“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS.Al Baqarah 216)
Kisah Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Khidir Alaihissalam dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82 bukan sekadar kisah perjalanan mencari ilmu. Ia adalah pelajaran mendalam tentang keterbatasan manusia dalam memahami kehidupan. Nabi Musa adalah seorang nabi besar. Namun ketika Allah memberitahukan bahwa ada seorang hamba yang diberi ilmu khusus dari sisi-Nya, Musa bersedia menempuh perjalanan jauh untuk mencarinya. Seorang nabi yang mulia rela menjadi murid.
Di situlah pelajaran pertama dimulai: orang besar tidak menjadi kecil karena mau belajar. Justru kebesaran seseorang terlihat ketika ia mampu mengakui bahwa dirinya masih memiliki keterbatasan. Ketika bertemu Khidir, Musa meminta izin untuk mengikutinya. Khidir mengingatkan bahwa Musa harus bersabar dan tidak bertanya sebelum ia sendiri menjelaskan apa yang dilakukannya. Namun perjalanan itu segera menguji kesabarannya.
Pertama, Khidir melubangi perahu milik orang-orang miskin. Secara lahiriah, tindakan itu tampak merugikan. Tetapi kemudian dijelaskan bahwa ada raja zalim yang merampas setiap perahu yang masih bagus. Perahu itu sengaja dibuat cacat agar pemiliknya selamat dari perampasan. Manusia melihat kerusakan, sementara Allah mengetahui keselamatan yang tersembunyi di baliknya.
Kedua, Khidir membunuh seorang anak. Musa kembali memprotes karena tindakan itu tampak tidak adil. Namun Khidir menjelaskan bahwa Allah mengetahui anak tersebut kelak akan menyeret kedua orang tuanya yang beriman kepada kekufuran, lalu Allah hendak menggantinya dengan anak yang lebih baik. Di sini terlihat bahwa pengetahuan manusia berhenti pada apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang belum terjadi.
Ketiga, Khidir menegakkan kembali dinding sebuah rumah di desa yang penduduknya tidak mau menjamu mereka. Ia bahkan tidak meminta upah. Ternyata di bawah dinding itu tersimpan harta milik dua anak yatim dari seorang ayah yang saleh. Allah menghendaki harta itu tetap terlindungi hingga mereka dewasa. Apa yang tampak sebagai pekerjaan tanpa keuntungan ternyata menyimpan perlindungan bagi masa depan.
Tiga peristiwa itu menyampaikan pesan yang sama: manusia hanya melihat potongan peristiwa, sementara Allah mengetahui keseluruhannya. Kita sering menilai kehidupan hanya berdasarkan apa yang sedang terjadi. Kehilangan kita sebut musibah, kegagalan kita sebut kehancuran, dan pintu yang tertutup kita anggap akhir perjalanan. Padahal kita tidak pernah mengetahui seluruh cerita. Kita hanya melihat satu halaman, sementara Allah mengetahui seluruh buku.
Karena itu, ilmu semestinya tidak membuat manusia semakin sombong. Ilmu justru seharusnya membuatnya semakin tawaduk. Semakin banyak yang diketahui, semakin terasa luas wilayah yang belum diketahui. Kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa memahami hikmah membutuhkan kesabaran. Tidak semua jawaban datang bersamaan dengan peristiwa. Ada hal-hal yang baru kita pahami setelah waktu berjalan dan setelah hati mampu menerima apa yang sebelumnya sulit dimengerti.
Maka jangan terlalu cepat menghakimi perjalanan hidup. Apa yang hari ini tampak sebagai kehilangan, mungkin merupakan bentuk perlindungan yang belum kita pahami. Apa yang terasa sebagai kegagalan, mungkin sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik. Di atas orang yang berilmu, masih ada Yang Maha Mengetahui. Karena itu, puncak ilmu bukanlah ketika seseorang berkata, “Aku sudah tahu.”
Puncak ilmu adalah ketika seseorang mampu berkata dengan rendah hati: “Aku ternyata masih sangat sedikit mengetahui.” Sebab semakin dalam seseorang menyelami ilmu, semakin ia menyadari luasnya wilayah yang belum ia pahami.
Kisah Nabi Musa dan Khidir akhirnya mengajarkan satu sikap penting: belajarlah tanpa kesombongan, bersabarlah sebelum menghakimi, dan percayalah bahwa tidak semua hikmah harus langsung terlihat oleh mata manusia.*
Referensi
1. Al-Qur’an, Surah Al-Kahfi (18): 60–82. Kisah perjalanan Nabi Musa Alaihissalam bersama Nabi Khidir Alaihissalam dan pelajaran tentang keterbatasan ilmu manusia.
2. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 216. Penegasan bahwa manusia mungkin menyukai sesuatu yang buruk atau membenci sesuatu yang baik, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui.
3. Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Penjelasan tentang kisah Nabi Musa dan Khidir, hikmah perjalanan, serta adab menuntut ilmu.
