Wakil Ketua PWM Jawa Timur sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Hidayatulloh, M.Si. menggugah kesadaran para mubaligh muda Muhammadiyah, bahwa memilih Muhammadiyah adalah memilih jalan perjuangan.
“Tidak ada yang memaksa kita untuk masuk di Muhammadiyah. Tetapi, ketika kita sudah bergabung, kita dituntut untuk memahami dan menjalankan nilai-nilai serta aturan di Muhammadiyah,” tegas Dr. Hidayatulloh, saat memberikan materi dalam acara Upgrading Mubaligh II Muhammadiyah Muda, di Hotel dan Resort Arayana, Trawas, Jumat (26/6/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan sebuah konsekuensi logis, bahwa memilih Muhammadiyah berarti siap mewakafkan diri sebagai juru dakwah yang mencerahkan umat, bukan justru menjadi beban bagi persyarikatan.
Agar gerakan dakwah memiliki fondasi yang kokoh, Dr. Hidayatulloh membedah materi secara sistematis dengan pendekatan akademis. Ia mengupas tuntas mulai dari definisi, hakikat, hingga rumusan ideologi Muhammadiyah.
Ia juga menekankan pentingnya internalisasi Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), termasuk tujuh sifat mulia di dalamnya, sebagai kompas moral dalam kehidupan sehari-hari maupun bermasyarakat.
Empat Peran Strategis Mubaligh Muda
Menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, Dr. Hidayatulloh menitipkan empat peran utama yang harus dipikul oleh generasi muda Muhammadiyah saat ini:
- Pionir Dakwah Digital: Mubaligh muda tidak boleh gagap teknologi. Mereka harus menguasai ruang digital dan aktif melahirkan konten-konten dakwah yang kreatif.
- Humanis dan Inklusif: Dakwah harus disampaikan dengan wajah yang ramah, merangkul, memanusiakan manusia, serta terbuka bagi semua kalangan.
- Penggerak Dakwah Komunitas: Mampu melebur dan menjadi motor penggerak kebaikan di berbagai basis komunitas riil di masyarakat.
- Agen Tajdid (Pembaharu): Menjadi pembawa angin segar perubahan dan pemikiran maju yang membawa maslahat bagi umat.
Melalui penekanan pada aspek humanis dan transformasi digital, Dr. Hidayatulloh mengingatkan bahwa wajah dakwah Muhammadiyah masa kini harus tampil lebih membumi namun tetap visioner.
Meskipun tantangan zaman telah bergeser dari mimbar konvensional menuju layar gawai, ketulusan seorang mubaligh dalam menuntun umat tetap menjadi kunci utama. Melalui pelatihan ini, para mubaligh muda Brondong diharapkan pulang membawa api gairah baru serta kesadaran bahwa masa depan dakwah Islam yang berkemajuan ada di tangan mereka. || Ma’in
