Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan secara resmi memberangkatkan Tim Respon Disaster Medical Committee (DMC) untuk membantu penanganan kesehatan korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (18/8/2026). Upacara seremonial pelepasan yang dilangsungkan dengan khidmat ini dihadiri langsung oleh jajaran Direksi RSML dan pengurus DMC.
Hadir dalam pelepasan tersebut Wakil Direktur Administrasi, SDI dan AIK, Rachmat Ardiyanzah Pua Geno, S.KM., M.Kes., dan Wakil Direktur Medis, dr. Orizanov Mahisa, MSc., Sp.An-TI., Subs.TI.
Keberangkatan tim medis RSM Lamongan merupakan tindak lanjut dari instruksi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) untuk mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur untuk segera menyiagakan tim medis darurat.
Instruksi ini diperkuat melalui terbitnya surat dari LRB PP Muhammadiyah Nomor: 699/I.18/D/2026 tertanggal 15 Agustus 2026 mengenai kesiapan Emergency Medical Team (EMT) untuk NTT. Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jawa Timur langsung menggelar koordinasi internal pada 17 Agustus 2026. Hasilnya, sebuah surat tugas resmi diterbitkan untuk menunjuk Direktur RS Muhammadiyah Lamongan (RSML) agar menerjunkan tim respon medis ke zona bencana.
Adapun enam tenaga tangguh yang tergabung dalam Tim Respon DMC RSML untuk kloter awal ini meliputi:
dr. Muhammad Ivanda Dewantara (Ketua)
M. Sony Irda Nofina, S.Kep., Ners. (Bendahara)
Agus Yulianto, S.Kep., Ners. (Logistik Medis)
M. Rizal, Amd. Kep (Logistik Non-Medis)
Yusuf Efendi (Administrasi)
Nur Kholis (Media dan Pelaporan)
Dalam sambutannya, Rachmat Ardiyanzah Pua Geno memaparkan rute dan jadwal penugasan tim. Ia menyebutkan bahwa para relawan akan menghabiskan waktu lebih dari sepekan di episentrum pengungsian.
“Tim respon ini akan bertugas hingga 29 Agustus 2026. Tim akan berangkat nanti malam melalui transportasi udara dan dilanjutkan melalui jalur darat, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi geografis di sana. Setibanya di lokasi, tim respon akan langsung berpusat menuju Klinik Muhammadiyah Ende yang saat ini telah ditetapkan sebagai Posko Tanggap Darurat Muhammadiyah bagi korban gempa NTT,” ungkap Rachmat.
Kesiapan amunisi dan peralatan juga dipastikan dalam kondisi optimal. dr. Orizanov Mahisa selaku Wakil Direktur Medis RSML menegaskan bahwa perbekalan yang dibawa sudah disesuaikan dengan asesmen kebutuhan mendesak para korban.
“Tim Respon ini dibekali berbagai kebutuhan logistik medis berupa obat-obatan vital, dan juga kebutuhan logistik non-medis yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi para korban bencana gempa bumi,” terang dr. Orizanov.
Sebagai penutup acara pelepasan, suntikan moral dan instruksi taktis diberikan oleh Ketua DMC RS Muhammadiyah Lamongan, Suprayetno, S.Kep., Ners. Kepada seluruh anggota tim yang akan berangkat, ia mengingatkan tentang medan operasi yang tidak bisa diprediksi.
“Kondisi dan situasi di lokasi bencana itu dinamis dan selalu berubah. Tetap waspada dan kompak sebagai sebuah tim respon. Berikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat yang terdampak,” pesannya dengan tegas.
Diketahui, bencana gempa bumi tektonik 7.7 skala richter yang mengguncang wilayah Flores NTT telah memicu krisis kemanusiaan yang membutuhkan penanganan. Ratusan bangunan infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat akibat gempa bermagnitudo besar yang berpusat di wilayah daratan. Keterbatasan pasokan medis dan tenaga kesehatan menjadi salah satu tantangan terbesar di lapangan pasca-guncangan. (bagus pribadi)
