Cara Muhammadiyah Merawat Optimisme di Tengah Carut Marut Bangsa

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana rambu lalu lintas di sekitar kita sering kali diabaikan? Kita seperti hidup di masa ketika aturan hukum dan kebijakan negara dianggap sebatas formalitas belaka.

Bayar pajak ditunda-tunda, aturan tata ruang dilanggar, hingga urusan membuang sampah pun sembarangan. Sebagian masyarakat seolah terjebak dalam sikap acuh tak acuh (apatis), mengira bahwa melanggar aturan adalah sebuah bentuk kebebasan.

Apatisme arus bawah memang bisa dipahami, karena mereka sedang hidup dalam keterbatasan, sering dikhiati, dan suaranya tidak pernah didengar. Suara mereka hanya dibutuhkan saat Pemilu, memilih pemimpin yang sebenarnya tidak pernah mereka kenal.

Melihat kondisi bangsa saat ini memang bisa membuat kita mengelus dada. Polarisasi di media sosial sering kali menguras energi, sementara kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara sedang diuji. Kita terkadang lebih sibuk berdebat di kolom komentar ketimbang bersama-sama mengawal jalannya pemerintahan.

Namun, apakah semua carut-marut ini berarti kita harus menyerah dan putus asa terhadap masa depan Bangsa ini? Tentu saja tidak.

Kacamata Muhammadiyah

Sebagai warga Muhammadiyah, kita diajarkan untuk memandang tantangan dengan kacamata yang berbeda. Optimisme kita bukan jenis optimisme yang kosong atau sekadar percaya begitu saja pada janji-janji manis politik. Optimisme kita adalah optimisme yang rasional dan bergerak. Kita percaya bahwa perubahan yang baik akan lahir ketika masyarakatnya cerdas, kritis, dan mau bekerja keras.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, telah menegaskan bahwa posisi atau relasi Muhammadiyah dengan penguasa maupun pemerintah adalah loyal-kritis. Yakni mendukung program yang baik dan berdampak ke masyarakat, namun kritis terhadap kebijakan yang perlu dikritik.

Bagi kader Muhammadiyah, merawat bangsa ini tidak harus selalu menunggu pemerintah bergerak maju. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah menginternalisasi semangat Tajdid (pembaruan) dan Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ketika menghadapi situasi yang kurang ideal, energi kita tidak dihabiskan untuk sekadar memaki atau mengeluh, melainkan dialihkan menjadi aksi nyata yang menyentuh akar rumput.

Inilah esensi dari dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) yang modern. Muhammadiyah menerjemahkannya melalui ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga pemberdayaan ekonomi yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Saat fasilitas pendidikan atau kesehatan di suatu daerah belum memadai, Muhammadiyah hadir membangunnya. Ini adalah kontribusi nyata, sebuah bukti otentik bahwa mencintai negara ini dilakukan dengan kerja konkret.

Kita tidak sekadar menuntut hak, tetapi mengambil tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan dan menyehatkan kehidupan bangsa. Kebijakan negara boleh saja lamban, tetapi kepedulian sosial kita tidak boleh ikut melambat.

Oleh karena itu, mari kita rawat optimisme ini bersama-sama. Bukan dengan menutup mata dari masalah yang ada, melainkan dengan membuka mata lebar-lebar, mengasah nalar, dan melangkah serentak demi kemajuan.

Negara yang kuat dan berkemajuan tidak lahir secara instan dari pemimpin yang sempurna, melainkan dari warga negara yang menolak untuk menyerah pada keadaan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search