Dapur dan Kekuasan

Dapur dan Kekuasan
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Barangkali sejarah sebuah bangsa tidak selalu ditulis di ruang sidang. Kadang ia sedang mendidih di atas tungku. Di sana, nasi mengepul. Sayur diaduk. Telur dibagikan. Anak-anak menunggu.

Lapar tak pernah mengenal ideologi.
Perut yang kosong tidak bertanya siapa presiden, siapa menteri, atau organisasi apa yang mengelola makan siangnya.

Tetapi orang dewasa selalu berhasil membawa politik ke mana-mana. Bahkan ke dapur.

Kini Muhammadiyah menjadi salah satu pengelola terbesar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sebagian melihatnya sebagai prestasi. Sebagian lain memandangnya dengan curiga.

Dua-duanya mungkin benar. Sebab setiap amanah yang membesar selalu melahirkan dua kemungkinan: pelayanan atau kekuasaan.

Muhammadiyah lahir bukan untuk mengejar proyek. Ia lahir untuk melayani.

Rumah sakit, sekolah, panti asuhan, universitas—semuanya dibangun bukan karena anggaran negara, melainkan karena keyakinan bahwa agama harus hadir dalam bentuk kerja nyata.

Namun sejarah juga mengajarkan satu hal yang sederhana: tidak sedikit gerakan yang berubah ketika terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Yang mula-mula datang membawa idealisme, pulang membawa kebiasaan birokrasi. Yang mula-mula mengoreksi negara, perlahan sibuk membenarkan negara.

Di situlah godaan bermula.

Dapur bisa menjadi tempat memasak makanan. Tetapi dapur juga bisa menjadi tempat “memasak” pengaruh.

Anggaran yang besar selalu mengundang hasrat yang besar.

Kekuasaan jarang datang dengan wajah yang garang; ia sering hadir sebagai kesempatan untuk “berbuat baik”.

Karena itu, kritik bukan musuh. Kritik adalah cermin.

Organisasi yang percaya diri tidak takut bercermin. Yang ditakuti justru ketika cermin disingkirkan, lalu semua merasa dirinya selalu benar.

Muhammadiyah memiliki modal yang tak bisa dibeli: kepercayaan publik yang dibangun lebih dari satu abad.

Nilai itu jauh lebih mahal daripada ribuan dapur dan triliunan rupiah anggaran. Sekali hilang, ia tak dapat dipulihkan hanya dengan laporan keberhasilan.

Akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak SPPG berdiri. Bukan pula berapa juta porsi makanan dibagikan.

Pertanyaannya jauh lebih sunyi.
Apakah setiap anak benar-benar memperoleh makanan yang layak?

Apakah setiap rupiah dipertanggungjawabkan?

Dan yang paling penting, ketika Muhammadiyah masuk ke dapur negara, apakah ia tetap menjadi gerakan yang menjaga jarak dari godaan kekuasaan, atau justru perlahan menjadi bagian darinya?

Sebab sejarah tidak pernah menghakimi organisasi karena besarnya.

Sejarah hanya bertanya: ketika kesempatan datang, apakah engkau tetap setia kepada cita-cita yang melahirkanmu?
Jakarta, 21 Juli 2026
#BuyaDarwis

Tinggalkan Balasan

Search