Tidak ada tanda-tanda hujan, angin puting beliung, maupun sinyal bahwa es di Pegunungan Himalaya akan meleleh dan meluber memuntahkan cairan. Namun, secara spontan, alam di negara tersebut tidak bersahabat. Gunung es runtuh hingga memicu banjir bandang.
Sang Maha Berkehendak tampaknya murka dengan memporak-porandakan bangunan, gedung perkantoran, rumah, dan infrastruktur hingga hanyut berserakan.
Mengapa peristiwa ini terjadi? Dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuat? Untuk mengetahui penyebabnya, mari kita kenali terlebih dahulu kondisi negara Nepal.
Nepal adalah negara berbentuk republik federal yang terkurung daratan di Asia Selatan dengan ibu kota Kathmandu. Luas wilayahnya mencapai 147.516 km² dan terbagi menjadi tujuh provinsi, yaitu Koshi, Madhesh, Bagmati, Gandaki, Lumbini, Karnali, dan Sudurpashchim.
Mayoritas penduduk Nepal beragama Hindu (80%), Buddha (9%), Islam (4%), Kirat (3%), serta Kristen dan lainnya (2%). Saat ini, kepala negaranya adalah Ram Chandra Poudel dengan jumlah penduduk sekitar 29,63 juta jiwa.
Kembali ke pertanyaan utama: mengapa peristiwa mengerikan itu bisa terjadi? Pada awal Agustus 2026, sekelompok oknum ekstremis Hindu melakukan tindakan amoral. Mereka merusak tempat ibadah umat Islam (masjid), bahkan membakar salah satu permukiman Muslim hingga tak tersisa. Akibat perbuatan tersebut, banjir bandang yang sangat mengerikan kemudian melanda.
Lantas, apa pemicu perusakan dan pembakaran tempat ibadah serta kitab suci Al-Qur’an tersebut? Menurut berbagai sumber, terdapat beberapa faktor pemicu:
1.Provokasi Budaya dan Ego Sektarian
Kelompok radikal sengaja memutar musik keagamaan menggunakan sound system besar bervolume ekstrem di dekat rumah ibadah minoritas saat waktu salat berlangsung. Ketika kelompok minoritas menegur secara damai, teguran tersebut direspons dengan kekerasan dan pelemparan batu hingga berujung pembakaran.
2. Agenda Politik Radikal (Nasionalisme Hindu)
Meskipun Nepal secara konstitusi merupakan negara sekuler, terdapat gerakan dari kelompok sayap kanan seperti Hindu Samrat Sena dan Narayani Sena yang ingin mengembalikan Nepal menjadi negara Hindu.
3. Provokasi Melalui Media Sosial
Banyak kasus perusakan dipicu oleh unggahan video di platform media sosial seperti TikTok yang dianggap menghina sentimen keagamaan kelompok mayoritas. Hal ini dengan cepat menyulut emosi massa untuk membalas dendam.
4. Pengaruh Politik Ekstrem Lintas Batas
Menguatnya pengaruh kelompok sayap kanan dari negara tetangga turut meningkatkan polarisasi. Isu-isu keagamaan pun sengaja digoreng oleh aktor tertentu.
Lalu, bagaimana langkah pemerintah dalam menyikapi masalah ini? Ternyata, sebelum kerusuhan agama ini terjadi, beberapa bulan sebelumnya—tepatnya pada September 2025—telah terjadi gelombang demonstrasi besar-besaran oleh Generasi Z. Pemicu utamanya adalah kebijakan pemerintah yang memblokir puluhan platform media sosial, yang kemudian menyulut kemarahan rakyat atas kasus korupsi, nepotisme, dan kesulitan ekonomi.
Beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah Nepal untuk mengatasi situasi tersebut antara lain:
- Mencabut pemblokiran media sosial.
- Menerapkan jam malam nasional.
- Mengerahkan kekuatan militer penuh hingga membubarkan parlemen demi meredam kemarahan publik.
Dari peristiwa di atas, pelajaran yang dapat kita petik adalah pentingnya bagi kelompok minoritas untuk pandai membaca situasi—kapan harus menahan diri dan kapan harus berpendapat. Hal ini menjadi salah satu konsekuensi hidup di tengah lingkungan minoritas. Apalagi, situasi kerusuhan dan pembakaran tersebut berpotensi menjadi pemantik bentrokan susulan, terutama jika dikaitkan dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesabaran dalam menyikapi situasi yang kurang kondusif ini. Aamiin. (*)
