Ada zaman ketika ilmu dimulai dengan menundukkan kepala. Kini, sebagian orang merasa ilmu dimulai dengan mengangkat suara.
Seorang murid bisa membaca banyak buku, mengutip banyak ulama, menguasai teknologi, bahkan merasa lebih pintar daripada gurunya.
Tetapi ada sesuatu yang mungkin hilang di tengah semua itu: adab.
Abuya Al-Maliki mengingatkan keras tentang murid yang tidak menghormati gurunya, bahkan ketika sang guru adalah temannya.
Imam Nawawi pun menekankan bahwa seorang penuntut ilmu seyogianya merendahkan diri dan beradab kepada gurunya.
Bukan karena guru selalu benar, melainkan karena ilmu tidak tumbuh subur di dalam hati yang dipenuhi kesombongan.
Hari ini, penyakit itu mempunyai wajah baru.
Guru dikritik bukan karena ilmunya keliru, tetapi karena tidak sesuai selera. Nasihat dianggap serangan. Teguran disebut penghinaan. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.
Di media sosial, seorang murid bahkan dapat menghakimi gurunya hanya dengan beberapa kalimat, lalu merasa telah memenangkan perdebatan.
Kita hidup dalam zaman ketika jumlah pengikut sering dianggap lebih penting daripada kedalaman ilmu.
Yang viral dianggap benar. Yang banyak disukai dianggap alim. Yang memiliki panggung besar dianggap lebih berilmu.
Padahal algoritma tidak pernah menjadi ukuran kebenaran.
Tetapi penghormatan kepada guru juga jangan berubah menjadi kultus.
Guru bukan manusia tanpa salah. Murid tidak diwajibkan mengikuti kesalahan. Menghormati guru bukan berarti membungkam akal. Justru adab membuat kritik tetap manusiawi: berbeda tanpa menghina, bertanya tanpa merendahkan, dan mengoreksi tanpa kehilangan hormat.
Sebab hubungan guru dan murid bukan hubungan antara manusia sempurna dan manusia bodoh. Keduanya sama-sama manusia.
Guru memiliki amanah ilmu; murid memiliki amanah adab.
Yang mengkhawatirkan bukan sekadar ketika murid membantah guru.
Yang lebih berbahaya adalah ketika murid kehilangan rasa hormat kepada ilmu itu sendiri.
Ia merasa sudah tahu hanya karena membaca potongan-potongan kutipan. Merasa sudah alim karena mampu mencari jawaban di mesin pencari. Merasa lebih benar karena memiliki ribuan pengikut.
Padahal ilmu sejati justru membuat manusia semakin rendah hati.
Imam Haddad mengingatkan tentang bahayanya perubahan hati seorang guru terhadap muridnya. Pesan itu dapat dibaca sebagai peringatan moral: jangan mudah menyakiti orang yang telah mengajarkan ilmu, sebab luka dalam hubungan pendidikan tidak selalu terlihat, tetapi dapat membekas panjang.
Namun guru pun harus bercermin.
Jangan menuntut murid merendah sementara guru sendiri gemar merendahkan.
Jangan menuntut penghormatan sambil menggunakan ilmu sebagai alat kekuasaan.
Jangan menjadikan posisi sebagai guru sebagai alasan untuk kebal dari kritik.
Adab bukan tangga bagi guru untuk berdiri lebih tinggi daripada murid.
Adab adalah jembatan agar keduanya tidak saling menjatuhkan.
Sebab pada akhirnya, ilmu yang tidak melahirkan adab hanya akan melahirkan kesombongan yang lebih canggih.
Dan mungkin itulah tragedi pendidikan kita hari ini: kita semakin banyak mengajarkan cara menjadi pintar, tetapi semakin sedikit mengajarkan cara menjadi manusia.
Jakarta, 12 Agustus 2026
#BuyaDarwis
