Pidato kenegaraan di hadapan Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD RI pada 14 Agustus 2026 lalu mendadak berubah menjadi panggung keriuhan publik. Pangkal penyebabnya sederhana namun menggelitik: kalkulasi angka yang meleset dari logika umum.
Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Susanah, seorang pekerja pengupas bawang dari Kabupaten Bogor, dengan sebutan berupah Rp700 ribu per kilogram. Beberapa waktu sebelumnya, matematika dasar pun mendadak goyah saat ucapan “10 ditambah 6 sama dengan 17” meluncur begitu saja. Dalam sekejap, jagat media sosial meledak.
Jagat maya dipenuhi unggahan kreatif, mulai dari humor cerdas yang mengocok perut hingga kritik sarkastis yang menohok tajam.
Namun, jika kita menengok ke belakang, ini bukanlah kali pertama. Ingatan publik tentu masih merekam pernyataan hiperbolik lainnya, seperti klaim keuntungan bisnis penggilingan padi yang mencapai angka fantastis Rp2 triliun per bulan.
Lantas, timbul pertanyaan penting dalam analisis ini: Apakah rentetan lidah terpleset (slip of the tongue) ini murni kekeliruan data, atau justru sebuah drama komunikasi politik yang diperhitungkan dengan matang?
Membedah dari Sudut Pandang Psikologi
Untuk memahami fenomena ini secara jernih tanpa prasangka, kita bisa membedahnya melalui tiga kacamata psikologi dan dinamika komunikasi:
- Cunningham’s Law: Umpan Salah untuk Efek Maksimal
Di dunia internet dikenal sebuah prinsip unik bernama Cunningham’s Law. Hukum ini menyatakan bahwa cara terbaik dan tercepat untuk mendapatkan perhatian atau jawaban yang benar bukanlah dengan bertanya, melainkan dengan sengaja melemparkan jawaban atau data yang salah.
Ketika seorang pemimpin mengutip angka Rp700 ribu per kilogram untuk pengupas bawang—sebuah angka yang sangat tidak masuk akal dalam realitas ekonomi kita—semua orang mendadak tergerak untuk mengoreksi, menghitung ulang, dan membicarakannya. Efeknya? Nama Bu Susanah dan isu kesejahteraan pekerja yang tadinya mungkin diabaikan, mendadak menjadi bahan perbincangan utama di seluruh pelosok negeri.
- Validation & Attention-Seeking: Menjaga Magnet Publik
Dalam ranah komunikasi massa, panggung politik membutuhkan daya tarik yang konstan. Narasi pidato yang datar, terlalu formal, dan penuh data teknis sering kali gagal menembus ruang dengar masyarakat awam. Dengan melempar angka yang kontroversial atau nyeleneh, panggung perhatian publik secara otomatis terkunci pada sang komunikator. Publik mungkin tertawa atau mengkritik, tetapi satu hal yang pasti: perhatian penuh telah berhasil didapatkan.
- Passive-Aggressive/Test Behavior: Menguji Kewaspadaan
Ditinjau dari dinamika kepemimpinan, melempar pernyataan kontradiktif juga bisa berfungsi sebagai test behavior—sebuah tes ombak untuk menguji tingkat kewaspadaan dan respons orang-orang di sekitarnya. Apakah para pembantu presiden, jajaran menteri, hingga publik luas benar-benar mendengarkan pidato tersebut dengan saksama? Ataukah mereka hanya sekadar mengangguk setuju tanpa mencerna isi pesan?
Mengalihkan Isu atau Sekadar Hiperbola?
Beberapa pengamat menilai ada potensi strategi pengalihan perhatian (smokescreen). Ketika ada isu krusial atau kebijakan sensitif yang sedang disorot, melempar kejutan angka yang “lucu” bisa menjadi penyerap benturan (shock absorber). Diskusi publik yang tadinya berat dan tegang mendadak cair—beralih menjadi perdebatan jenaka soal matematika dasar.
Namun, tidak menutup kemungkinan alasannya jauh lebih sederhana: gaya retorika oratoris yang cenderung bernarasi ekspresif dan hiperbolik. Seorang pemimpin yang terbiasa berbicara spontan tanpa teks yang kaku kerap kali kebablasan saat mencoba mengilustrasikan sebuah poin agar terasa megah.
Pada akhirnya, di era keterbukaan informasi saat ini, angka bukan lagi sekadar susunan digit, melainkan simbol akurasi dan kredibilitas. Baik itu bentuk Cunningham’s Law yang tak disengaja, strategi pengalihan isu, atau murni kecipratan kekeliruan data dari tim penyusun pidato, fenomena ini membuktikan satu hal: publik hari ini sangat kritis dan responsif.
Bagi publik, kekeliruan angka ini mungkin menjadi hiburan segar di tengah kepungan isu politik yang berat. Namun bagi lingkaran istana, ini adalah peringatan penting bahwa setiap kata—terutama yang berwujud angka—akan selalu ditimbang dengan kalkulator realitas oleh rakyatnya. (*)
