Pengulangan kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam Surah Al-Fatihah bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan penegasan atas luasnya kasih sayang Allah Swt yang memiliki cakupan serta dimensi berbeda bagi seluruh makhluk-Nya.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, dalam pengajian di stasiun TVMu. Ia menekankan pentingnya umat Islam memahami makna mendalam dari kedua nama indah (Al-Asmaul Husna) tersebut, yang hadir dalam basmalah dan kembali diulang setelah ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Dalam bahasa Indonesia, Ar-Rahman dan Ar-Rahim umumnya diterjemahkan sebagai “Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Namun, Kiai Saad menilai padanan tersebut belum sepenuhnya mampu mewakili kedalaman serta keluasan makna asli bahasa Arab.
“Bahasa Arab memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa. Oleh karena itu, penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa lain sering kali mengalami penyempitan makna. Seluruh terjemahan dalam bahasa apa pun harus dipahami sebagai tafsir atau terjemahan Al-Qur’an, bukan teks Al-Qur’an itu sendiri,” tegas Saad.
Ar-Rahman: Rahmat Universal di Dunia
Saad menjelaskan bahwa Ar-Rahman mencerminkan sifat rahmat Allah yang bersifat universal dan melingkupi seluruh ciptaan selama hidup di dunia—baik mereka yang beriman maupun tidak.
Gambaran rahmat ini dapat dilihat dari fenomena paling sederhana di alam, seperti naluri induk ayam yang berhati-hati melangkah agar tidak menginjak anak-anaknya yang baru menetas. Sifat Ar-Rahman juga mewujud pada nikmat tubuh, detak jantung, hingga udara yang dihirup manusia setiap detik.
“Rahmat Allah di dunia begitu melimpah hingga tak seorang pun mampu menghitungnya, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ibrahim ayat 34,” jelasnya. Karena kesucian makna Ar-Rahman yang merujuk langsung pada zat Allah, nama ini tidak diperkenankan dipakai langsung oleh manusia, melainkan harus menggunakan perantara seperti Abdurrahman (Hamba dari Ar-Rahman).
Ar-Rahim: Rahmat Khusus Bagi Orang Beriman
Berbeda dengan Ar-Rahman, kata Ar-Rahim memiliki cakupan yang lebih spesifik dan berorientasi pada kehidupan akhirat. Kiai Saad mengibaratkan rahmat Allah di dunia hanya sebesar satu persen, sementara 99 persen sisanya disiapkan untuk kehidupan setelah kematian.
Rahmat Ar-Rahim diperuntukkan khusus bagi orang-orang beriman dalam bentuk ampunan, kenikmatan surga, perlindungan dari api neraka, hingga kesempatan tertinggi: menatap Wajah Allah SWT.
Ia menggambarkan, dahsyatnya kenikmatan surga akan membuat seseorang lupa akan seluruh penderitaan yang pernah dialaminya di dunia. Sebaliknya, azab akhirat yang pedih akan menghapuskan seluruh ingatan tentang kebahagiaan semu di dunia bagi mereka yang ingkar.
Mengakhiri pemaparannya, Kiai Saad mengajak umat Islam untuk senantiasa mensyukuri nikmat iman dan merawatnya melalui amal saleh serta istigfar. (*/tim)
