Dakwah Kreatif di TikTok dan Reels: Antara Niat Tulus dan Jebakan Feeds

Dakwah Kreatif di TikTok dan Reels: Antara Niat Tulus dan Jebakan Feeds
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Layar HP berukuran lima inci kini menjadi mimbar baru. Tanpa perlu menyewa gedung atau menggelar karpet masjid, jutaan pasang mata bisa menyimak pesan-pesan kebaikan hanya dalam durasi 30 hingga 60 detik. TikTok dan Instagram Reels telah mengubah lanskap dakwah secara dramatis: pesan agama yang dulu terkesan kaku kini dikemas serba cepat, visual, dan menghibur.

Namun, berdakwah di ruang algoritma bukanlah tanpa tantangan. Ada garis tipis yang memisahkan antara kemurnian niat menyebarkan syiar dengan dorongan haus engagement.

Transformasi Dakwah di Era Algoritma

Media sosial memberikan fleksibilitas luar biasa bagi para dai muda. Substansi agama yang berat ditranslasikan menjadi konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dibungkus bahasa yang cair, serta memanfaatkan tren audio atau visual yang sedang hangat.

– Jangkauan Tanpa Batas: Konten dakwah bisa menembus dinding perbedaan geografis dan demografis hanya melalui fitur For You Page (FYP).

– Pendekatan Humanis: Penyampaian pesan yang santai membuat agama terasa lebih dekat, ramah, dan solutif bagi generasi muda.

Jebakan Feeds dan Sensasi

Di balik potensi besarnya, media sosial dirancang dengan sistem kapitalisme atensi. Algoritma menyukai hal-hal yang memicu reaksi cepat: kontroversi, visual yang mencolok, dan tren yang repetitif. Di sinilah “jebakan feeds” mulai mengintai penyeru kebaikan.

– Pergeseran Niat (Riya Digital): Jumlah likes, views, dan followers sangat mudah mengikis ketulusan hati. Unggahan yang awalnya ditujukan untuk mengedukasi perlahan bergeser menjadi sarana berburu validasi publik.

– Pendangkalan Makna: Demi mengejar durasi pendek dan ritme yang cepat, Isu-isu agama yang kompleks sering kali disederhanakan secara berlebihan (oversimplification), yang berisiko memicu salah paham atau klaim kebenaran sepihak.

– Komodifikasi Agama: Penggunaan gimik berlebihan atau sekadar mengikut tren musik yang tak sejalan dengan etika Islam demi algoritma dapat mencoreng kesucian pesan dakwah itu sendiri.

Menjaga Arah Kebaikan

Dakwah digital memerlukan kedewasaan spiritual sekaligus pemahaman media yang mumpuni. Para kreator dakwah dituntut untuk terus melakukan evaluasi diri (muhasabah) di balik layar studio mereka.

Substansi tidak boleh dikorbankan demi estetika visual atau angka statistik. Kreativitas adalah sarana pembungkus, namun niat tulus karena Allah tetaplah ruhnya. Ketika kreator mampu menyeimbangkan ketepatan strategi media dengan kesucian niat, dakwah di TikTok dan Reels tidak sekadar menjadi tontonan yang lewat di layar, melainkan menjadi tuntunan yang meresap ke dalam hati.

Meskipun Al-Qur’an diturunkan jauh sebelum adanya media sosial, prinsip-prinsip utama Al-Qur’an memberikan landasan yang sangat tegas terkait dakwah kreatif, kemurnian niat, hingga bahaya jebakan popularitas digital.

Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan untuk membedah fenomena Dakwah Kreatif di TikTok dan Reels: Antara Niat Tulus dan Jebakan Feeds:

1. Landasan Dakwah Kreatif (Konsep Hikmah dan Mau’izhah)
Al-Qur’an memerintahkan untuk menyampaikan ajaran agama dengan cara yang bijak dan relevan sesuai dengan konteks zamannya. Di era digital, ini menjadi bentuk “dakwah kreatif”.

QS. An-Nahl (16): 125
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.
424) Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil.

Ajaklah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik (mau’izhah hasanah), dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.

Relevansi: Hikmah mencakup penggunaan media, format, dan bahasa yang tepat (seperti video pendek TikTok/Reels) agar pesan Islam mudah diterima oleh generasi muda tanpa mengurangi substansi nilai-nilai agama.

2. Kemurnian Niat dan Bahaya Riya Digital
Di tengah godaan jumlah likes, views, dan followers, Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap amal ibadah termasuk berdakwah hanya bernilai jika dilakukan secara tulus (ikhlas) tanpa mengharapkan validasi manusia.

QS. Al-Bayyinah (98): 5
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).

Relevansi: Berdakwah untuk mengejar popularitas atau angka engagement tergolong bentuk riya’ (ingin dilihat/dipuji), yang dapat menghapuskan pahala dari konten dakwah itu sendiri.

3. Kebijakan Menyaring Informasi (Menghindari Pendangkalan Makna)
Algoritma feeds kerap mendorong penciptaan konten yang instan, memicu kontroversi, atau menyederhanakan hukum agama demi durasi singkat. Al-Qur’an mengingatkan pentingnya sikap kritis dan kehati-hatian (tabayyun).

QS. Al-Isra’ (17): 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Relevansi: Baik pembuat maupun penikmat konten dakwah bertanggung jawab atas kebenaran ilmu yang disampaikan. Jangan sampai demi konten yang cepat tular (viral), isi ajaran dipotong-potong hingga keluar dari konteks aslinya.

4. Ancaman Memperjualbelikan Ayat Demi Keuntungan Duniawi
Jebakan terbesar dalam ekosistem digital adalah ketika dakwah murni dijadikan sekadar komoditas untuk meraih keuntungan materi atau status sosial belaka.

QS. Al-Baqarah (2): 41
ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖوَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ
Dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah, dan bertaqwalah hanya kepada-Ku.

Relevansi: “Harga yang murah” tidak hanya berupa materi, tetapi juga pujian, tren feeds, dan popularitas semu di dunia digital jika hal tersebut mengorbankan kejujuran serta kesucian pesan agama. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search