Ketika dunia sering kali terjebak dalam narasi benturan peradaban, ada satu sosok yang selama lebih dari tiga dekade memilih jalan berbeda. Raja Charles III—yang sebelum naik takhta dikenal sebagai Pangeran Wales—secara konsisten menyuarakan penghargaan terhadap Islam. Bukan sebagai basa-basi diplomatik, melainkan sebagai keyakinan intelektual dan spiritual yang mendalam.
Pada Oktober 1993, di hadapan para akademisi di Oxford Centre for Islamic Studies, Charles menyampaikan pidato berjudul “Islam and the West”. Bukan kata-kata seorang politisi yang hati-hati, melainkan refleksi jujur seorang pewaris takhta.
Ia mengkritik keras kecenderungan Barat yang memandang Islam semata-mata melalui lensa ketakutan dan stereotip. “Kita tidak bisa memahami Islam jika kita hanya melihatnya dari luar,” ujarnya.
Ia menyerukan agar Barat mengakui hutang peradabannya kepada dunia Islam—dari filsafat, kedokteran, hingga matematika—yang selama berabad-abad menjadi fondasi Renaisans Eropa. Pidato itu bukan peristiwa satu malam. Ia menjadi benang merah dalam perjalanan Charles selama puluhan tahun setelahnya.

Kekaguman pada Peradaban Islam
Charles III dikenal sebagai pencinta arsitektur dan seni tradisional. Dalam banyak kesempatan, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap geometri Islam, kaligrafi, dan tata kota yang berpusat pada komunitas.
Baginya, prinsip tauhid tercermin dalam harmoni desain masjid, istana Andalusia, dan taman-taman Persia. Ia melihat dalam tradisi Islam sebuah kebijaksanaan yang selaras dengan keyakinannya tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Sebagai Patron Oxford Centre for Islamic Studies sejak 1993, Charles secara aktif mendukung kajian akademik tentang Islam di jantung dunia Barat. Ia tidak sekadar menandatangani dokumen seremonial; ia hadir, berdiskusi, dan memastikan pusat keilmuan tersebut menjadi ruang dialog yang hidup.
Kunjungan Charles ke negara-negara mayoritas Muslim—Arab Saudi, Mesir, Turki, Yordania, hingga Indonesia—selalu ditandai dengan gestur yang melampaui protokol. Ia melepas sepatu sebelum memasuki masjid, mendengarkan azan dengan khidmat, dan berbincang dengan ulama setempat bukan sebagai kepala negara, melainkan sebagai seorang murid yang ingin memahami.
Charles menyimpan kedekatan dengan dimensi spiritual Islam, khususnya tasawuf. Gagasan tentang kesatuan makhluk, kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi bergema kuat dalam pandangan hidupnya. Ia pernah menyebut bahwa dunia modern telah kehilangan “rasa sakral” yang justru masih dijaga oleh tradisi-tradisi Islam.
Kedudukannya yang kini resmi sebagai Raja Inggris tidak lantas mengikis komitmen panjang tersebut. Saat prosesi naik takhtanya, Charles memilih untuk mengikrarkan diri bukan sekadar sebagai “Defender of the Faith” (Pelindung Kepercayaan)—sebuah gelar tradisional raja-raja Inggris—melainkan secara terbuka menegaskan perannya sebagai “Defender of Faiths” (Pelindung Agama-Agama).
Perubahan artikulasi yang tampak sederhana ini membawa pesan inklusivitas yang sangat kuat: sebuah komitmen royal untuk melindungi kebebasan beragama bagi seluruh warga Persemakmuran, termasuk jutaan umat Muslim yang hidup di dalamnya.
Sikap Charles yang konsisten ini juga menyentuh generasi muda Muslim di Barat yang kerap mengalami krisis identitas dan prasangka sosial. Dukungannya terhadap program-program kewirausahaan, seni, dan pendidikan melalui lembaga amal seperti The Prince’s Trust telah merangkul banyak pemuda dari komunitas minoritas.
Bagi mereka, memiliki seorang raja yang mau mempelajari sejarah, mengapresiasi kontribusi peradaban mereka, dan membela hak-hak mereka di tengah maraknya isu islamofobia adalah sebuah bentuk pengakuan moral yang sangat berarti.
Raja Charles III bukanlah seorang Muslim, dan ia tidak pernah berpura-pura demikian. Namun, dalam dirinya terdapat sesuatu yang langka di panggung kekuasaan global, yakni sebuah keberanian untuk berkata bahwa Islam adalah bagian tak terpisahkan dari warisan kemanusiaan dunia.
Di tengah dunia yang kerap memilih tembok dan pagar tinggi, ia memilih jembatan—dan ia membangunnya bata demi bata, selama lebih dari tiga puluh tahun. (*)
