Selama ini pembangunan hampir selalu dipahami sebagai pembangunan ekonomi, pembangunan infrastruktur, pembangunan industri, pembangunan teknologi, atau pembangunan kelembagaan. Padahal semua pembangunan itu hanyalah hasil akhir. Ada satu pembangunan yang jauh lebih mendasar, tetapi sering terlupakan, yaitu pembangunan Sumber Daya Insani (SDI).
Mengapa?
Karena manusialah satu-satunya makhluk yang sekaligus menjadi objek pembangunan dan subjek pembangunan.
Manusia adalah objek pembangunan karena kualitas dirinya harus terus ditingkatkan. Ilmu, akhlak, keterampilan, kepemimpinan, produktivitas, dan integritasnya harus dibentuk sepanjang hayat.
Namun pada saat yang sama, manusia juga menjadi subjek pembangunan. Dialah yang merancang kebijakan, membangun institusi, mengembangkan teknologi, mengelola sumber daya alam, menggerakkan ekonomi, menegakkan hukum, dan menentukan arah sebuah peradaban.
Dengan kata lain, kualitas seluruh pembangunan pada akhirnya merupakan cerminan kualitas sumber daya insani yang membangunnya.
Karena itu, membangun bangsa sesungguhnya adalah membangun manusianya.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Bagaimana membangun sumber daya insani yang utuh?
Di sinilah Al-Qur’an menawarkan sesuatu yang tidak dimulai dari ekonomi, politik, ataupun teknologi.
Al-Qur’an memulai semuanya dari epistemologi.
Wahyu pertama tidak berbunyi:
“Bangunlah pasar.”
Tidak pula:
“Dirikanlah negara.”
Atau:
“Kembangkanlah teknologi.”
Allah justru berfirman:
> اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.”
Inilah revolusi terbesar dalam sejarah pembangunan manusia.
Al-Qur’an mengubah manusia bukan dengan memaksa perilakunya terlebih dahulu, tetapi dengan membangun cara berpikirnya.
Cara membaca menentukan cara berpikir.
Cara berpikir menentukan cara memandang kehidupan.
Cara memandang kehidupan menentukan keputusan.
Keputusan menentukan tindakan.
Tindakan membentuk karakter.
Karakter melahirkan budaya.
Budaya melahirkan peradaban.
Karena itu, akar pembangunan bukanlah ekonomi.
Akar pembangunan bukanlah politik.
Akar pembangunan bukanlah teknologi.
Akar pembangunan adalah epistemologi.
Maka dalam perspektif Seri Epistemologi Qurani, pembangunan sumber daya insani dimulai dari revolusi epistemologi, yaitu mengembalikan cara manusia membaca alam, membaca ilmu, membaca dirinya, dan membaca kehidupan berdasarkan Iqra’ bismi rabbik.
Dari epistemologi inilah lahir insan yang bertauhid, berilmu, berintegritas, produktif, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Insan seperti inilah yang kemudian membangun keluarga yang kuat, masyarakat yang sehat, ekonomi yang adil, teknologi yang memuliakan manusia, dan negara yang menghadirkan kesejahteraan.
Dengan demikian, Epistemologi Qurani bukan sekadar teori tentang ilmu. Ia adalah mesin utama pembangunan sumber daya insani.
Dan ketika sumber daya insani berubah, seluruh bangunan peradaban ikut berubah.
Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang perubahan spiritual, tetapi juga menunjukkan hukum perubahan peradaban: perubahan bangsa selalu dimulai dari perubahan manusia.
Karena itu, jika Indonesia ingin keluar dari middle-income trap, mewujudkan maqāṣid syariah, dan mencapai cita-cita baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr, maka revolusi yang paling mendesak bukan hanya reformasi ekonomi, politik, atau birokrasi.
Revolusi yang paling mendasar adalah revolusi pembangunan Sumber Daya Insani melalui Epistemologi Qurani.
“Epistemologi Qurani bukan sekadar cara memperoleh ilmu, tetapi cetak biru (blueprint) pembangunan Sumber Daya Insani. Dari sanalah seluruh peradaban Islam bermula.”(*)
