Sejak awal berdiri, Muhammadiyah diterpa berbagai bujukan agar beralih menjadi gerakan politik praktis. Namun, sang pendiri, KH Ahmad Dahlan, bergeming dan memilih menjaga organisasi ini tetap berada di jalur sosial keagamaan.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, mengungkapkan bahwa rayuan agar Muhammadiyah masuk ke ranah politik praktis sudah ada sejak era kolonial.
“Entah sudah berapa kali Kiai Dahlan dibujuk untuk menjadi gerakan politik—yang saat itu lebih dikenal sebagai gerakan kebangsaan,” ujar Dahlan Rais, Selasa (15/9/2026).
Menurut Dahlan Rais, konsistensi ini menjadi rahasia utama mengapa Muhammadiyah mampu melintasi zaman hingga berusia lebih dari satu abad. Meski demikian, Muhammadiyah tidak menutup ruang bagi kader potensial yang ingin berpolitik, selama tidak menduakan organisasi atau menjadikannya alat demi keuntungan pribadi.
Sikap nonpolitik praktis ini buktinya tidak menyurutkan kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. Muhammadiyah mencatatkan sejarah sebagai organisasi bumiputra pertama yang mendirikan rumah sakit—meski gagasan awal Kiai Sudja tersebut sempat ditertawakan.
Berlandaskan nilai kepedulian Al-Qur’an, pelayanan kesehatan Muhammadiyah sejak awal bersifat inklusif untuk seluruh masyarakat. Dahlan Rais menceritakan, dokter pertama yang melayani di rumah sakit Muhammadiyah bahkan berasal dari Belanda.
“Kerja sama kemanusiaan kita memang sudah dirintis sejak dulu,” tegasnya.
Selain kesehatan, cikal bakal perguruan tinggi—yang kala itu digagas Kiai Hisyam dengan istilah universited—juga telah dirancang jauh sebelum kemerdekaan.
Kini, di usianya yang menginjak 114 tahun, Muhammadiyah membuktikan konsistensinya melayani umat melalui jalur pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi tanpa harus berganti baju menjadi partai politik. (*/tim)
