Kekayaan dan Kekuasaan: Perusak Tatanan Sosial

Kekayaan dan Kekuasaan : Perusak Tatanan Sosial
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Ketika manusia mendapatkan anugerah, entah kekayaan atau kekuasaan, seringkali berperilaku melampaui batas hingga merusak tatanan sosial. Di balik perlawanan terhadap kebenaran, yang dibawa para nabi dan rasul, terdapat orang-orang yang kaya dan pemegang kekuasaan.

Salah satu cuplikan kisah dalam surat Al-Kahfi merupakan contoh bagaimana manusia kaya meremehkan temannya yang miskin. Namun kesombongan itu berakhir dengan bencana yang menghancurkan kebunnya. Manusia dengan kekuasaan juga demikian, dimana mereka berlaku sewenang-wenang dan memutuskan hubungan kekerabatan juga banyak terjadi. Kekuasaan yang melekat melahirkan sikap arogan dan menentang kebenaran hingga merusak tata kelola bernegara.

Anugerah Kekayaan

Manusia yang mendapatkan anugerah berupa kekayaan pada umumnya muncul rasa bangga dan menonjolkan kepintaran dirinya. Tanpa menyadari sebagai anugerah besar yang harus dengan merendahkan diri dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangannya. Namun yang muncul berupa kesombongan yang menghinakan orang lain yang tidak memiliki anugerah seperti dirinya.

Al-Qur’an merekam jejak perilaku sombong mereka yang memiliki kekayaan berupa kebun luas, yang tak pernah berhenti berbuah. Alih-alih rendah hati, anugerah ini justru melahirkan sikap sombong dan meremehkan orang lain. Teman yang diajak menengok kebunnya direndahkan, dan dijadikan bahan olok-olok. Allah merekam sikap sombong sang pemilik anugerah itu sebagaimana firman-Nya

وَّكَانَ لَهٗ ثَمَرٌۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَنَا۠ اَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا
Artinya :
Dia (orang kafir itu) juga memiliki kekayaan besar. Dia lalu berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengannya, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (Qs. Al-Kahfi : 34)

Membanggakan banyak harta dan pengikut yang banyak dipertontonkan pada temannya yang kebetulan bersahaja meskipun tak memiliki apa-apa kecuali iman yang kokoh. Kekokohan iman itulah yang berhasil mengesampingkan hinaan pada dirinya. Dia hanya bisa menasehati temannya yang angkuh tanpa bisa mengubah sikap sombongnya. Namun Allah memiliki rencana terbaik, dengan mentakdirkan kemusnahan hasil kebun itu, hingga sang pemilik menyadari akan kesalahannya.

Pada kisah yang lain, Al-Qur’an mengabadikan sebuah gambaran manusia yang memiliki kekuasaan, dan melakukan kerusakan besar. Perilakunya melampaui batas hingga berbuat kerusakan dan memutuskan tali kerabat. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ۝٢٢
Artinya :
Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? (QS. Muhammad : 22)

Dengan kekayaan yang dimiliki, keluarganya tak pernah dapat cipratan. Demikian pula, orang-orang miskin dan mereka yang hidup dalam keterbatasan tak pernah tersentuh kenikmatan hartanya. Bahkan tidak jarang, kita mendapati perilakunya menyakitkan karena anugerah kekayaannya dihabiskan berfoya-foya dengan teman dan koleganya tanpa peduli dengan masyarakatnya yang butuh kepedulian sosialnya.

Penentang Kebenaran
Ketika kekayaan sudah melekat dalam diri seorang yang tidak memiliki empati yang kokoh, maka yang muncul berupa perilaku yang merusak tatanan sosial. Dikatakan merusak tatanan sosial dan melampaui batas karena hasratnyaa sulit dikendalikan.
Rezeki yang didapatkan tidak disadari sebagai anugerah Sang Pemilik langit dan bumi, Allah, sehingga melahirkan sikap ujub yang melebihi batas. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ۝
Artinya :
Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Mahateliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (QS. Syuro :27)

Anugerah besar berupa rezeki yang luas bukannya melahirkan sikap berterima kasih kepada Yang Maha Muasa, dan berbagi kebaikan kepada orang lain, tetapi justru muncul rasa angkuh dan ketidaknyamanan bagi orang lain. Al-Qur’an memaparkan bahwa para penentang kebenaran dimotori oleh mereka yang memiliki kekayaan yang banyak dan kekuasaan yang mapan.

Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ ِالَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآۙ اِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ ۝٣٤
Artinya :
Tidaklah Kami utus pemberi peringatan ke suatu negeri, kecuali orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Sesungguhnya kami ingkar pada kerasulanmu.”

Kejahatan terbesar yang dilakukan manusia yang mendapatkan anugerah besar, berupa kekayaan dan kekuasaan, ketika menentang risalah yang dibawa oleh para pembawa nilai-nilai kebenaran. Mereka hidup dalam kemewahan dan rasa peduli yang rendah pada mereka yang mengalami penderitaan dan kesusahan ekonomi.

Hilangnya empati sosial ini pada akhirnya melahirkan sikap sombong. Sikap sombong itu menutup celah atas nasehat kebaikan yang tertuju pada dirinya. Oleh karenanya, ketika datang peringatan untuk dirinya, langsung muncul rasa ingkar untuk melawannya.

Fir’aun merupakan contoh manusia yang melampaui batas, dan merusak tatanan sosial. Kekayaan dan kekuasaan yang kokoh melahirkan sikap sombong dan menentang risalah yang dibawa Nabi Musa. Fir’aun pun mendeklarasikan “ketuhanannya” ketika berada pada puncak kejayaannya.

Melihat hal itu, Allah tidak tinggal diam dan menenggelamkannya dan mengabadikan jasadnya hingga saat ini. Hal ini sebagai bentuk peringatan pada manusia di manapun dan kapan pun agar mendapatkan Pelajaran berharga. Anugerah yang diperoleh bukan menghinakan dirinya tetapi mampu melahirkan penghambaan kepada Sang Pemilik kekayaan yang hakiki.

Surabaya, 11 Agustus 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search