Dari Kampus ke Ruang Publik: UMSURA Ajak Mahasiswa Menulis Opini dan Artikel Ilmiah Berbasis AI

Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) gelar coaching penulisan opini dan artikel ilmiah berbasis artificial intelligence. (ist)
www.majelistabligh.id -

Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat gagasan lahir. Gagasan juga harus menemukan jalan menuju ruang publik. Semangat itulah yang dibawa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) melalui coaching penulisan opini dan artikel ilmiah berbasis artificial intelligence (AI), Rabu (12/8/2026).

Bertempat di Aula Lantai 13 Gedung At-Tauhid UMSURA, kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 20 mahasiswa Program Magister Hukum Ekonomi Syariah, Program Doktor Studi Islam, serta dosen Sekolah Pascasarjana UMSURA. Mereka tidak sekadar belajar bagaimana menulis, tetapi juga bagaimana mengubah pengetahuan akademik menjadi gagasan yang bisa dibaca, diperdebatkan, dan memberi pengaruh di tengah masyarakat.

Kegiatan dibuka Wakil Rektor IV UMSURA Dr. Radius Setiawan, M.A. Dalam sambutannya, Radius mengingatkan bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia akademik.

AI, menurut dia, tidak semestinya membuat tradisi berpikir menjadi malas. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dimanfaatkan untuk mempercepat proses kreatif dan produktivitas akademik, tanpa menghilangkan integritas serta tanggung jawab penulis.

“AI adalah alat bantu. Gagasan, argumentasi, kreativitas, dan tanggung jawab akademik tetap berada pada manusia,” pesannya.

Pesan itu kemudian diperdalam oleh Dr. Sholikhul Huda, M.Fil.I., Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSURA sekaligus penulis buku best seller “Jalan Baru Napi Teroris.”

Dalam sesi coaching, Sholikhul tidak hanya berbicara tentang teknik menulis. Ia mengajak peserta melihat menulis sebagai tradisi intelektual. Mahasiswa pascasarjana, katanya, harus mampu keluar dari kebiasaan menulis sekadar untuk memenuhi tugas akademik.

“Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah cara mengubah pengetahuan menjadi gagasan. Karena itu, mahasiswa pascasarjana harus berani membawa hasil penelitian dan pemikirannya ke ruang publik,” ujarnya.

Peserta dibimbing menemukan ide, memilih sudut pandang, membuat judul, membangun argumentasi, hingga menyusun artikel opini yang memiliki daya tarik bagi media massa. AI juga diperkenalkan sebagai thinking partner untuk membantu brainstorming, menyusun kerangka tulisan, mengembangkan perspektif, dan menyunting bahasa.

Namun, teknologi tetap harus dikendalikan oleh penulis. Verifikasi sumber, orisinalitas, etika akademik, dan tanggung jawab ilmiah menjadi prinsip yang tidak boleh ditinggalkan.

Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan sehari. Sekolah Pascasarjana UMSURA memasang target yang cukup konkret: 20 opini mahasiswa dan dosen ditargetkan terbit di media online, serta 20 artikel ilmiah disubmit ke jurnal Sinta.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya publikasi di lingkungan pascasarjana. Kampus tidak hanya mengejar jumlah lulusan, tetapi juga melahirkan intelektual yang mampu berbicara melalui tulisan.

Mendapat Respons Positif

Hasan Kholis, salah seorang peserta, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru. “Senang mengikuti kegiatan ini. Banyak ilmu baru, terutama tentang bagaimana menggunakan AI untuk membantu proses menulis secara lebih sistematis,” katanya.

Peserta lainnya, Husni, menyebut kegiatan tersebut inspiratif karena materi yang diberikan dapat langsung dipraktikkan.

“Ini pengalaman baru dan sangat inspiratif. Kami jadi tahu bahwa menulis opini maupun artikel ilmiah ternyata bisa dimulai dari gagasan sederhana, kemudian dikembangkan dengan strategi yang tepat,” ujarnya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar AI bukanlah apakah mesin mampu menulis. Tantangan sebenarnya adalah apakah manusia masih mampu berpikir.

UMSURA tampaknya memilih jawaban yang jelas: AI boleh membantu menulis, tetapi manusia harus tetap menjadi pemilik gagasan. Dari ruang kelas pascasarjana, tulisan pun diharapkan bergerak menuju ruang publik. || gus sholikh

 

Tinggalkan Balasan

Search