saudara kita butuh lebih dari doa dan simpati lima belas detik di layar ponsel. Mereka butuh tangan. Mereka butuh kehadiran. Mereka butuh bukti bahwa persatuan itu nyata, bukan sekadar teks di pembukaan UUD yang dihafal anak SD lalu dilupakan.
Besok kita merayakan hari kemerdekaan. Mari rayakan dengan cara yang paling merdeka: berdiri bersama mereka yang sedang jatuh.
Saat tanah NTT bergetar, seharusnya hati kita juga ikut bergetar. Bergetar untuk mengulurkan tangan. Mereka adalah saudara kita sebangsa dan setanah air. (*)
