Meneladani Rasulullah saw. dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat bukanlah hal yang mustahil. Namun, untuk dapat menerapkan nilai-nilai keteladanan tersebut secara konsisten, seorang Muslim harus ditopang oleh tiga pilar karakter utama: iman kepada Allah, orientasi pada akhirat, dan kebiasaan berzikir.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saiful Bahri, dalam program Mimbar Jumat TVMu.
Mengutip Al-Qur’an, Saiful menjelaskan bahwa Allah Swt. mengutus Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik sekaligus teladan (uswatun hasanah). Keteladanan ini hanya bisa diserap maksimal jika seseorang memenuhi tiga kriteria spiritual.
“Pertama, orang yang beriman kepada Allah dan mengharapkan rida-Nya. Kedua, orang yang meyakini hari kebangkitan. Ketiga, orang yang banyak mengingat dan mengagungkan Allah Swt. Tiga hal ini adalah pilar untuk mendekatkan diri dan meneladani Nabi,” ujar Saiful.
Saiful mengaitkan keteladanan Nabi dengan misi perubahan sosial. Merujuk Surah al-Jumu‘ah ayat 2, Rasulullah saw. diutus di tengah masyarakat yang saat itu rendah tingkat literasinya. Beliau hadir bukan untuk menghakimi, melainkan membangkitkan potensi kebaikan yang selama ini tertutup oleh tradisi jahiliah.
Langkah awal yang dilakukan Nabi adalah membacakan ayat-ayat Allah, mengenalkan tauhid, serta memperkuat spiritualitas yang dilanjutkan dengan pengajaran Al-Qur’an dan hikmah.
“Rasulullah saw. tidak pernah menolak sumber daya manusia dengan latar belakang seburuk apa pun. Siapa pun yang datang dengan iman dan bersaksi kepada Allah, potensi positifnya bisa dibangkitkan,” tegasnya.
Fikih Perubahan Sosial (Fiqh al-Taghyir)
Dari rekam jejak sejarah tersebut, Saiful mengajak umat memahami pentingnya merancang perubahan sosial secara sadar. Ia mengenalkan konsep fiqh al-taghyir (fikih perubahan) atau yang dalam pemikiran kontemporer dikenal sebagai al-fiqh al-insya’i (rekayasa perubahan sosial).
“Perubahan sosial itu harus direkayasa. Jika tidak, kitalah yang akan terekayasa oleh keadaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembiaran terhadap kemungkaran akan membuat kehalan dan kesalahan dianggap sebagai hal biasa. Sebaliknya, perubahan yang dirancang dengan baik mampu mengubah kondisi masyarakat secara drastis, sebagaimana transformasi Madinah dari wilayah penuh konflik menjadi pusat peradaban dunia.
Karakter kedua, yaitu iman kepada hari akhir, berfungsi membentuk orientasi hidup jangka panjang. Saiful menekankan bahwa orang yang hanya berfokus pada kehidupan duniawi adalah mereka yang kehilangan visi masa depan.
Adapun karakter ketiga, yaitu memperbanyak zikir, menjadi sarana untuk menjaga kedekatan spiritual secara konstan. Saiful mengkritik kebiasaan sebagian umat yang hanya mendekat kepada Allah saat dilanda kesulitan.
“Dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, kita dianjurkan selalu mengingat Allah. Zikir menjadi sarana agar nilai-nilai kebaikan Rasulullah Saw. tetap hidup dan terwujud dalam perilaku nyata kita sehari-hari,” pungkasnya. (*/tim)
