Din Syamsuddin: Kebahagiaan Hakiki Melalui Hasanah dan Sa’adah

Din Syamsuddin
www.majelistabligh.id -

Kebahagiaan hidup merupakan dambaan setiap manusia, terlebih bagi kaum beriman yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di akhirat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, M. Din Syamsuddin, dalam Kajian Ahad Pagi di Halaman Islamic Centre Madiun, Jawa Timur, Ahad (20/9/2026).

Dalam pemaparannya, Din membedah kebahagiaan dari sudut pandang bahasa dan keislaman. Secara etimologi, kebahagiaan identik dengan istilah as-sa’adah. Orang yang berbahagia disebut sa’id untuk laki-laki dan sa’idah untuk perempuan. Selain itu, al-Qur’an juga mengenalkan istilah al-fauz dan al-falah, yang bermakna kemenangan sekaligus kebahagiaan.

Menurut Din, kebahagiaan hidup harus dijadikan sebagai tujuan utama. Istilah populer yang merangkum tujuan hidup tersebut dalam Al-Qur’an adalah hasanah (kebaikan), sebagaimana tertera dalam QS. Al-Baqarah ayat 201 melalui doa sapu jagat.

“Hasanah merujuk pada jalan atau perbuatan kebaikan, sedangkan as-sa’adah adalah hasil atau dampak dari kebaikan tersebut. Jadi, hasanah adalah sebab, dan sa’adah adalah akibatnya,” ujar Din.

Ia menambahkan, al-Qur’an juga menegaskan bahwa orang beriman yang beramal saleh akan dianugerahi kehidupan yang baik (hayatan thayyibah), sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an. Ketiga variabel ini—hasanah, sa’adah, dan thayyibah—menjadi landasan dan cita-cita hidup setiap Muslim.

Lebih lanjut, Din menjelaskan bahwa pencapaian hasanah tercermin secara komprehensif dalam doa memohon keselamatan dunia dan akhirat. Makna hasanah terbagi menjadi dua klasifikasi utama:

  1. Hasanah fid-dunya (Kebahagiaan Dunia): Manifestasinya meliputi keselamatan dalam beragama, kesehatan jasmani, bertambahnya ilmu, serta keberkahan rezeki.
  2. Hasanah fil-akhirah (Kebaikan Akhirat): Manifestasinya berupa penerimaan tobato sebelum maut, rahmah saat menghadapi sakaratul maut, dan ampunan (maghfirah) dari Allah setelah kematian.

“Melalui pencapaian hasanah fid-dunya wal-akhirah, seseorang akan meraih as-sa’adah atau sa’adatud-darain—kebahagiaan di dua alam, yakni dunia dan akhirat. Inilah yang sepatutnya menjadi cita-cita tertinggi kita,” pungkas Din. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search