Iduladha selalu jadi momentum sakral. Takbir menggema, pisau tajam disiapkan, dan darah kurban mengalir sebagai simbol ketundukan kepada Allah. Tapi belakangan, sakralitas itu mulai disusupi aroma politik. Kurban tidak lagi murni persembahan iman, melainkan kendaraan elektoral menuju 2029.
Daging-Darah dan Simpati Politik
Berita beberapa waktu lalu cukup ramai dimana Presiden berkurban dengan dana APBN. Jumlahnya tidak main-main, hampir 1000 ekor sapi disebar ke seluruh penjuru negeri. Secara logistik, ini luar biasa. Ribuan ton daging mengalir ke pelosok, diterima rakyat dengan tangan terbuka. Efeknya instan. Di tengah harga daging yang mahal, kehadiran “sapi presiden” langsung menumbuhkan simpati.
Warga berbaris, berfoto, lalu mengunggah dengan tagar terima kasih kepada penguasa. Dari sisi politik, ini investasi murah. Satu sapi bisa menjangkau ratusan kepala keluarga. Seribu sapi artinya jutaan potensi suara. Maka lahirlah istilah baru di warung kopi, politik sapi.
Politik sapi bekerja sederhana dimana daging untuk perut, citra untuk penguasa. Narasi agama dibungkus program negara. Yang dijual bukan lagi semangat Ibrahim dan Ismail, tapi siapa paling dermawan menjelang kontestasi 2029.
Ketika takwa diganti dengan politik pencitraan, maka terjadi pertentangan besar bila dikaitkan dengan agama. Al-Qur’an sudah menegaskan hakikat kurban jauh sebelum musim kampanye dikenal, sebagai pendekatan kepada Rabb. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya :
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
_“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini lugas. Allah tidak butuh daging. Allah tidak haus darah. Yang dinilai adalah takwa, kesadaran batin bahwa harta, jabatan, bahkan nyawa, hakikatnya milik-Nya. Kurban adalah latihan melepaskan kepemilikan, bukan alat menambah kepemilikan suara.
Tapi dalam politik sapi, ayat itu dibalik. Takwa sebagai spirit kurban perlahan hilang. Yang tersisa hanya “darah dan kulit” untuk persembahan politik. Sapi disembelih, daging dibagikan, kamera dinyalakan, baliho dinaikkan. Niatnya bukan lagi kurban untuk mendekat kepada Tuhan, melainkan qorbun, mendekat kepada kursi kekuasaan.
Narasi agama memang laku dijual. Ia menyentuh emosi paling dalam. Ketika penguasa datang membawa sapi, rakyat tidak melihat APBN. Yang terlihat adalah “pemimpin saleh yang peduli”. Padahal uang itu uang rakyat sendiri. Kurban dengan dana negara untuk citra pribadi adalah bentuk dagang sapi yang berbahaya.
Pertama, ia merusak niat. Kurban berubah dari ibadah vertikal menjadi transaksi horizontal. Kedua, ia mendidik rakyat jadi pragmatis: “Siapa kasih daging, dia yang kami pilih”. Ketiga, ia menormalisasi penggunaan simbol agama untuk akumulasi modal politik. Lama-lama, masjid, zakat, haji, semua bisa jadi alat kampanye.
Lebih jauh, politik sapi menciptakan standar ganda. Jika kepala daerah oposisi bagi-bagi kurban, disebut pencitraan. Tapi jika dilakukan penguasa, disebut program negara. Agama akhirnya tidak membimbing politik, tapi ditundukkan oleh politik.
Mengembalikan Ruh Kurban
Apa yang harus dilakukan ketika fenomena politik lebih dominan hingga menghilangkan spirit agama ? Bukan berarti presiden tidak boleh kurban. Justru teladan pemimpin berkurban itu penting. Tapi ada tiga rambu agar tidak jatuh pada politik sapi:
Pertama, pisahkan dana pribadi dan dana negara. Jika ingin kurban sebagai hamba, gunakan harta pribadi. Jika negara yang kurban, jangan tempel nama dan wajah di setiap kantong daging. Biarkan negara hadir tanpa baliho.
Kedua, Jujur pada niat. Masyarakat sudah cerdas. Mereka tahu beda antara ibadah dan kampanye. Sekali agama dipakai untuk menipu, kepercayaan pada agama ikut rusak.
Ketiga, Edukasi makna kurban. Mimbar dan media harus kembali menyuarakan QS. Al-Hajj: 37. Bahwa yang sampai ke langit bukan beratnya sapi, tapi ringannya hati melepas dunia. Bahwa presiden, menteri, dan rakyat, semua sama di hadapan pisau kurban: diuji taqwanya.
Jangan sembelih takwa demi 2029 meskipun 2029 masih jauh, tapi politik sapi sudah mulai digembalakan dari sekarang. Jika dibiarkan, setiap Iduladha akan jadi panggung elektoral. Masjid jadi posko, darah kurban jadi tinta stempel dukungan.
Padahal Ibrahim tidak menyembelih Ismail untuk dapat kerajaan. Ia menyembelih ego, tunduk, dan percaya. Dari sanalah lahir millah Ibrahim yang hanif.
Tugas kita hari ini adalah menyelamatkan kurban dari politik dagang sapi. Kembalikan daging pada fakir miskin tanpa embel-embel politik. Kembalikan darah pada tanah tanpa noda citra. Dan kembalikan taqwa sebagai satu-satunya yang naik ke langit. Sebab jika takwa hilang, yang tersisa hanya sapi. Dan bangsa ini terlalu besar untuk digiring hanya dengan sekeranjang daging. (*)
Pacet, 28 Mei 2029
