Ketika Dunia Makin TUNA, Apa yang Masih Boleh Tetap Kokoh?

Ketika Dunia Makin TUNA, Apa yang Masih Boleh Tetap Kokoh?
*) Oleh : Muhammad Khoirun Nizam, S.Sos
Mahasiswa Pascasarjana UMSURA
www.majelistabligh.id -

Kita hidup di zaman ketika perubahan tidak lagi datang sebagai kejutan sesekali. Perubahan telah menjadi keadaan sehari-hari. Dunia bergerak cepat, tetapi manusia tidak selalu memiliki cukup waktu untuk memahami ke mana arah geraknya.

Situasi ini dapat dibaca melalui istilah TUNA, akronim dari Turbulence, Uncertainty, Novelty, dan Ambiguity. Turbulence berarti dunia mengalami guncangan dan perubahan yang sulit dikendalikan. Uncertainty menunjuk pada semakin sulitnya memprediksi masa depan. Novelty menggambarkan munculnya kebaruan secara terus-menerus, terutama melalui teknologi. Sementara Ambiguity menunjukkan keadaan ketika sebuah fakta dapat memiliki banyak tafsir dan batas antara benar-salah semakin kabur.

TUNA bukan sekadar istilah baru dalam dunia manajemen. Ia menggambarkan pengalaman manusia kontemporer: hidup dalam dunia yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita membangun kepastian.

Data Global Risks Report 2026 World Economic Forum memperlihatkan gambaran yang tidak jauh berbeda. Dari lebih 1.300 ahli dan pengambil keputusan yang disurvei, separuh memperkirakan kondisi global dua tahun ke depan akan berada dalam keadaan turbulent atau stormy. Hanya sekitar satu persen yang melihat dunia menuju kondisi yang tenang. Misinformasi, disinformasi, dan polarisasi sosial juga masuk dalam risiko global jangka pendek paling serius.

Dalam situasi seperti ini, gagasan Zygmunt Bauman tentang modernitas cair (liquid modernity) menjadi semakin relevan. Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat yang struktur sosialnya semakin fleksibel dan tidak lagi kokoh seperti sebelumnya. Pekerjaan, relasi, identitas, gaya hidup, bahkan cara manusia memperoleh informasi dapat berubah dengan cepat.

Kita hidup dalam dunia yang semakin cair.

Namun persoalannya bukan sekadar bahwa banyak hal berubah. Persoalan yang lebih serius adalah kita mulai kesulitan menentukan apa yang seharusnya ikut berubah dan apa yang harus tetap kokoh.

Teknologi boleh berubah. Cara bekerja boleh berubah. Media komunikasi boleh berubah. Tetapi apakah kejujuran juga harus berubah? Apakah amanah harus mengikuti tren? Apakah kebenaran harus tunduk pada algoritma? Apakah solidaritas sosial harus kalah oleh individualisme?

Di sinilah agama memperoleh relevansinya.

Dalam dunia yang semakin TUNA, agama seharusnya tidak diposisikan sebagai institusi yang alergi terhadap perubahan. Agama justru perlu hadir sebagai jangkar nilai di tengah arus perubahan.

Islam memiliki sejumlah nilai yang relevan menghadapi keadaan tersebut. Sabar bukan sekadar menunggu, tetapi kemampuan menjaga keteguhan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Tawakkal bukan alasan untuk berhenti berikhtiar, tetapi kesadaran bahwa manusia tidak pernah memiliki kendali penuh atas masa depan.

Tabayyun menjadi semakin penting ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya. Sementara ta’awun menjadi modal sosial ketika ketidakpastian membuat manusia mudah terjebak dalam kepentingan dirinya sendiri.

Sayangnya, keberagamaan pun tidak sepenuhnya kebal terhadap turbulensi zaman. Di ruang digital, agama terkadang ikut diperlakukan sebagai komoditas perhatian. Ceramah dinilai dari jumlah penonton, kesalehan dipertontonkan melalui citra, sementara perbedaan pandangan mudah berubah menjadi pertarungan identitas.

Agama akhirnya berisiko ikut menjadi “cair”.

Padahal, justru ketika dunia kehilangan kepastian, manusia membutuhkan sesuatu yang tidak mudah berubah. Bukan dogmatisme yang menolak kenyataan, melainkan prinsip yang mampu menjadi kompas ketika arah berubah.

Karena itu, tantangan umat di era TUNA bukan sekadar bagaimana menjadi lebih adaptif terhadap perubahan. Kita juga perlu bertanya: adaptif terhadap apa, dan untuk mempertahankan nilai yang mana?

Jika semuanya harus berubah mengikuti zaman, maka manusia berisiko kehilangan pijakan. Tetapi jika semua perubahan ditolak, agama akan kehilangan kemampuan menjawab kenyataan.

Jalan tengahnya bukan memilih antara perubahan dan keteguhan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan berubah tanpa kehilangan nilai.

Sebab dunia boleh TUNA. Modernitas boleh semakin cair. Teknologi boleh terus menciptakan kebaruan.

Tetapi ada hal-hal yang seharusnya tetap kokoh: kejujuran, keadilan, amanah, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada kebenaran.

Barangkali itulah tantangan keberagamaan yang paling penting hari ini: bukan menghentikan dunia agar tidak berubah, melainkan memastikan manusia tidak kehilangan dirinya ketika dunia berubah terlalu cepat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search