Wisuda Ke-6 UMB: Sarjana Muhammadiyah Diminta Menjadi ‘Air’ yang Mengalirkan Manfaat

Wisuda Ke-6 UMB: Sarjana Muhammadiyah Diminta Menjadi 'Air' yang Mengalirkan Manfaat
www.majelistabligh.id -

Universitas Muhammadiyah Berau (UMB) kembali mencatat momentum penting dalam perjalanan pendidikan tinggi Muhammadiyah di Kabupaten Berau. Wisuda Sarjana ke-6 UMB, hari pertama dilaksanakan di Ballroom SM Tower & Convention, Tanjung Redeb, Rabu (9/9/ 2026).

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan penuh kebahagiaan. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Berau, Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur Ir. H. Amir Hady, Sultan Gunung Tabur, Dekan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Samarinda Dr. Ir. Tamrin Rahman, ST, MT, IPU, APEC Eng, ASEAN Eng,  yang sekaligus menyampaikan orasi ilmiah, seluruh anggota Senat UMB, Badan Pembina Harian (BPH) UMB, jajaran pimpinan dan sivitas akademika, para orang tua dan keluarga wisudawan, serta tamu undangan lainnya.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Universitas Muhammadiyah Berau. Suasana kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebagai penguatan nilai spiritual dalam momentum akademik tersebut.

Acara dilanjutkan dengan sambutan iftitah yang disampaikan Sekretaris PWM Kalimantan Timur, Ir. H. Amir Hady.

Dalam iftitahnya, Amir Hady menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas keberhasilan menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikan.

Namun, ia mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan.

“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Wisuda adalah awal dari pengabdian yang sesungguhnya.”

Menurutnya, gelar akademik bukan sekadar simbol keberhasilan pendidikan. Gelar tersebut harus dibuktikan melalui karya, integritas, dan kebermanfaatan di tengah masyarakat.

“Setelah hari ini, masyarakat tidak hanya bertanya apa gelar Anda, tetapi apa yang dapat Anda lakukan dengan ilmu yang Anda miliki,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena para lulusan akan memasuki kehidupan masyarakat dan dunia kerja yang penuh tantangan. Amir Hady mengingatkan bahwa kondisi perekonomian belum sepenuhnya baik, lapangan pekerjaan tidak selalu mudah, persaingan semakin ketat, dan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.

Karena itu, para lulusan diminta tidak membangun optimisme yang kosong, tetapi juga tidak larut dalam pesimisme. Mereka harus menghadapi masa depan dengan ilmu, kerja keras, integritas, dan tawakal kepada Allah SWT.

Mengutip QS. Al-Insyirah ayat 5–6, ia mengingatkan bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Selain persoalan ikhtiar dan optimisme, Amir Hady juga mengajak seluruh hadirin melakukan muhasabah. Menurutnya, dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, manusia tidak cukup hanya mencari solusi duniawi, tetapi juga perlu memperbanyak istighfar dan melakukan pertobatan kepada Allah SWT.

Ia juga mengingatkan agar para lulusan senantiasa membangun husnuzan kepada Allah, serta membekali diri dengan sabar, syukur, dan ikhlas dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Kepada para wisudawan, Amir Hady berpesan agar mereka menjadi profesional yang berkarakter berkemajuan, yakni tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga iman, akhlak, integritas, kepedulian sosial, serta keberanian menghadirkan solusi.

“Jadikan pekerjaan sebagai jalan pengabdian, jabatan sebagai amanah, dan ilmu sebagai jalan untuk mencerdaskan serta menyejahterakan masyarakat,” pesannya.

Setelah sambutan iftitah, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin H. Mohammad Yamin Awie, salah seorang pendiri dan penggagas perguruan tinggi Muhammadiyah di Berau yang kemudian berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Berau.

Dari Hulu ke Hilir: Belajar Menjadi Air

Selanjutnya, perhatian hadirin diarahkan pada orasi ilmiah yang disampaikan Dr. Ir. Tamrin Rahman, ST., MT., IPU., APEC Eng., ASEAN Eng., Dekan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman Samarinda. Dalam orasinya, Tamrin mengangkat tema “Dari Hulu ke Hilir: Belajar Menjadi Air”, sebuah refleksi hidrologi yang dikaitkan dengan ilmu, kehidupan, dan kebermanfaatan lulusan.

Tamrin menggunakan perjalanan air sebagai metafora kehidupan manusia. Dari hulu, air bergerak melewati berbagai kondisi dan hambatan hingga akhirnya mencapai hilir. Demikian pula manusia, khususnya para sarjana, memiliki perjalanan panjang yang tidak selalu lurus dan mudah. Yang menentukan bukan sekadar dari mana seseorang memulai, tetapi bagaimana ia mengalir, beradaptasi, melewati rintangan, dan memberikan manfaat dalam perjalanan tersebut.

Ia juga mengajak para lulusan melihat persoalan lingkungan dan kehidupan dari perspektif hidrologi. Sungai Berau-Kelai, misalnya, merupakan salah satu realitas penting di Berau yang memperlihatkan bagaimana air memiliki peran vital bagi kehidupan. Karena itu, pembangunan harus memperhatikan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya, daya dukung lingkungan, serta keberlanjutan ekosistem.

Pesan utama orasi tersebut kemudian diarahkan kembali kepada para wisudawan: ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Sebagaimana air yang terus mengalir dari hulu menuju hilir, ilmu pun harus bergerak dan menghasilkan manfaat. Tamrin menekankan pentingnya mengubah ilmu menjadi amal nyata dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Dengan demikian, seorang lulusan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi harus mampu mengalirkan pengetahuan itu menjadi solusi bagi persoalan di sekitarnya.

Orasi ilmiah tersebut memperkuat pesan iftitah sebelumnya bahwa gelar akademik bukanlah titik akhir. Para sarjana UMB diharapkan mampu menjadi seperti air: terus bergerak, mampu beradaptasi, melewati berbagai rintangan, dan yang terpenting memberikan kehidupan serta manfaat bagi lingkungan di mana pun mereka berada.

212 Wisudawan Mengikuti Prosesi Hari Pertama

Setelah orasi ilmiah, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda dan pembacaan ikrar wisudawan. Pada Wisuda Sarjana ke-6 ini, UMB mewisuda sebanyak 429 wisudawan dan wisudawati dari 11 program studi.

Jumlah tersebut dibagi dalam dua hari. Pada hari pertama, Rabu (9/9/2026), sebanyak 212 wisudawan mengikuti prosesi wisuda, sedangkan 217 wisudawan lainnya dijadwalkan mengikuti prosesi pada hari kedua.

Dalam sambutan Rektor UMB, para lulusan diingatkan bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses belajar. Dunia setelah kampus membutuhkan insan yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga integritas, kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, dan karakter yang kuat.

Wisuda Sekaligus Akhir Masa Jabatan Rektor

Momentum Wisuda ke-6 UMB juga memiliki makna khusus bagi Rektor UMB. Wisuda ini sekaligus menjadi bagian dari akhir masa pengabdian beliau sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Berau.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh keluarga besar UMB yang telah bersama-sama mendukung perjalanan universitas. Ia menegaskan bahwa membangun perguruan tinggi bukanlah pekerjaan satu orang, melainkan hasil kerja bersama, kebersamaan, dan keikhlasan seluruh sivitas akademika.

Rektor juga menitipkan UMB kepada kepemimpinan berikutnya agar terus dirawat dan dikembangkan sebagai rumah besar bersama, sekaligus pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.

Setelah sambutan Rektor, acara dilanjutkan dengan sambutan Wakil Bupati Berau yang menjadi bagian akhir dari rangkaian Wisuda Sarjana ke-6 UMB hari pertama.

Wisuda ke-6 UMB akhirnya bukan sekadar perayaan keberhasilan akademik. Ia menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa ilmu harus mengalir, kehidupan harus memberi manfaat, dan gelar harus berujung pada pengabdian.

Dari Ballroom SM Tower & Convention Tanjung Redeb, para lulusan UMB memulai babak baru kehidupan: membawa ilmu dari kampus ke tengah masyarakat, menjaga integritas, menghadirkan solusi, serta menjadi “air” yang terus mengalirkan manfaat bagi umat, bangsa, daerah, dan Persyarikatan Muhammadiyah.(ay.1)

 

Tinggalkan Balasan

Search