Bung Tomo dan Perang Semesta Surabaya 1945

Bung Tomo dan Perang Semesta Surabaya 1945
*) Oleh : Nanang Purwono, S.Pd
Jurnalis Senior dan Pegiat Sejarah
www.majelistabligh.id -

Perang Surabaya yang meletus pada November 1945 bukan sekadar babak dalam sejarah militer Indonesia, tetapi merupakan simbol nyata dari perlawanan semesta. Di medan laga itu, bukan hanya tentara yang mengangkat senjata.

Seluruh elemen masyarakat—dari petani hingga pelajar, dari tokoh agama hingga juru masak dapur umum—turun ke jalan, bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Pertempuran ini adalah saksi betapa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan berdarah.

Dalam situasi yang serba tak pasti, ketika pasukan Sekutu datang dengan senjata lengkap untuk mengembalikan kekuasaan kolonial, masyarakat Surabaya menolak tunduk. Mereka memilih melawan. Mereka memilih merdeka.

Yang paling menonjol dalam perang ini adalah keberanian para pemuda—yang dikenal sebagai arek-arek Surabaya.

Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara. Ada yang berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah-wilayah lain. Mereka berbeda suku dan bahasa, namun di Surabaya mereka melebur menjadi satu: anak bangsa yang bersumpah tak akan membiarkan tanah air diinjak kembali oleh penjajah.

Semangat mereka tak lepas dari api yang disulut oleh pidato-pidato penuh semangat dari seorang tokoh muda: Bung Tomo.

Di saat genting, ketika bom mulai berjatuhan dan peluru mulai berseliweran di udara, Bung Tomo berdiri, menggugah, membakar semangat juang yang nyaris padam. Pidatonya menjadi denyut nadi perjuangan.

Kata-katanya tidak hanya terdengar di telinga, tetapi menggema hingga ke jantung dan tulang para pejuang.

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih merah dan putih… maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapapun juga!” serunya dalam satu pidato yang kini abadi dalam ingatan bangsa.

Kalimat-kalimat seperti itu bukan hanya orasi, tetapi menjadi mantra yang menghidupkan keberanian. Pidato Bung Tomo menjelang 10 November 1945 menjadi pengobar semangat perlawanan yang tidak bisa dipadamkan, bahkan oleh dentuman meriam sekalipun.

Penelusuran atas pidato legendaris ini juga dilakukan dalam kajian akademik. Salah satunya adalah skripsi karya Rian Anggara dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (Unila) yang berjudul “Tindak Tutur dalam Pidato Bung Tomo dan Implementasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA.”

Kajian ini menunjukkan bagaimana pidato Bung Tomo bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai kebahasaan dan pendidikan yang bisa ditanamkan kepada generasi muda.

Perang Surabaya adalah tonggak penting yang mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan hanya bisa dirawat jika rakyatnya bersatu dan berani membela.

Bahwa semangat nasionalisme tidak lahir dari ruang hampa, tetapi dari nyala keberanian, solidaritas lintas etnis, dan keyakinan tak tergoyahkan pada arti kemerdekaan.

Hari ini, saat kita mengenang pertempuran 10 November 1945, mari rasakan kembali bagaimana jantung para pejuang itu berdetak.

Dengarkan kembali gema pidato Bung Tomo. Dan sadari, bahwa kita adalah pewaris dari keberanian yang sama—keberanian untuk mempertahankan, memperjuangkan, dan memaknai kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

Isi Pidato Bung Tomo

“Bismillahirrohmanirrohim…. Merdeka!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.

Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet pamflet, yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.

Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.

Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara…

Di dalam pertempuran pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda pemuda dari seluruh Sumatera: pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.

Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara saudara.

Dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran, tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya, kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu. Dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Dengarkanlah ini tentara Inggris! Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.

Hai tentara Inggris!

Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.

Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.

Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu.

Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada.

Tetapi inilah jawaban kita, selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga.

Saudara-saudara rakyat Surabaya… siaplah keadaan genting!

Tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.

Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap, merdeka atau mati!!!

Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.

Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! MERDEKA!!!”

Siapapun mendengar pidato Bung Tomo akan siap maju walaupun mati adalah taruhannya. Degup dan detak jantung itu terasa menggerakkan dada, meski hanya menulis ini. (*).

Tinggalkan Balasan

Search